Berada di tengah kesibukan perkotaan terkadang membuat seseorang membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mengunjungi ruang terbuka hijau, seperti taman kota, kawasan pepohonan, atau ruang publik yang dipenuhi tanaman.
Selain menjadi tempat rekreasi, ruang terbuka hijau juga kerap dikaitkan dengan kesehatan psikologis. Suasana yang lebih asri dapat menjadi pilihan bagi masyarakat untuk berjalan kaki, berolahraga, bersantai, hingga berinteraksi dengan orang lain.
Penelitian Eva Kenny dkk berjudul Pengaruh Ruang Terbuka Hijau Terhadap Psikologis Masyarakat membahas hubungan keberadaan ruang terbuka hijau dengan kondisi psikologis masyarakat perkotaan. Penelitian diterbitkan dalam jurnal Arsitektural: Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan. Para peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif, survei daring, serta kajian literatur untuk mengkaji pengaruh ruang terbuka hijau terhadap kondisi psikologis masyarakat.
Penelitian tersebut mencatat 141 responden atau sekitar 38,84 persen mengalami depresi ringan, sedangkan sembilan responden atau sekitar 2,48 persen mengalami depresi berat berdasarkan pengukuran yang digunakan dalam penelitian.
Peneliti juga menemukan sejumlah faktor yang dinilai berkaitan dengan tekanan psikologis masyarakat perkotaan, antara lain kurang berolahraga, terlalu banyak melakukan aktivitas sekaligus, pola makan yang tidak sehat, kurang melihat lingkungan hijau, dan terlalu sering menyendiri.
Dalam survei mengenai aktivitas di ruang terbuka hijau, responden menyebutkan beberapa kegiatan yang dinilai dapat membantu mengurangi depresi. Aktivitas tersebut meliputi makan dan minum, berinteraksi sosial, berolahraga, menjalankan hobi, serta bersantai di bawah pohon.
Temuan ini menunjukkan, ruang terbuka hijau tidak hanya berfungsi sebagai tempat yang ditumbuhi tanaman. Ruang tersebut juga dapat menyediakan kesempatan bagi masyarakat untuk bergerak, beristirahat, dan membangun interaksi sosial.
Hasil survei tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa mengunjungi taman secara langsung dapat menyembuhkan depresi atau menghilangkan stres pada setiap orang.
Penelitian itu juga menyoroti pentingnya fasilitas dan desain ruang terbuka hijau. Taman yang hanya berfungsi sebagai elemen estetika belum tentu dapat mengakomodasi kebutuhan pengunjung untuk beraktivitas dan bersantai.
Peneliti menyarankan penyediaan fasilitas seperti tempat duduk di bawah pohon rindang, area olahraga, tempat bermain anak, serta ruang untuk berkumpul dan melakukan kegiatan bersama. Elemen alam seperti tanaman, bebatuan, dan air juga dibahas sebagai bagian dari rancangan taman yang dapat mendukung suasana relaksasi.
Simak Video "Video: Akui Jakarta Kekurangan RPTRA, Ini Solusi dari Pramono"
(astj/astj)