Elang jawa (Nisaetus bartelsi) selama ini dikenal sebagai burung endemik Pulau Jawa. Namun, burung itu tercatat beberapa kali muncul di sejumlah wilayah Bali. Kemunculan satwa yang hampir punah itu mendorong peneliti dan pemerhati lingkungan untuk meneliti elang jawa di Pulau Dewata.
Ketua Raptor Indonesia, Zaini Rahman, mengatakan catatan mengenai keberadaan elang jawa di Bali sudah muncul sejak 1994. Namun, catatan awal tersebut masih diragukan. Hingga pada 2014, keberadaan elang jawa di Bali makin kuat setelah terdapat dokumentasi foto.
"Sampai tahun 2014 itu ada dokumentasi yang dokumentasi foto yang menjelaskan bahwa itu benar-benar elang jawa yang ada di Bali," ujar Zaini di Kuta, Badung, Jumat (21/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Raptor Indonesia, Zaini Rahman dalam acara Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa 2026-2036 di Kuta, Badung, Jumat (21/8/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali) |
Salah satu dokumentasi yang menunjukkan keberadaan elang jawa di Bali dibuat Rusman Prasetya pada 24 Oktober 2014. Rusman mendokumentasikan perjumpaan dengan seekor elang jawa dewasa di Gunung Sega, Karangasem.
Selain itu, pada 2016 juga tercatat perjumpaan dengan elang jawa di Kebun Raya Eka Karya Bedugul. Catatan keberadaan satwa tersebut juga ditemukan di sejumlah wilayah lain, termasuk bagian timur Bali.
"Nah, saat ini ada sekitar 14 titik lokasi di Bali. Dimulai dari Bali barat sampai ke Gunung Sega di utara. Jadi, Gunung Lempuyang dan sebagainya itu ada catatannya," imbuh Zaini.
Di Pulau Jawa sendiri saat ini terdapat sekitar 74 titik kantong populasi atau habitat elang jawa. Tambahan 14 titik di Bali menjadikan kantong populasi atau habitat elang jawa menjadi 88 yang tercatat.
Meski demikian, keberadaan elang jawa di Bali masih membutuhkan penelitian lebih mendalam. Salah satunya untuk memastikan elang jawa di Bali memiliki karakteristik genetik yang sama dengan di Pulau Jawa atau justru kelompok yang berbeda.
"DNA-nya hanya 1% perbedaannya. Nah, itu perlu sampel lebih banyak lagi untuk memastikan apakah perbedaan itu signifikan apa enggak," ungkap Zaini.
Raptor Indonesia berencana melanjutkan pengumpulan data dan melaporkan keberadaan elang jawa di Bali kepada komunitas konservasi internasional. Data serupa juga sudah disampaikan pada 2025.
Guru Besar Ekologi Hewan Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Udayana (Unud), Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni, mengatakan perjumpaan elang jawa paling banyak tercatat di wilayah tengah, khususnya kawasan Kebun Raya Eka Karya Bedugul dan sekitar Taman Wisata Alam (TWA) Buyan-Tamblingan.
Menurut Eswaryanti, keberadaan elang, termasuk elang jawa, dapat menjadi indikator kualitas suatu ekosistem. Sebagai predator puncak, keberadaan satwa tersebut menunjukkan masih adanya kondisi ekosistem yang mendukung keberlangsungan hidupnya.
"Biasanya, kalau dalam suatu ekosistem itu ada predator puncak, itu mencerminkan kualitas lingkungan yang baik," tutur Eswaryanti.
