Kualitas udara di Palembang masih dalam kategori berbahaya, akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumsel. Bahkan angka Konsentrasi Partikulat atau PM2.5 tercatat di angka tertinggi selama karhutla yakni 1134,5 µg/m³ pada Kamis (15/10/2026).
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan angka PM.25 meningkat hingga tembus ke angka tertinggi saat dini hari. Angka tersebut tertinggi sejak karhutla terjadi.
"Sejak dini hari PM2.5 memang mencapai angka lebih dari 1000 µg/m³ dengan level berbahaya," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pantauan di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang kualitas udara di Palembang tercatat di level berbahaya sejak dini hari. Angka PM.25 pada pukul 01.00 WIB tercatat sudah sangat tinggi yakni 1103,1 ug/m³ , kemudian terus meningkat hingga pada pukul 02.00 WIB mencapai angka tertinggi yakni 1134,5 µg/m³.
Setelah itu angka PM.25 sempat mengalami penurunan pada pukul 03.00 WIB di angka 905,7 µg/m³. Namun kembali naik ke 1039, 3 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB dan turun kembali ke 957,73 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB.
Kemudian angka PM.25 tersebut terus mengalami penurunan menjelang pagi hari hingga pukul 08.00 WIB berada di angka 426,7 µg/m³ tetapi masih dalam kategori berbahaya.
"Pada pukul 06.00 WIB PM.25 turun ke 568 µg/m³ dan kembali turun hingga pukul 08.00 WIB berada di angka 426,7 µg/m³," ujarnya.
Wandayantolis menjelaskan akibat tebalnya kabut asap tersebut, membuat jarak pandang menurun hingga kurang dari 100 meter.
"Jarak pandang menurun hingga kurang dari 100 meter. Penurunan jarak pandang dipengaruhi oleh adanya kabut, sehingga udara makin terlihat kabur," ujarnya.
Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk terus menggunakan masker saat berada di luar ruangan dan perbanyak minum air putih. Serta selalu utamakan keselamatan saat berkendara.
