detikBali

Anomali Cuaca Bikin Petani Garam Kusamba Merugi

Terpopuler Koleksi Pilihan

Anomali Cuaca Bikin Petani Garam Kusamba Merugi


Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Petani garam Kusamba sedang menambak garam di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, Rabu (29/4/2026).
Petani garam Kusamba sedang menambak garam di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, Rabu (29/4/2026). ((Foto: Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

Petani garam Kusamba di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali kian terdesak akibat anomali cuaca. Hujan yang turun hampir setiap hari membuat produksi garam tersendat dan memicu kerugian.

Seorang petani garam Kusamba, Nyoman Koplag (60), mengernyitkan dahi saat ditemui detikBali. Ia sudah merugi dalam tiga hari terakhir akibat hujan yang terus mengguyur.

"Sudah tiga hari ini hujan terus. Satu pun belum ada yang jadi," kata Koplag, Rabu (29/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di hadapannya, beberapa penampungan garam tampak mulai mengkristal, namun belum cukup untuk dipanen. Kondisi makin sulit jika matahari tertutup mendung. Koplag menyebut potensi kerugian masih berlanjut hari ini.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, hujan tak hanya menghilangkan hasil panen, tetapi juga membuat biaya operasional membengkak. Bahan bakar minyak untuk menaikkan air laut ke ladang garam tetap terpakai meski produksi gagal. Sepanjang April, ia mengaku lebih sering merugi dibandingkan untung.

"Memang musim sekarang ini tak menentu. Kalau dulu bulan April sudah saatnya panen terus menerus," jelasnya.

Dalam kondisi cuaca normal, Koplag hanya membutuhkan sehari untuk menghasilkan sekitar 20 kilogram garam dari beberapa penampungan. Namun kini, jumlah yang sama baru bisa didapat dalam waktu sepekan.

"Sekilonya saya jual Rp 20 ribu," terangnya.

Ketua Kelompok Petani Garam Sarini Segara Kusamba, I Nengah Diana (51), mengatakan petani terpaksa mengandalkan strategi bertahan dengan menyisihkan penghasilan saat panen.

"Kalau tidak disisihkan, di saat seperti ini akan susah sekali. Terkadang harus berhutang juga untuk memenuhi kebutuhan," jelas Diana.

Ia menyebut bantuan dari pemerintah tetap ada. Petani mendapat perhatian dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Klungkung, terutama dalam penyediaan peralatan produksi.

"Semua peralatan ini diberikan pada kita. Selain itu juga kami tetap dikontrol secara berkala," terangnya.

Harga garam Kusamba bervariasi tergantung proses produksi. Garam yang diolah menggunakan palung dari batang pohon kelapa dijual Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram. Sementara garam dari penampungan biasa dihargai sekitar Rp 15 ribu per kilogram.

"Kalau untuk pembeli tidak ada masalah. Memang tidak setiap hari. Tapi permintaan tetap ada," pungkasnya.




(dpw/dpw)










Hide Ads