detikBali

Kisah Buruh Panggul Barang di Pesisir Kampung Kusamba

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kisah Buruh Panggul Barang di Pesisir Kampung Kusamba


Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Seorang buruh angkut barang tampak bekerja di pesisir Kampung Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkun, Bali, Sabtu (2/4/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Seorang buruh angkut barang tampak bekerja di pesisir Kampung Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkun, Bali, Sabtu (2/4/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

Sebuah kapal pengangkut barang menepi di pesisir Kampung Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali. Puluhan ikat kayu, karung berisi pasir, tabung gas, semen, kaca, dan berbagai barang lainnya yang akan diangkut ke Pulau Nusa Penida tampak berjejer di pinggir pantai.

Sementara itu, puluhan buruh panggul bergegas menaikkan barang-barang tersebut ke atas kapal begitu jangkar tertancap di pantai. Salah satu buruh panggul itu adalah Ardimas (42), warga Kampung Kusamba. Ardimas merupakan ketua kelompok buruh panggul di pesisir itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Istilahnya di sini sekaa sorong sampan. Artinya kelompok pendorong sampan. Dulu waktu barang-barang ini masih diangkut dengan jukung, sampannya harus kami dorong ke tengah laut. Sekarang masih kami dorong, tapi tidak sejauh mendorong jukung," tutur Ardimas, Sabtu (2/4/2026).

Saat cuaca cerah, para buruh panggul itu harus berjuang di bawah terik matahari dan sesekali menerjang ombak. Mereka perlu menguatkan bahu untuk mengejar upah setiap kali kapal pengangkut barang menepi di pantai itu.

ADVERTISEMENT

Ardimas menuturkan jumlah buruh panggul yang tercatat di kelompok tersebut sekitar 30 orang. Para buruh panggul itu berusia 30 sampai 60 tahun. Kata Ardimas, menjadi buruh panggul di pantai tersebut harus memiliki bahu yang lebih kuat ketimbang bekerja di daratan seperti pasar atau terminal.

"Tidak mudah karena saat akan menaikkan barang ke atas kapal, kami diterjang ombak. Ini cuaca sedang bagus. Kalau tidak, lebih berat lagi. Sampai pernah ada kapal yang berlubang dan karam," imbuhnya.

Ardimas enggan merinci pendapatannya sebagai buruh panggul. Ia mengatakan upah menaikkan barang dihitung borongan sesuai jenis dan jumlah barang yang harus diangkut. Nominalnya sesuai jumlah barang dan kapal yang datang.

Adapun, barang-barang seperti kayu, papan, genteng, bata, tabung gas, galon air, dan lainnya bisa dihitung satuan. Sedangkan pasir dan kerikil dihitung per kubik dengan sistem pembayaran borongan.

Misalkan ada seratus tabung gas yang dihargai Rp 3 ribu per satu tabung. Jadi, pemilik kapal akan membayar Rp 300 ribu untuk membayar jasa angkut seratus tabung gas melon.

Harga biasanya disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan resiko mengangkut barang tersebut. Jasa angkut seperti semen dibanderol Rp 5 ribu per sak.

Ardimas kemudian menunjukkan bekas luka di tangannya. Ia bercerita, luka itu didapatkan saat mengangkut kaca ukuran 2 meter persegi.

"Saat tiba di tepi pantai, ombak besar datang. Kaca di tangan saya pecah. Jari saya hampir putus," tutur Ardimas.

Pendapatan per orang sebagai tukang panggul tersebut Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per hari. Menurut Adi, hasil itu didapatkan dengan kondisi mengisi dua sampai tiga kapal. Di sisi lain, Ardimas dan para buruh panggul barang di Kampung Kusamba juga tak dapat bekerja jika cuaca buruk.

"Seperti kemarin hanya ada satu kapal. Hari ini lumayan ada dua kapal. Kalau satu kapal jam 11 sudah pulang. Kalau dua kapal biasa sampai jam dua," paparnya.

Beratnya pekerjaan sebagai buruh panggul di pantai membuat tidak banyak orang yang bertahan. Ardimas mengungkapkan beberapa kuli angkut dari pasar atau terminal yang datang bergabung, kebanyakan yang tidak lolos.

"Di musim ramai, kadang kita harus kerja sampai malam. Jadi butuh tambahan. Pernah ada datang 10 orang kita datangkan dari proyek. Itu yang bertahan sampai terima upah satu orang. Itu pun besoknya ndak datang lagi," ungkap Ardimas.

Menjadi buruh panggul barang di pelabuhan membutuhkan tenaga berkali-kali lipat dibanding mengangkut barang di daratan seperti pasar atau terminal. Resiko barang jatuh saat dinaikkan ke atas kapal tak jarang harus ditanggung buruh.

"Wajib ada libur dalam seminggu. Minimal satu hari. Terkadang dua hari karena lelah," jelas Ardimas.




(iws/iws)










Hide Ads