detikBali

Bolehkah Puasa Ikut NU, Lebaran Ikut Muhammadiyah? Ini Penjelasannya

Terpopuler Koleksi Pilihan

Bolehkah Puasa Ikut NU, Lebaran Ikut Muhammadiyah? Ini Penjelasannya


Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikBali

Ilustrasi takbiran keliling Idul Fitri.
Idul Fitri. Foto: Gemini AI
Denpasar -

Muhammadiyah akan merayakan Idul Fitri besok, Jumat (20/3/2026). Sedangkan Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan Lebaran pada Sabtu (21/3/2026). Lalu bolehkan puasa ikut NU dan Lebaran ikut Muhammadiyah?

Dilansir detikJatim, Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Darunnajah, Hendro Risbiyantoro, menjelaskan bahwa pada prinsipnya seseorang boleh saja menjalankan puasa mengikuti satu kelompok, tapi merayakan Idul Fitri bersama kelompok lain. Namun, hal ini hanya diperbolehkan apabila awal Ramadhan yang dijalani sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya, nggak ada masalah, nggak apa-apa, asalkan harus dipastikan awal Ramadhan-nya bareng," ujar Hendro dalam video yang diunggah di akun Instagramnya @hendro_risbiyantoro, dikutip Senin (17/3/2026).

Namun, ia menekankan persoalan dapat muncul apabila terdapat perbedaan penetapan awal Ramadan, seperti yang terjadi tahun ini. Muhammadiyah memulai puasa pada 18 Februari 2026 berdasarkan metode hisab, sedangkan pemerintah dan NU menetapkan awal puasa pada 19 Februari 2026 melalui rukyatul hilal.

ADVERTISEMENT

"Jika nanti yang ikut puasa di tanggal 18, kemudian Lebaran-nya ikut tanggal 19. Itu akan berpotensi nambah jumlah hari. Bisa jadi puasanya 31 hari. Nah, ini artinya lebih dari satu bulan," terangnya.

Sebaliknya, jika seseorang memulai puasa lebih lambat, tetapi merayakan Idul Fitri lebih awal, jumlah hari puasa berpotensi kurang dari ketentuan minimal, yakni 29 hari.

"Ada juga pertanyaan, kalau umpamanya kita puasa belakangan, Lebaran-nya ikut yang duluan, nanti jumlahnya 29 hari, kan satu bulan. Iya, satu bulan. Tetapi itu nanti menjadi inkonsistensi dalam kita bermetode, nanti masuknya ke ranah fikih," katanya.

Hendro menilai kondisi tersebut dapat menimbulkan inkonsistensi dalam penggunaan metode penentuan awal bulan Hijriah, yang pada akhirnya masuk dalam ranah fikih. Karena itu, ia menyarankan umat Islam untuk tetap konsisten dengan metode yang diikuti sejak awal.

"Sudah, yang ikut puasa tanggal 18, Lebaran-nya ikut yang itu, yang puasanya tanggal 19, Lebaran-nya ikut yang itu. Itu lebih selamat, insyaallah" ujarnya.

Pandangan serupa juga disampaikan melalui unggahan akun Instagram @muhammadiyah_banyumas. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa puasa Ramadan merupakan satu rangkaian ibadah yang tidak disarankan untuk dijalankan dengan berpindah-pindah metode.

"Jawaban singkatnya tidak disarankan, karena puasa itu merupakan ibadah yang satu paket," jelasnya.

Dalam Islam, muslim diminta untuk taat pada satu metode. Jika berpindah-pindah metode, ada dua risiko yang bisa terjadi. Salah satunya jumlah puasa bisa kurang dari 29 hari.

"Yang pertama, puasanya bakalan kurang dari 29 hari. Ini kalau misalnya kita tuh puasanya telat, tapi Lebaran-nya itu kecepatan. Padahal syarat dalam satu bulan itu adalah 29 hari," tambahnya.

Sedangkan untuk risiko kedua, yakni seseorang berpotensi berpuasa pada hari raya jika memulai puasa lebih awal, tetapi merayakan Idul Fitri mengikuti pihak lain yang lebih lambat.

"Karena Rasulullah SAW bersabda, puasa itu ialah hari di mana kalian semua berpuasa, dan Idul Fitri ialah hari di mana kalian semua berbuka atau Lebaran hadis Riwayat Tirmidzi," terangnya.

Maksudnya, ibadah ini sifatnya jemaah atau kebersamaan. Kalau misalnya seseorang yakin pakai KHGT versii Muhammadiyah, maka dari awal sampai akhir harus sesuai dengan KHGT.

"Tapi, kalau misalnya kalian puasanya mengikuti dengan metode rukyat, maka dari awal sampai akhir pun harus menggunakan metode rukyat. Kuncinya adalah konsisten," pungkasnya.

Baca selengkapnya di detikJatim




(nor/nor)










Hide Ads