detikBali

Desa Adat Sade Terbakar, Wisata Lesu hingga Warga Buka Donasi

Terpopuler Koleksi Pilihan

Desa Adat Sade Terbakar, Wisata Lesu hingga Warga Buka Donasi


Edi Suryansyah, Ahmad Viqi - detikBali

Sejumlah spanduk dipasang di sejumlah titik pada bagian dinding sisa rumah warga yang terbakar di Kampung Adat Desa Sade, Lombok Tengah, NTB.
Sejumlah spanduk dipasang di sejumlah titik pada bagian dinding sisa rumah warga yang terbakar di Kampung Adat Desa Sade, Lombok Tengah, NTB. (Foto: Edi Suryansyah/detikBali)
Lombok Tengahl -

Desa Adat Sade, Lombok Tengah, NTB, kini tak lagi seramai biasanya setelah 75 rumah warga ludes terbakar. Anjloknya kunjungan wisatawan ikut memukul ekonomi warga yang sepenuhnya bergantung pada sektor pariwisata.

Lima hari setelah kebakaran, sejumlah titik di Kampung Adat Desa Sade masih menyisakan reruntuhan rumah. Warga kemudian memasang spanduk ajakan donasi untuk mempercepat pemulihan.

Pantauan detikBali, Kamis (27/8/2026) siang, spanduk donasi terlihat ditempel di sejumlah titik pada sisa dinding rumah yang terbakar. Pemasangan itu dilakukan bersamaan dengan kedatangan Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Spanduk tersebut bertuliskan "We stand firmly by our culture and traditions, as we always have. JOIN US IN REBUILDING WHAT WE ARE PROUD TO CALL HOME. SCAN TO DONATE AND HELP US RISE AGAIN".

ADVERTISEMENT

Warga juga mencantumkan nomor rekening khusus atas nama Sade Rebound. Selain rekening, warga menyediakan QRIS bagi pengunjung yang ingin memberikan donasi secara non-tunai.

Salah satu warga, Tolib, mengatakan spanduk tersebut sengaja dipasang untuk mempermudah masyarakat yang ingin membantu warga terdampak kebakaran. Foto Desa Sade sebelum terbakar juga dicantumkan sebagai pengingat kondisi kampung adat tersebut.

"Itu memang sengaja kami pasang tadi pagi untuk melihat gambar sebelum terjadi peristiwa kebakaran itu," katanya kepada awak media, Kamis sore.

Menurut Tolib, pascakebakaran, Kampung Adat Desa Sade justru ramai dikunjungi masyarakat. Namun, sebagian pengunjung yang ingin membantu tidak membawa uang tunai.

"Nah jadi kalau nomor rekening itu nanti untuk donatur. Ketika nanti ada yang mau menyumbang maka menggunakan QRS maupun rekening," ujarnya.

Tolib memastikan rekening tersebut bukan untuk kepentingan pribadi. Pengelolaannya dilakukan bersama pemerintah dusun dan desa.

"Itu dilakukan satu pintu, dikoordinir oleh desa dan dusun," imbuhnya.

Ia juga menegaskan pemasangan spanduk donasi bukan untuk menjadikan Desa Sade sebagai destinasi wisata bencana. Warga siap mencopot spanduk tersebut jika memang tidak diperbolehkan.

"Kalau ada kekhawatiran dari elemen yang ada kami akan copot. Tapi karena ibu Menteri dateng, sehingga kami memasang bahwa kami memiliki gambaran sebelum kampung ini terbakar. Walaupun sudah datang sebelumnya," pungkasnya.

Turis Anjlok, Ekonomi Warga Terpukul

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Rembitan, Sanah Ardinata, mengatakan sebelum kebakaran kunjungan turis asing ke Desa Adat Sade bisa mencapai 250 orang per hari. Kini suasana kampung jauh berbeda.

"Kita tidak pernah menyangka hari ini akan sepi. Tinggal abu dari alang-alang dan kayu," kata Sanah, Sabtu malam (22/8/2026).

Sanah mengenang kebakaran yang meludeskan 75 rumah warga. Api disebut begitu cepat membesar dan melahap rumah-rumah warga dalam waktu sekitar 40 menit.

"Lari-lari. Api sudah mulai membakar semua," kata Sanah menirukan suara warga saat kejadian.

Kebakaran tak hanya menghanguskan rumah warga. Ikon pohon cinta yang berada di tengah permukiman juga berubah menjadi arang.

"Sebelum terbakar, kunjungan turis asing (bule) bisa mencapai 250 orang per hari. Sekarang lihat sendiri," tuturnya.

Sebelum kebakaran, wisatawan bebas datang tanpa batas kuota. Kunjungan bahkan meningkat saat MotoGP atau high season.

"Kalau wisatawan domestik sekitar 500 orang sehari. Bahkan kalau sedang ada event MotoGP atau high season, turis asing yang datang pakai motor sendiri bisa mencapai 300 orang sehari, dan domestik bisa tembus hingga 1.000 kunjungan dalam sehari," kenang Sanah.

Anjloknya kunjungan wisatawan membuat 69 art shop ikut terdampak. Warga yang menggantungkan penghasilan dari penjualan suvenir dan kain tenun kini kehilangan sumber pemasukan.

"Perputaran ekonomi satu art shop itu sebulan lumayan. Ada yang bisa dapat keuntungan bersih Rp 1 juta per hari, walau ada juga yang dapat Rp100 ribu per hari, memang tidak merata. Tapi kalau diambil rata-rata keuntungan bersih sekitar Rp 250 ribu per hari dari 69 art shop yang ada," jelasnya.

Para pemandu wisata lokal juga ikut kehilangan penghasilan. Selama ini, mereka tidak menetapkan tarif resmi dan mengandalkan tips dari wisatawan.

"Untuk pemandu lokal yang memandu turis asing, rata-rata bisa membawa pulang tips hingga Rp 500 ribu sehari," tambah Sanah.

Memasuki hari kelima pascakebakaran, warga Sade masih menghadapi kerugian materiil dan ancaman kehilangan mata pencaharian.

"Kami hanya bisa berharap bantuan dan langkah pemulihan agara geliat ekonomi warga dapat segera bangkit," tandasnya.



(dpw/dpw)









Hide Ads