Sebanyak 27 desa di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpapar hujan abu vulkanik Gunung Ile Lewotolok, hari ini. Hal tersebut disampaikan Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, Andris Koban.
"Desa-desa terdampak abu vulkanik seperti Desa Jontona, Lamaau, Baolaliduli, Aulesa, Lamawolo, Lamatokan, Kalikur WL, Umaleu, Buriwutung, Mampir, Leuwohung," kata Andris Koban kepada detikBali, Senin (19/1/2026).
Selain itu, Desa Bareng, Kalikur, Normal, Normal 1, Leudanung, Leuwayan, Roma, Hoelea 1, Hoelea 2, Hingalamengi, Meluwitung, Balauring, Wailolong, Lebewala, Wowong, dan Nilanapo juga terpapar abu vulkanik Gunung Ile Lewotolok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andris mengatakan, aliran lava terpantau turun di dua desa, yakni Desa Jontona dan Desa Amakaka. Saat ini, BPBD Kabupaten Lembata telah mengaktifkan rantai komando penanganan erupsi Gunung Ile Lewotolok.
"Kami aktifkan pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana (Pusdalops) Lembata terkoneksi di provinsi," imbuhnya.
Selain itu, BPBD juga akan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk penyaluran air bersih bagi warga terdampak.
"Bekerja sama dengan pihak ketiga," tandasnya.
Untuk diketahui, Gunung Ile Lewotolok tercatat meletus sebanyak 99 kali pada Senin (19/1/2026) pukul 06.00-12.00 Wita.
"Teramati 99 kali letusan dengan tinggi 200-500 meter dan warna asap putih, kelabu dan hitam disertai gemuruh lemah," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok, Stanislaus Ara Kian, dalam keterangan resmi yang diterima detikBali, Senin.
Stanislaus mengingatkan masyarakat di sekitar Gunung Ile Lewotolok maupun pengunjung, pendaki, dan wisatawan agar tidak memasuki serta tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok.
"Mewaspadai potensi ancaman bahaya guguran/longsoran lava dan awan panas pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut Gunung Ile Lewotolok," imbuhnya.
Stanislaus juga berharap masyarakat yang berada di sekitar Gunung Ile Lewotolok menggunakan masker pelindung mulut dan hidung serta perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.
"Untuk menghindari gangguan pernapasan(ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya serta untuk menutup tempat penampungan air bersih yang disebabkan oleh paparan abu vulkanik," tandasnya.
(dpw/dpw)










































