Talim atau Amaq Eva (37), salah satu warga Kampung Adat Desa Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menceritakan detik-detik kebakaran yang melanda tempat tinggalnya, pada Sabtu (22/8/2026) malam. Insiden tersebut menyebabkan 75 unit rumah warga hangus hingga rata dengan tanah.
Selain 75 unit rumah, pendataan sementara mencatat kebakaran turut berdampak pada satu masjid, empat berugak sekenam besar, enam berugak sekepat, 69 artshop, satu Bale Beleq, dua toilet umum wisatawan, gerbang Kampung Adat Desa Sade, serta sejumlah fasilitas lainnya.
"Malam itu saya lagi tidur. Tiba-tiba kaget dibangunin kalau ada kebakaran," kata Talim kepada detikBali, Rabu (26/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan kebakaran itu terjadi sekitar pukul 21.45 Wita dari sebuah dapur milik salah satu warga. Api dengan cepat melalap bangunan karena struktur rumah berasal dari ilalang dan pagar anyaman bambu.
"Dari rumah yang di tengah itu terus ke masjid. Baru menyebar ke mana-mana," ujarnya.
Pria yang berprofesi sebagai pemandu wisata itu mengaku sangat kaget melihat api yang begitu cepat melalap seluruh rumah. Api baru bisa benar-benar dipadamkan sekitar pukul 04.00 Wita.
"Apinya besar, mungkin karena angin juga ya. Sampai ATM di seberang jalan juga terkena," imbuhnya.
Talim bersyukur dalam insiden itu tak ada korban jiwa. Namun, kerugian materi seluruh warga mencapai miliaran rupiah. "Wah banyak ya. Karena di dalam rumah itu ada tenun, alat menenun, belum lagi padi, beras dan juga uang tunai," tegasnya.
Sejarah Desa Sade
Desa Sade adalah desa adat atau dusun budaya tradisional dari Suku Sasak yang terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Desa in dikenal luas sebagai destinasi wisata budaya karena warganya menjaga keaslian tradisi.
"Kampung kami ini kan salah satu dari desa adat yang masih bertahan dan masih mempertahankan keaslian bangunan peninggalan dari leluhur kami," katanya.
Talim menjelaskan, Desa Adat Sade ini telah berdiri selama 15 generasi. Total rumah yang ada di sana itu berjumlah 150 unit. Namun, bangunan yang menggunakan ilalang dan pagar itu sebanyak 80 unit.
"Tapi sekarang kan sudah habis semua. Dan semoga dibuat ulang," katanya.
Ia menjelaskan, bertahannya Desa Adat Sade ini karena kekompakan warga. Talim menyebut, jumlah rumah itu tidak bisa bertambah karena warga lebih memilih membangun ulang di luar demi menjaga kulturnya.
"Kalau untuk rumah ini memang setiap 7 tahun sekali diperbaiki. Dan kalau penambahan rumah kita buat di luar di sawah-sawah. Yang mewarisi rumah itu anak laki-laki yang bungsu," tuturnya.
Ia pun berharap rumah mereka segera dibangun ulang agar masyarakat bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Talim mengatakan, Desa Adat Sade bukan hanya tempat tinggal, tetapi sudah menjadi etalase perekonomian.
"Kalau seandainya direvitalisasi ulang harus tetap sama. Karena ini adalah bentuk bangunan itu sudah peninggalan," tegasnya.
Bukan Kejadian Pertama
Talim menyampaikan bahwa, kebakaran kali ini bukanlah yang pertama kali. Ia menyebut, kejadian serupa juga pernah terjadi beberapa tahun yang lalu tetapi tak separah ini.
"Pernah ada sebelumnya tapi nggak separah ini. Habis semua kan kalau sekarang," tegasnya.
Kebakaran ini menuai luka yang mendalam bagi masyarakat Sade. Ia menyebut, selain membakar tempat tinggal, tetapi juga hampir membakar sejarah yang telah dibangun ratusan tahun yang lalu.
"Semoga cepet dibangun lah ya," katanya.
Talim menyebut, seluruh warga saat ini telah bersepakat untuk mempertahankan desain bangunan sebelumnya. Sementara itu, pihaknya memilih tak ikut campur ihwal keamanan ke depan, ia mengaku percaya dengan pemerintah akan memberikan yang terbaik bagi warga.
"Kalau itu nanti kita serahkan ke pemerintah bagaimana keamanannya," pungkasnya.
(hsa/hsa)