Amerika Serikat (AS) langsung tancap gas usai negosiasi damai dengan Iran gagal. Presiden Donald Trump memerintahkan blokade Selat Hormuz dan mengancam akan menghancurkan kapal-kapal Iran yang mendekat.
Ketegangan terbaru ini pecah setelah perundingan maraton di Pakistan tidak menghasilkan kesepakatan final. Trump sebelumnya mengeklaim sebagian besar poin sudah disetujui, namun pembicaraan runtuh karena Iran menolak mengalah soal program nuklir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump kemudian mengumumkan perintah blokade terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.
"Berlaku segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses pemblokadean terhadap setiap dan seluruh Kapal yang mencoba masuk, atau keluar, dari Selat Hormuz," kata Trump di platform Truth Social miliknya dilansir kantor berita AFP, Minggu (12/4/2026).
"Setiap orang Iran yang menembak ke arah kami, atau ke arah kapal-kapal damai, akan diledakkan sampai hancur (blown to hell)!," imbuhnya.
Wakil Presiden AS JD Vance meninggalkan Pakistan tanpa kesepakatan setelah pembicaraan akhir pekan dengan delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Delegasi Teheran juga diikuti Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Pembicaraan itu sebelumnya ditujukan untuk memperkuat gencatan senjata dua minggu, sekaligus mencapai kesepakatan akhir guna mengakhiri konflik.
Iran Tak Gentar Ancaman AS
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada ancaman Trump terkait blokade Selat Hormuz.
"Jika mereka melawan, kami akan melawan, dan jika mereka mengajukan argumen logis, kami akan menghadapinya dengan logika. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun, biarkan mereka menguji tekad kami sekali lagi sehingga kami dapat memberikan mereka pelajaran yang lebih besar," kata Ghalibaf kepada wartawan setelah kembali ke Teheran dari Islamabad, seperti dilansir Al Arabiya, Senin (13/4/2026).
Kepala Angkatan Laut Iran Shahram Irani menyebut ancaman blokade dari Trump sebagai hal yang "konyol".
"Para prajurit pemberani dari Angkatan Laut Tentara Republik Islam Iran memantau dan mengawasi semua pergerakan militer Amerika yang agresif di wilayah tersebut. Ancaman Presiden AS untuk memblokade Iran di laut... sangat konyol dan menggelikan," sebut Irani seperti dikutip televisi pemerintah Teheran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan ditindak "dengan keras dan tegas".
IRGC juga menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali Angkatan Laut Iran, namun tetap terbuka untuk kapal non-militer sesuai aturan yang berlaku.
Iran Sebut AS Kriminal
Militer Iran mengecam rencana blokade laut oleh AS yang mulai diberlakukan Senin (13/4) waktu setempat. Teheran menyebut langkah itu ilegal dan menyerupai pembajakan di perairan internasional.
"Pembatasan yang diberlakukan oleh Amerika yang kriminal terhadap navigasi dan transit maritim di perairan internasional adalah ilegal dan merupakan contoh pembajakan," demikian pernyataan pusat komando militer Iran, Khatam Al-Anbiya, seperti dilansir AFP, Senin (13/4/2026).
Iran juga memperingatkan dampak serius terhadap keamanan kawasan.
"Jika keamanan pelabuhan Republik Islam Iran di perairan Teluk Persia dan Laut Arab terancam, tidak ada pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Arab yang akan aman," tegas pernyataan tersebut.
Peringatan itu disampaikan setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai Senin (13/4) waktu setempat.
CENTCOM menyatakan blokade berlaku untuk kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Namun, AS menegaskan tidak akan menghalangi kapal yang melintas di Selat Hormuz menuju atau dari pelabuhan non-Iran. Instruksi lebih lanjut untuk para pelaut disebut akan segera diumumkan.
Trump Ancam Hancurkan Kapal Iran
Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran di tengah seruan internasional agar kedua pihak menahan diri dan melanjutkan negosiasi.
Dilansir AFP, Senin (13/4/2026), militer AS menyebut blokade dijadwalkan mulai pukul 14.00 GMT dan berlaku bagi kapal yang meninggalkan atau hendak berlabuh di pelabuhan Iran. Namun, setelah waktu tersebut berlalu, belum ada pengumuman resmi bahwa kebijakan itu telah sepenuhnya diterapkan.
Dalam unggahan media sosial, Trump mengklaim sebagian besar kekuatan angkatan laut Iran telah dihancurkan selama konflik. Ia juga memperingatkan bahwa sisa kapal Iran yang mendekati area blokade akan segera dilumpuhkan.
(dpw/dpw)










































