detikBali
Liputan Khusus Nyepi dan Lebaran di Bali

Kala Masjid Ajak Umat Hormati Nyepi

Terpopuler Koleksi Pilihan
Liputan Khusus Nyepi dan Lebaran di Bali

Kala Masjid Ajak Umat Hormati Nyepi


Hani Sofia Muthmainnah - detikBali

Umat menjalankan salat di Masjid Al-Muhajirin, Pemogan, Denpasar.
Umat menjalankan salat di Masjid Al-Muhajirin, Pemogan, Denpasar. (Foto: Hani Sofia/detikBali)
Denpasar -

Malam takbiran di Bali tahun ini dipastikan berjalan berbeda. Bukan karena dilarang, tetapi karena dipilih untuk disederhanakan.

Di tengah pertemuan dua momen besar, Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi, umat Islam di Pulau Dewata mengambil satu sikap: menjaga kekhusyukan dengan cara saling menghormati.

Tidak ada pawai keliling kampung. Tidak ada tabuhan bedug yang bersahut-sahutan. Miniatur masjid yang biasanya meramaikan jalanan pun absen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Takbir tetap dikumandangkan, tetapi dari dalam masjid, tanpa pengeras suara.

ADVERTISEMENT

Perubahan itu terjadi karena malam takbiran diperkirakan bertepatan dengan Nyepi pada 19 Maret 2026, hari ketika seluruh aktivitas di Bali berhenti total, digantikan oleh keheningan.

Di situ, dua kepentingan besar bertemu.

Di satu sisi, takbiran adalah syiar dan ungkapan kemenangan. Di sisi lain, Nyepi adalah perenungan dalam sunyi.

Bagi pengurus masjid, pilihan yang diambil bukan soal mana yang didahulukan, melainkan bagaimana keduanya bisa berjalan tanpa saling mengganggu.

Ketua takmir Masjid Al-Muhajirin, Abdul Ghani, menyebut keputusan membatasi takbiran sebagai bentuk kesepahaman bersama.

"Ya, itu sebetulnya sebagai jalan tengah ya. Jalan tengah antara agama-agama menyepakati itu. Seperti apa namanya kemarin, sudah ada keputusan FKUB. Itu jalan tengah," ujar Ghani kepada detikBali, Sabtu (14/3/2026).

Ia menegaskan, menjalankan ibadah tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial di sekitarnya.

"Karena di situ ada dua momen yang sama-sama penting. Satunya untuk Nyepi, satunya untuk syiar. Itu memang perlu dipahami. Kita menjalankan suatu ibadah, tapi menyakiti orang lain kan juga tidak boleh," imbuhnya.

Di Masjid Al-Muhajirin, takbiran tahun ini kemungkinan hanya dilakukan secara terbatas. Tanpa pengeras suara, tanpa pawai, tanpa keramaian.

"Karena memang himbauan juga dari pemerintah. Himbauan dari pemerintah, dari FKUB. Paling-paling sekedar aja kita di masjid tanpa pengeras suara," jelasnya.

Situasi serupa juga terjadi di sejumlah masjid lain di Denpasar.

Masjid Baitul Makmur di kawasan Monang-Maning, misalnya, memilih membatasi takbiran hanya setelah salat Magrib dalam waktu singkat, lalu dilanjutkan secara sederhana di waktu-waktu salat berikutnya.

Persiapan yang biasanya meriah pun nyaris tidak terlihat.

"Memang untuk tahun ini kegiatan kami sangat minim," ujar Ghani.

"Sudah dipastikan kita tidak ada takbiran keras-keras. Seandainya dilaksanakan tanggal 21 kita ada takbiran tapi hanya di masjid saja. Tidak ada keliling. Karena ini mepert, tidak ada persiapan," sambungnya.

Hingga kini, pengurus masjid juga masih menunggu keputusan resmi pemerintah terkait penetapan Idul Fitri.

"Memang kita menunggu keputusan pemerintah, kapan ini ya? Kita kan nggak tahu, belum bisa ngomong. Kita cuma mengumumkan masih menunggu keputusan pemerintah," terangnya.

Meski demikian, sikap untuk menghormati Nyepi sudah lebih dulu disepakati.

Ghani menyebut imbauan serupa datang dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, FKUB, hingga organisasi keagamaan.

"Dan memang kita sangat menghormati keputusan kemarin dari gubernur, dari FKUB, dari Kementerian Agama, dari PHDI juga, Dewan Masjid Indonesia," bebernya.

Bahkan, menurutnya, Muhammadiyah juga telah menyampaikan tidak akan menggelar takbiran tahun ini.

"Dari Muhammadiyah menyampaikan tidak ada takbiran. Tidak ada," katanya.

Dengan Nyepi yang berlangsung sejak 19 Maret pukul 06.00 Wita hingga 20 Maret pukul 06.00 Wita, aktivitas yang menimbulkan keramaian memang tidak memungkinkan dilakukan.

Namun bagi warga, pembatasan itu bukan dianggap sebagai kehilangan.

Sebaliknya, ini menjadi cara untuk menjaga harmoni yang selama ini hidup di Bali.

"Takbiran hanya sekedar saja di rumah masing-masing," terang Ghani.

Di tengah dinamika yang ramai di media sosial, kondisi di lapangan justru cenderung tenang.

"Hanya di media sosial saja. Kalau di sini hampir tidak ada perdebatan," ujarnya.

Sosialisasi berjalan melalui berbagai cara, dari ceramah Jumat hingga percakapan di lingkungan warga. Pesannya sederhana: merayakan tanpa mengganggu.

"Kita ajak semua untuk menghormati Nyepi. Walaupun kita merayakan Idul fitri, kita tetap menjaga toleransi," bebernya.

Di Bali, malam takbiran tahun ini mungkin tidak akan terdengar jauh. Tidak ada gema, tidak ada keramaian.

Namun justru di situlah maknanya bergeser, dari sekadar perayaan, menjadi sikap saling menjaga.




(dpw/dpw)











Hide Ads