Perbedaan penetapan awal Ramadhan maupun hari raya Idul Fitri di Indonesia kerap terjadi karena perbedaan metode penentuan yang digunakan. Kondisi ini pun sering menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat.
Salah satunya apakah boleh menjalankan puasa mengikuti keputusan pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU), tetapi merayakan Idul Fitri lebih dulu bersama Muhammadiyah.
Pertanyaan tersebut biasanya muncul ketika terdapat perbedaan penetapan 1 Syawal antara pemerintah, NU, dan Muhammadiyah. Hal ini membuat sebagian umat Islam bingung menentukan sikap, terutama jika ingin tetap menjaga kebersamaan dengan keluarga atau lingkungan sekitar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal tersebut, Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Darunnajah Hendro Risbiyantoro menjelaskan, pada dasarnya seseorang boleh saja menjalankan puasa mengikuti satu kelompok, namun merayakan Idul Fitri bersama kelompok lain. Namun, hal ini hanya diperbolehkan apabila awal Ramadhan yang dijalani sama.
"Ya, nggak ada masalah, nggak apa-apa, asalkan harus dipastikan awal Ramadhan-nya bareng," ujar Hendro dalam video yang diunggah di akun Instagramnya @hendro_risbiyantoro, dikutip Senin (17/3/2026).
Ia menjelaskan persoalan dapat muncul jika awal Ramadhan berbeda seperti yang terjadi pada tahun ini. Diketahui Muhammadiyah puasa mulai 18 Februari 2026 dengan metode hisab. Sementara pemerintah dan NU berpuasa mulai 19 Februari 2026 dengan metode rukyatul hilal.
"Jika nanti yang ikut puasa di tanggal 18, kemudian Lebaran-nya ikut tanggal 19. Itu akan berpotensi nambah jumlah hari. Bisa jadi puasanya 31 hari. Nah, ini artinya lebih dari satu bulan," terangnya.
Sebaliknya, ada juga kemungkinan jumlah puasa menjadi kurang dari satu bulan, misalnya hanya 28 hari.
"Ada juga pertanyaan, kalau umpamanya kita puasa belakangan, Lebaran-nya ikut yang duluan, nanti jumlahnya 29 hari, kan satu bulan. Iya, satu bulan. Tetapi itu nanti menjadi inkonsistensi dalam kita bermetode, nanti masuknya ke ranah fikih," katanya.
Karena itu, ia menyarankan agar umat Islam tetap konsisten dengan metode penentuan awal Ramadhan yang diikuti sejak awal.
"Sudah, yang ikut puasa tanggal 18, Lebaran-nya ikut yang itu, yang puasanya tanggal 19, Lebaran-nya ikut yang itu. Itu lebih selamat, insyaallah" ujarnya.
Pandangan serupa juga disampaikan melalui unggahan akun Instagram @muhammadiyah_banyumas. Dalam video tersebut dijelaskan menjalankan puasa mengikuti satu kelompok, lalu merayakan Idul Fitri dengan kelompok lain sebenarnya tidak disarankan.
"Jawaban singkatnya tidak disarankan, karena puasa itu merupakan ibadah yang satu paket," jelasnya.
Dalam Islam, muslim diminta untuk taat pada satu metode. Jika berpindah-pindah metode, ada dua risiko yang bisa terjadi. Salah satunya jumlah puasa bisa kurang dari 29 hari.
"Yang pertama, puasanya bakalan kurang dari 29 hari. Ini kalau misalnya kita tuh puasanya telat, tapi Lebaran-nya itu kecepatan. Padahal syarat dalam satu bulan itu adalah 29 hari," tambahnya.
Sedangkan untuk risiko kedua, yakni seseorang berpotensi berpuasa pada hari raya jika memulai puasa lebih awal, tetapi merayakan Idul Fitri mengikuti pihak lain yang lebih lambat.
"Karena Rasulullah SAW bersabda, puasa itu ialah hari di mana kalian semua berpuasa, dan Idul Fitri ialah hari di mana kalian semua berbuka atau Lebaran hadis Riwayat Tirmidzi," terangnya.
Maksudnya, ibadah ini sifatnya jemaah atau kebersamaan. Kalau misalnya seseorang yakin pakai KHGT versii Muhammadiyah, maka dari awal sampai akhir harus sesuai dengan KHGT.
"Tapi, kalau misalnya kalian puasanya mengikuti dengan metode rukyat, maka dari awal sampai akhir pun harus menggunakan metode rukyat. Kuncinya adalah konsisten," pungkasnya.
(auh/irb)











































