detikBali

Senja Kala Petani Garam Kusamba

Terpopuler Koleksi Pilihan

Senja Kala Petani Garam Kusamba


Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Ni Nyoman Sekar menjemur garam basah di tambak garam miliknya di Pantai Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, Minggu (3/5/2026). (Foto: Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Ni Nyoman Sekar menjemur garam basah di tambak garam miliknya di Pantai Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, Minggu (3/5/2026). (Foto: Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

Pesisir Kusamba di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, adalah ladang kristal garam yang menghidupi ratusan kepala keluarga (KK). Namun, itu dulu.

Garam kusamba pernah masyhur pada masanya. Diproduksi menggunakan teknik kuno dengan media palung kayu pohon kelapa, kristal-kristal garam ini diakui dunia karena teksturnya lembut dan rasanya gurih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, pengakuan itu tak cukup kuat melawan arus perubahan zaman. Kini, garam kusamba memasuki senja kala. Jumlah petani garam di pesisir Kusamba terus menyusut hingga tersisa hanya 16 KK.

Satu dari petani garam kusamba yang masih bertahan adalah pasangan lanjut usia (lansia) bernama Ni Nyoman Sekar (55) dan suaminya Nyoman Koplog (60). Sekar mengakui penghasilan menjadi petani garam yang tidak menentu membuat anak-anaknya enggan meneruskan profesi tersebut.

ADVERTISEMENT

"Anak saya dua, mereka tidak ada yang mau meneruskan. Mereka tahu cara membuat garam ini, tapi tidak mau melanjutkan," tutur Sekar sembari meratakan gunungan garam yang sedang dijemur di Pantai Kusamba, Minggu (3/5/2026).

Pagi itu cerah. Sekar bersama Koplog masih bersemangat memikul keranjang berisi kristal garam basah meski di bawah terik matahari. Tubuhnya masih kokoh menyisir hamparan pasir hitam yang kian sempit dilahap abrasi.

Selain ancaman abrasi, proses pembuatan garam tersebut terkendala jika hujan turun. Demikian pula ketika air pasang datang hingga merendam ladang garam Sekar. Proses produksi yang tidak berkesinambungan ditambah minimnya pembeli membuat penghasilan Sekar dan suami makin tak menentu.

"Pembeli juga mulai jarang. Kalau begini, terpaksa ngutang dulu. Nanti kalau sudah ada yang laku, baru dikembalikan," imbuhnya.

Sekar mengakui garam kusamba tak lama lagi hanya akan menjadi kenangan. Kata dia, saat ini tidak ada lagi petani garam muda.

Tersisa 16 KK

Ketua Kelompok Petani Garam Sarini Segara Kusamba, I Nengah Diana (51), mengungkapkan jumlah petani garam di Kusamba kini hanya tersisa 16 KK. Padahal, dahulu sepanjang pesisir tersebut dipenuhi petani garam.

"Dulu ladang kami luas sekali. Di sepanjang pesisir pantai ini ada petani garam. Jumlah kami dulu ada ratusan KK, kini tersisa tinggal 16 KK," tutur Diana.

Pembuatan garam kusamba dilakukan secara turun-temurun dan dikelola secara kekeluargaan. Petani garam, baik laki-laki maupun perempuan, bekerja sama dalam setiap tahap produksinya. Metode produksi garam itu diwarisi secara turun temurun.

Diana sendiri menjadi petani garam sejak masih muda. Cara memproduksi garam kusamba didapatkan dari orang tuanya. Seiring perubahan zaman, tradisi turun temurun itu mulai tergerus dan anak-anak Kusamba tak ingin bekerja di ladang garam orang tuanya.

Menurut Diana, penyebabnya bukan hanya arus perubahan zaman yang menawarkan berbagai peluang kerja bagi generasi muda. Melainkan juga perubahan lanskap alam berupa abrasi yang melahap hamparan ladang garam mereka.

"Abrasi membuat banyak petani kehilangan ladang mereka dan akhirnya berhenti," terang Diana.

Sebagai petani garam, Diana hanya bisa mengutarakan strategi bertahan seadanya. Ia belum terpikir tentang cara agar garam kusamba kembali berjaya seperti sedia kala.




(iws/iws)











Hide Ads