detikBali

21 Jam Perundingan Gagal, AS-Iran Malah Saling Tuduh

Terpopuler Koleksi Pilihan

21 Jam Perundingan Gagal, AS-Iran Malah Saling Tuduh


Tim detikNews - detikBali

AS dan Iran Bahas Perdamaian di Islamabad, JD Vance Temui PM Pakistan

Amerika Serikat dan Iran memulai perundingan perdamaian tingkat tinggi di Islamabad, Pakistan, dalam upaya meredakan konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Pertemuan ini menjadi salah satu kontak langsung paling signifikan antara kedua negara dalam beberapa dekade terakhir. Jacquelyn Martin/Pool via REUTERS
AS dan Iran Bahas Perdamaian di Islamabad, JD Vance Temui PM Pakistan. (Foto: Jacquelyn Martin/Pool via REUTERS)
Denpasar -

Perundingan maraton selama 21 jam antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu. Alih-alih mencapai kesepakatan damai, kedua negara justru saling tuding sebagai penyebab kegagalan negosiasi.

Sebagai informasi, konflik bermula saat AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu menyebabkan gugurnya Ayatollah Ali Khamenei yang saat itu menjabat Pemimpin Tertinggi Iran.

Iran langsung membalas dengan menyerang Israel serta berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk. Perang tersebut telah menewaskan 2.076 orang dan melukai 26.500 orang di Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, serangan balasan Iran menewaskan 26 orang dan melukai 7.451 orang di Israel. Sebanyak 13 tentara AS juga tewas dan 200 lainnya terluka akibat serangan tersebut.

ADVERTISEMENT

Dilansir CNN, Minggu (12/4/2026), Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan intensif dengan Iran tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen.

"Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya," kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad.

Namun, katanya, kedua negara tak mencapai kesepakatan apa pun. Dia menyebut hal itu sebagai kabar buruk, terutama bagi Iran.

"Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan," ujarnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut perundingan berlangsung intensif. Namun, ia menegaskan keberhasilan negosiasi bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lawan.

Baqaei juga menyerukan kepada Washington untuk menahan diri dari 'tuntutan yang berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum'. Dia meminta AS menerima 'hak dan kepentingan sah' Iran.

Ia menyebut sejumlah isu yang dibahas meliputi Selat Hormuz, program nuklir Iran, hingga upaya mengakhiri perang secara total.

AS Tuding Iran Tolak Kesepakatan soal Nuklir

Sementara itu, dilansir Al-Jazeera, AS menuding Iran tidak memberikan komitmen terkait pengembangan nuklir. Hal itu disampaikan JD Vance saat ditanya soal poin yang ditolak Iran dalam perundingan.

"Faktanya adalah kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mengembangkan senjata nuklir, dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir. Itulah tujuan utama presiden Amerika Serikat, dan itulah yang telah kami coba capai melalui negosiasi ini," katanya.

Dia mengatakan Iran memiliki program nuklir. Menurutnya, AS ingin Iran berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir di masa depan.

"Sekali lagi, program nuklir mereka, seperti apa adanya, fasilitas pengayaan yang mereka miliki sebelumnya, telah dihancurkan. Tetapi pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang, bukan hanya dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang? Kita belum melihatnya. Kami berharap akan melihatnya," ujarnya.

Dia menyebut Iran belum bersedia menerima syarat dari AS. Ia mengaku telah bersikap fleksibel sesuai arahan Presiden AS Donald Trump.

"Kita belum bisa mencapai situasi di mana Iran bersedia menerima persyaratan kita. Saya pikir kita cukup fleksibel; kita cukup akomodatif. Presiden mengatakan kepada kami, 'Kalian harus datang ke sini dengan iktikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan'. Kami melakukan itu, dan sayangnya, kami tidak mampu mencapai kemajuan apa pun," ucapnya.

Iran Tuding AS Cari-cari Alasan

Kantor berita Fars melaporkan jalan menuju kesepakatan bergantung pada perubahan tuntutan AS yang dinilai tidak masuk akal oleh Iran. Isu Selat Hormuz menjadi salah satu poin krusial yang masih diperdebatkan.

Kantor berita tersebut menyebut para ahli dari kedua pihak masih berupaya mencari titik temu. 'Mediator Pakistan sedang berusaha untuk menyelesaikan perbedaan dan mendekatkan pendapat'.

Kedua tim negosiasi juga disebut telah mundur sementara untuk berkonsultasi dengan tim ahli masing-masing terkait draf yang diusulkan. Pembicaraan akan dilanjutkan setelah draf tersebut siap.

Sumber yang dekat dengan delegasi Iran menyebut AS menuntut 'segala sesuatu yang tidak dapat mereka peroleh' dari perang selama pembicaraan di Islamabad. Kantor berita itu juga mengutip laporan korespondennya di ibu kota Pakistan yang menyebut 'Iran tidak menerima syarat-syarat ambisius Amerika mengenai Selat Hormuz, energi nuklir damai, dan beberapa isu lainnya'.

Sumber tersebut juga menyebut AS 'sedang mencari alasan' untuk meninggalkan meja perundingan.

"Amerika membutuhkan perundingan untuk memperbaiki citra mereka yang hilang di arena internasional dan tidak bersedia menurunkan ekspektasi mereka meskipun kalah dan mengalami kebuntuan dalam perang dengan Iran. Iran tidak memiliki rencana untuk putaran pembicaraan selanjutnya," ujar sumber tersebut.




(dpw/dpw)











Hide Ads