Pemerintah Pusat Didesak Bantu Pelaku Pariwisata dan UMKM Bali

Tim detikBali - detikBali
Sabtu, 23 Apr 2022 16:01 WIB
Salah satu stand UMKM di Bali
Salah satu stand UMKM di Bali (Foto: Dok.Detikcom)
Denpasar -

Pandemi COVID-19 berdampak buruk bagi pertumbuhan perekonomian Bali. Sektor pariwisata yang belum pulih menyebabkan kondisi UMKM ikut merasakan dampaknya.

Untuk mengantisipasi kondisi ekonomi masyarakat semakin buruk, maka pemerintah pusat melalui Himabara (himpunan bank milik negara) didesak segera membantu para pelaku usaha pariwisata dan UMKM Bali.

"Pemerintah pusat harus bantu Bali sekarang, jangan sampe terlambat. Ancaman pada tahun 2023 akan banyak pengusaha Pariwisata dan pelaku UMKM dan pemilik rumah dengan KPR akan mengalami kebangkrutan dan atau kredit macet," kata Anggota DPR RI asal Bali I Nyoman Parta usai zoom meeting antara stake holder pelaku pariwisata dan UMKM di Bali bersama Direktur Utama BNI Royke Tumilar, Jumat (22/4/2022).


Disebutkan ancaman kebangkrutan dan kredit macet di Bali sebagai dampak dari akan berakhirnya masa berlaku peraturan OJK No 3/2021 yang mengatur tentang perpanjangan stimulus perekonomian bagi debitur perbankkan yang terdampak Covid-19 yang akan berakhir sampai dengan 31 Maret 2023.

Sebagai konsekuensi berakhirnya POJK itu maka relaksasi dan restrukturisasi akan berakhir. "Pembayaran pokok dan bunga kredit KUR dan KPR akan terakumulasi dengan pembayaran yang normal sehingga angsuran menjadi membengkak," ujar Parta.

Angsuran nanti akan menjadi beban berat bagi masyarakat Bali di mana sektor pariwisata dan UMKM masih terpuruk.

"Tentu hal ini akan sangat menyulitkan, di satu sisi beban angsuran menjadi lebih besar sedangkan kemampuan membayar makin tidak ada. Sedangkan untuk penambahan modal tidak dimungkinkan karena terbentur dengan berbagai peraturan," kata Parta

Sebagai catatan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik ke Bali hingga April 2022 ternyata belum signifikan mendongkrak perekonomian.

"Kedatangan wisatawan baik domestik dan m mancanegara masih sangat jauh dari jumlah ideal. Inilah yang menyebabkan ekonomi Bali masih mengalami kontraksi sampai hari ini," kata Parta.

Melihat kondisi yang akan mengancam pelaku pariwisata dan UMKM masyarakat Bali, Parta mendesak pemerintah pusat melalui Bank Himbara wajib membantu Bali dengan berbagai pogram penyelamatan ekonomi Bali secara khusus.

"Upayanya dengan melakukan langkah Avirmatif, perpanjang masa relaksasi, dan rekstrukrisasi. Memberikan bantuan seringan ringannya, bila perlu langkah pemutihan, terutama untuk UMKM," kata Parta.

Salah satu pelaku UMKM di Bali Gede Suardana menyampaikan bahwa restrukturisasi yang diberikan oleh pemerintah di masa pandemi harus dirancang khusus untuk meringankan beban pelaku usaha.

"Program restrukturisasi saat ini seperti buah simalakama bagi pelaku usaha. Jangan sampai dibantu di awal namun pasca berakhirnya restrukturisasi, angsuran justru membengkak sehingga menjadi beban bagi pelaku usaha. Atur kembali skema restrukturisasi agar meringankan," kata Suardana pemilik usaha Applemart di Buleleng.

Pelaku usaha pariwisata dan UMKM juga menyampaikan bahwa program restrukturisasi KPR dan KUR khusus untuk Bali harus dilanjutkan sampai tahun 2025 atau sampai pariwisata Bali pulih.

"Kondisi Bali berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Saat ini pertumbuhan masih minus. Usaha belum untung namun harus sudah membayar angsuran normal yang membengkak akibat skema restrukturisasi," kata Suardana.

Sementara itu, Dirut BNI Royke Tumilar mengatakan akan segera berkoordinasi dengan pemerintah untuk membantu secara khusus pelaku sektor pariwisata dan UMKM Bali. Kebijakan yang terkait dengan regulasi akan dikoordinasikan dengan menteri keuangan, BI, dan OJK.

Sementara kebijakan yang bersifat internal BNI akan segera dikomunikasikan dengan jajarannya.

"Semoga dalam waktu dekat kita bisa rumuskan secara lebih teknis bantuan restrukturisasi kepada para pelaku usaha pariwisata dan UMKM di Bali," janji Tumilar di akhir pertemuan.



Simak Video "Jokowi: 17,5 Juta UMKM Masuk Ekosistem Digital, Jumlah Ini Belum Cukup"
[Gambas:Video 20detik]
(dpra/dpra)