detikBali
Internasional

Gagal Damai, Iran Tegaskan Tak Tunduk pada Ancaman Trump Blokade Hormuz

Terpopuler Koleksi Pilihan
Internasional

Gagal Damai, Iran Tegaskan Tak Tunduk pada Ancaman Trump Blokade Hormuz


Novi Christiastuti - detikBali

Dalam foto yang diberikan oleh Kantor Berita Majelis Permusyawaratan Islam (ICANA), Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, mengenakan seragam IRGC, memimpin sidang di Teheran pada 1 Februari 2026. Iran telah menyatakan tentara negara-negara Eropa sebagai kelompok teroris, kata ketua parlemen pada 1 Februari, menyusul keputusan Uni Eropa untuk menerapkan sebutan yang sama kepada Korps Garda Revolusi Islam.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. (Foto: AFP / HO/MAJELIS PERMUSYARATAN ISLAM (ICANA)
Denpasar -

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade Selat Hormuz. Iran menegaskan tidak akan tunduk pada ancaman tersebut.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan negaranya siap melawan jika ditekan. Pernyataan itu disampaikan usai perundingan damai Iran-AS di Islamabad, Pakistan, berujung gagal.

"Jika mereka melawan, kami akan melawan, dan jika mereka mengajukan argumen logis, kami akan menghadapinya dengan logika. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun, biarkan mereka menguji tekad kami sekali lagi sehingga kami dapat memberikan mereka pelajaran yang lebih besar," kata Ghalibaf kepada wartawan setelah kembali ke Teheran dari Islamabad, seperti dilansir Al Arabiya, Senin (13/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iran Respons Blokade AS

Kepala angkatan laut Iran, Shahram Irani, menyebut ancaman Trump untuk memblokade Selat Hormuz sebagai hal yang konyol. Pernyataan itu muncul setelah perundingan maraton antara Teheran dan Washington gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.

ADVERTISEMENT

"Para prajurit pemberani dari Angkatan Laut Tentara Republik Islam Iran memantau dan mengawasi semua pergerakan militer Amerika yang agresif di wilayah tersebut. Ancaman Presiden AS untuk memblokade Iran di laut sangat konyol dan menggelikan," sebut Irani, dilansir dari detikNews, Senin (13/4/2026).

"Para prajurit pemberani Angkatan Laut Republik Islam Iran melacak dan memantau semua pergerakan militer AS yang agresif di wilayah tersebut,"tegasnya.

"Ancaman presiden AS setelah kekalahan memalukan tentaranya dalam perang ketiga yang dipaksakan, yaitu blokade laut terhadap Iran, sangat konyol dan menggelikan," cetusnya.

IRGC Ancam Tindak Tegas

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terpisah memperingatkan akan menindak tegas setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz. Langkah itu disebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata dua minggu dengan AS.

IRGC menyebut Selat Hormuz berada di bawah kendali dan "pengelolaan cerdas" Angkatan Laut Iran. Jalur tersebut, menurut mereka, tetap terbuka bagi kapal non-militer sesuai aturan yang berlaku.

IRGC sebelumnya juga menegaskan bahwa selat tersebut tidak akan pernah kembali ke keadaan semula, terutama bagi AS dan Israel.

Trump Perintahkan Blokade

Sebelumnya, Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokir jalur pelayaran Selat Hormuz. Keputusan itu diambil setelah perundingan damai dengan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.

Dalam pernyataan di media sosialnya, Trump mengatakan tujuan AS adalah membersihkan Selat Hormuz dari ranjau laut dan membukanya kembali untuk pelayaran internasional.

"Berlaku efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses BLOKADE semua kapal yang mencoba masuk, atau keluar, dari Selat Hormuz. Setiap warga Iran yang menembak kita, atau kapal-kapal damai, akan HANCUR LEBUR!" tegas Trump.

Presiden AS itu juga memperingatkan bahwa setiap kapal yang telah membayar bea masuk kepada Iran akan dihentikan di perairan internasional.

Iran diketahui telah membatasi lalu lintas di Selat Hormuz sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.

Teheran mengizinkan kapal dari negara sahabat, seperti China, untuk melintas, namun melarang kapal yang berafiliasi dengan negara yang dianggap agresor.

Selain itu, parlemen Iran juga mengajukan rancangan undang-undang untuk memberlakukan biaya transit di selat tersebut dalam mata uang nasional, serta melarang kapal AS dan Israel melintas.




(dpw/dpw)











Hide Ads