Cuaca ekstrem berdampak terhadap sejumlah aktivitas pelayaran di Nusa Tenggara Timur (NTT). Empat kapal yang sedianya mengangkut ribuan ternak ke luar daerah tak bisa berlayar dan tertahan di Pelabuhan Tenau, Kupang, NTT.
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Peternak Sapi dan Kerbau (HP2SK) NTT, Tono Sufarri Sutami, menjelaskan ribuan tak dapat dikirim akibat cuaca buruk. Ribuan ternak tersebut rencananya dikirim ke Kalimantan, Banjarmasin, dan Pulau Jawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ribuan ekor sapi tak bisa dikirim karena empat kapal ternak pengangkut sapi tak bisa berlayar akibat cuaca buruk gelombang tinggi," ujar Tono kepada awak media di Kupang, Selasa (20/1/2025).
Para peternak, dia berujar, hanya pasrah sembari menunggu cuaca membaik dan aktivitas pelayaran kembali normal. Menurutnya, pengusaha sapi juga harus mengecek kondisi kesehatan ternak mereka yang tertahan di pelabuhan selama berhari-hari.
"Ribuan ekor sapi ini tertahan selama hampir sepekan," ujar Tono.
"Saat ini sebanyak 2300 ekor sapi yang masih tertahan dan belum bisa dikirim akibat cuaca buruk," imbuhnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah di NTT terdampak Bibit Siklon Tropis 96S di selatan Jawa Timur dan Bibit Siklon Tropis 97S di Australia bagian utara yang bergerak ke arah barat. Bibit siklon ini berpotensi meningkat menjadi siklon tropis.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenotek, menerangkan aktifnya gelombang Rosby dan Madden Julian Oscillation (MJO) turut meningkatkan potensi terjadinya hujan di wilayah NTT. Ia meminta warga untuk mewaspadai dampak bencana hidrometeorologi hingga 20 Januari 2026.
"Waspadai dampak hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang yang dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi," ujar Sti Nenotek, Minggu (18/1/2026).
(iws/iws)










































