Cuaca ekstrem di Mataram pekan lalu berdampak kepada ribuan warga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mataram mencatat sebanyak 800 kartu keluarga (KK) atau 4.000 warga terdampak banjir rob hingga luapan Sungai Jangkok.
"Kalau kami totalkan ada 800 KK yang terdapak, ada yang karena abrasi, banjir rob, dan luapan Sungai Jangkok. (Lokasinya) di Kopajali Jempong Baru, Tanjung Karang, Ampenan Selatan di Penghulu Agung hingga di Kelurahan Bintaro, Ampenan," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Mataram, Muzaki, saat diwawancarai detikBali, Senin (26/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Muzaki, kerusakan rumah terparah terjadi di Lingkungan Bugis dan Bintaro Ampenan. Terdapat 18 rumah rusak berat di sana sehingga mereka terpaksa tinggal di tenda untuk sementara.
"Rumah warga yang rusak berat rata-rata berada di bibir pantai. Posko hingga dapur umum yang kami bangun di sana akan diperpanjang hingga pekan ini guna mempercepat proses perbaikan," tutur Muzaki.
Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 akibat bencana tersebut. Rumah yang rusak akibat bencana juga bakal diperbaiki. Anggaran perbaikannya mencapai Rp 65 juta untuk kategori rumah rusak berat.
Diberitakan sebelumnya, Pemkot Mataram mendirikan dapur umum untuk memenuhi logistik ratusan warga terdampak banjir rob di Lingkungan Bugis, Kecamatan Ampenan, Mataram, NTB.
"Sehari ada 600 porsi makanan yang kami buat. Kami bagikan ke warga yang terdampak langsung. Khususnya warga yang rumahnya tidak bisa ditempati dan tidak bisa masak di rumahnya," kata Plt Kepala Dinas Sosial Mataram, Lalu Samsul Adnan.
Samsul menjelaskan tenaga teknis di dapur umum tersebut terdiri dari tim Tagana, BPBD, dan Dinas Sosial Mataram. Selain menyediakan makanan siap saji, Pemkot Mataram juga memberikan paket sembako untuk warga terdampak.
Menurut Samsul, total anggaran yang disiapkan untuk operasional dapur umum selama tujuh hari sekitar Rp 100 juta. Ia menyebut pembukaan dapur umum bisa diperpanjang jika cuaca ekstrem belum berakhir. "Tetapi, untuk sementara, sesuai perkiraan dari BMKG, kami persiapkan untuk tujuh hari kedepan," jelasnya.
(hsa/hsa)










































