Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mendirikan dapur umum untuk memenuhi logistik ratusan warga terdampak banjir rob di Lingkungan Bugis, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dapur umum ini dibangun selama tujuh hari mendatang.
"Sehari ada 600 porsi makanan yang kami buat. Kami bagikan ke warga yang terdampak langsung. Khususnya warga yang rumahnya tidak bisa ditempati dan tidak bisa masak di rumahnya," kata Plt Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram, Lalu Samsul Adnan, Jumat (23/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Samsul menjelaskan tenaga teknis di dapur umum tersebut terdiri dari tim Tagana, BPBD, dan Dinas Sosial Mataram. Selain menyediakan makanan siap saji, Pemkot Mataram juga memberikan paket sembako untuk warga terdampak.
Menurut Samsul, total anggaran yang disiapkan untuk operasional dapur umum selama tujuh hari sekitar Rp 100 juta. Ia menyebut pembukaan dapur umum bisa diperpanjang jika cuaca ekstrem belum berakhir.
"Tapi untuk sementara, sesuai perkiraan dari BMKG, kami persiapkan untuk tujuh hari ke depan," pungkasnya.
Sebelumnya, Pemkot Mataram melakukan penanganan jangka pendek banjir rob yang melanda Lingkungan Bugis, Kecamatan Ampenan. Salah satu langkah yang ditempuh yakni pemasangan geobag dan batu boulder sepanjang sekitar 1 kilometer di kawasan pesisir.
Selain geobag, Pemkot Mataram juga memastikan pemasangan batu boulder akan diperpanjang pada 2026. Batu boulder dipasang kembali di titik-titik dengan tingkat abrasi tinggi dan pengerjaanya telah dikoordinasikan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS).
"Akan dipasang lagi di titik-titik yang memang abrasi cukup tinggi. Pemasangan batu bouldernya sudah dipastikan sama BWS," ujar Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, saat diwawancarai seusai meninjau kerusakan akibat banjir rob di Ampenan, Kamis (22/1/2026).
Sungai Jangkok Meluap
Hujan deras yang mengguyur Kota Mataram juga mengakibatkan Sungai Jangkok meluap. Luapan sungai merendam puluhan rumah warga hingga sejumlah ruas jalan di Mataram.
Luapan air sungai dengan cepat masuk ke permukiman penduduk, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan Sungai Jangkok. Ketinggian air mencapai 50 sentimeter hingga 120 sentimeter atau 1 meter lebih.
"Tadi malam kami nggak bisa menyelamatkan barang-barang di dalam rumah. Luapan airnya datang begitu cepat," kata Saprudin, warga Lingkungan Dasan Agung Gapuk Utara, Selaparang, Kota Mataram, Jumat (23/1/2026).
Pantauan detikBali pada Jumat siang, genangan akibat luapan Sungai Jangkok perlahan surut. Namun, puluhan rumah masih dipenuhi material lumpur. Beberapa warga mulai membersihkan sisa-sisa lumpur dari dalam rumah.
"Kejadian begitu cepat. Padahal nggak ada hujan, kemungkinan (air) kiriman. Kerugian saya puluhan juta bahkan lebih," imbuh Saprudin.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Lale Widiahning, mengatakan debit air di Sungai Jangkok berada di atas 215 sentimeter (cm) di atas garis batas pada Kamis malam. Siang ini, posisi air sungai tersebut sudah menurun hingga 125 sentimeter.
"Kami harus antisipasi untuk evakuasi warga jika debit Sungai Jangkok naik lagi," ujar Lale.
Plt Kalak BPBD Kota Mataram, Muzaki, mengtakan jumlah warga yang terdampak luapan Sungai Jangkok lebih dari 200-an jiwa. "Yang terdampak itu Lingkungan Dasan Sari, Kebon Sari, Pejeruk, Gapuk yang dibarat, (pokoknya) ada lima lingkungan (yang terdampak)," kata Muzaki.
(iws/iws)