detikBali
Liputan Khusus Nyepi dan Lebaran di Bali (1)

Sunyi Nyepi, Takbir Ditahan: Bali Menjaga Dua Hari Raya

Terpopuler Koleksi Pilihan
Liputan Khusus Nyepi dan Lebaran di Bali (1)

Sunyi Nyepi, Takbir Ditahan: Bali Menjaga Dua Hari Raya


Wibhi Leksono - detikBali

Ilustrasi peranyaan Nyepi dan Idul Fitri 2026 di Bali.
Ilustrasi peranyaan Nyepi dan Lebaran Idul Fitri 2026 di Bali. (Foto: dok. detikBali)
Denpasar -

"Karena dari keheningan, kita sadar siapa sejatinya kita di dunia ini."

Kalimat itu kerap muncul saat orang membicarakan Nyepi-hari yang tampak sunyi, tetapi justru penuh makna. Di Bali, keheningan bukan sekadar absennya suara, melainkan ruang untuk menahan diri, menimbang ulang hidup, dan meredam ego.

Tahun 2026 menghadirkan momen yang tidak datang setiap waktu. Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026, beriringan dengan malam takbiran menjelang Idul Fitri yang diperkirakan berlangsung pada Jumat, 20 Maret 2026. Muhammadiyah sejak jauh hari telah menetapkan Idul Fitri jatuh pada tanggal itu, sementara pemerintah dan ormas Islam lainnya masih menunggu hasiil sidang isbat pada 19 Maret.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya, dalam satu rentang waktu yang sama, dua perayaan besar dengan karakter yang sangat berbeda kemungkinan besar akan bertemu. Yang satu dijalani dalam diam total. Yang lain biasanya dirayakan dengan gema takbir dan sukacita.

ADVERTISEMENT

Di Bali, pertemuan itu tidak dihadapi dengan pertentangan. Ia dihadapi dengan penyesuaian.

Nyepi sendiri merupakan penanda pergantian Tahun Baru Saka dalam tradisi Hindu. Berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya, umat Hindu di Bali justru menyambutnya dengan Catur Brata Penyepian-empat pantangan utama yang dijalankan selama 24 jam penuh.

Tidak menyalakan api atau cahaya berlebihan, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan.

Selama periode itu, seluruh aktivitas di Bali berhenti. Jalanan kosong, bandara tidak beroperasi, lampu dipadamkan, dan masyarakat diminta tetap berada di rumah. Bahkan bunyi-bunyian dijaga agar tidak terdengar keluar.

Di sisi lain, malam takbiran merupakan salah satu momen paling meriah bagi umat Islam. Kumandang takbir biasanya menggema dari masjid, diiringi pawai, tabuhan bedug, hingga arak-arakan yang melibatkan masyarakat.

Dua suasana yang bertolak belakang itu pada tahun ini berada di waktu yang sama.

Pertemuan ini juga mencerminkan perjumpaan dua sistem penanggalan besar. Kalender Saka yang digunakan umat Hindu berbasis peredaran matahari, sementara kalender Hijriyah yang digunakan umat Islam mengikuti peredaran bulan.

Pada 2026, kedua sistem itu berpapasan-Tahun 1948 Saka dan 1447 Hijriyah bertemu dalam satu momentum yang sama.

Namun bagi masyarakat Bali, situasi semacam ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Tradisi hidup berdampingan di tengah perbedaan sudah berlangsung lama, dan setiap pertemuan seperti ini selalu dihadapi dengan cara yang serupa: mencari jalan tengah.

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Nyoman Kenak, mengingatkan agar perbedaan tersebut tidak dibesar-besarkan. Menurutnya, baik Nyepi maupun Idul Fitri sama-sama mengajarkan pengendalian diri.

"Nyepi itu ruang refleksi. Bukan sekadar mematikan lampu atau menghentikan aktivitas, tetapi mematikan ego dalam diri," kata Kenak.

Ia menjelaskan, karena tahun ini Nyepi bertepatan dengan malam takbiran, tokoh lintas agama bersama pemerintah telah menyepakati sejumlah penyesuaian agar kedua tradisi tetap dapat berjalan.

Dalam seruan bersama tersebut, umat Islam diperkenankan melaksanakan takbiran di masjid atau musala terdekat. Pelaksanaannya dilakukan tanpa pengeras suara, tanpa petasan, dan tanpa bunyi-bunyian lain.

Takbiran juga dibatasi hingga pukul 21.00 Wita, dengan penerangan secukupnya.

Keamanan kegiatan menjadi tanggung jawab pengurus masjid dengan berkoordinasi bersama aparat setempat. Sementara pecalang, aparat desa, hingga unsur keamanan lainnya turut membantu menjaga ketertiban selama Nyepi berlangsung.

Menurut Kenak, kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa setiap perbedaan selalu memiliki ruang untuk dipertemukan.

"Intinya selalu ada jalan. Yang penting esensi upacaranya tetap dilaksanakan," ujarnya.

Ia juga menilai polemik yang muncul belakangan lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi yang berkembang di luar Bali. Dalam praktik sehari-hari, masyarakat di Pulau Dewata telah terbiasa menjalani kehidupan berdampingan tanpa gesekan berarti.

"Jangan terprovokasi dari pengaruh-pengaruh orang luar. Karena realita yang selama ini ada di Bali, semua umat beragama berjalan dengan beriringan dan baik-baik saja," tegasnya.

Di Bali, keheningan Nyepi tetap dijaga sebagai bagian dari tradisi yang sakral. Di saat yang sama, umat Muslim tetap diberi ruang untuk menjalankan ibadahnya, meski dengan cara yang lebih sederhana.

Takbir tidak hilang. Ia hanya dipelankan.

Dan di antara sunyi dan gema yang ditahan itu, Bali menunjukkan satu hal yang jarang terlihat di tempat lain: bagaimana dua keyakinan besar berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.

Di satu sisi, malam akan benar-benar gelap dan hening. Di sisi lain, ada doa-doa yang dilantunkan pelan di dalam masjid.

Tidak terdengar jauh, tetapi tetap sampai.




(dpw/dpw)











Hide Ads