Dokter RSMH Ingatkan Bahaya Kabut Asap bagi Penderita Asma

Sumatera Selatan

Dokter RSMH Ingatkan Bahaya Kabut Asap bagi Penderita Asma

Welly Jasrial Tanjung - detikSumbagsel
Minggu, 04 Okt 2026 12:00 WIB
Petugas medis mendata ulang pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) saat menjalani perawatan di Puskesmas Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Selasa (1/9/2026). Pusat Kesehatan Masyarakat Samatiga berupaya menambahkan kamar rawat inap dan petugas kesehatan untuk mengantisipasi meningkatnya pasien kasus ISPA yang sejak tiga bulan terakhir mengalami peningkatan dari 60 kasus pada bulan Juni, 99 kasus bulan Juli dan 125 kasus pada bulan Agustus 2026 akibat dampak kebakaran hutan dan lahan di wilayah itu. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/YU
Foto: Ilustrasi penderita ISPA (ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)
Palembang -

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah di wilayah Sumatera Selatan tidak sekadar menyebabkan gangguan jarak pandang. Kondisi udara yang dipenuhi partikel juga dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada penderita asma.

Dokter Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang dr Zen Ahmad, SpPD(K) menjelaskan asap kebakaran membawa peningkatan materi partikulat, termasuk PM2.5, serta gas karbon oksida. Kondisi tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan.

"Pada kebakaran hutan, partikel PM2.5 meningkat. Ini menimbulkan iritasi atau peradangan pada saluran napas, akibatnya saluran napas menyempit," kata Zen saat dihubungi detikSumbagsel, Sabtu (3/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi lebih berisiko bagi penderita asma. Sebab, saluran napas penderita asma pada dasarnya sudah mengalami penyempitan sehingga paparan partikel asap dapat membuat penyempitan semakin berat.

"Pasien asthma yang saluran napasnya sudah sempit akan bertambah sempit. CO2 menumpuk di paru dan O2 yang masuk kurang," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Akibatnya, penderita asma yang sebelumnya tidak mengalami sesak dapat mengalami keluhan tersebut setelah terpapar asap. Sementara mereka yang sudah mengalami sesak berpotensi mengalami kondisi yang semakin berat.

Zen menjelaskan tubuh membutuhkan oksigen yang cukup untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Oksigen dari udara masuk melalui saluran pernapasan menuju paru-paru, kemudian masuk ke pembuluh darah untuk diedarkan ke seluruh tubuh.

Dalam kondisi udara normal sekalipun, kata Zen, orang dengan gangguan pada saluran pernapasan seperti asma dapat mengalami sesak. Ketika kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran, kondisi tersebut dapat semakin mengganggu proses pernapasan.

"Jadi bisa kita bayangkan apa yang terjadi akibat asap kebakaran ini pada penderita penyakit paru, khususnya asthma," katanya.

Selain berdampak pada saluran pernapasan, partikel asap juga dapat mengiritasi mata. Kondisi itu dapat menyebabkan mata berair dan pandangan terganggu.

Untuk mengurangi risiko paparan asap, Zen mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah yang tidak diperlukan selama kualitas udara memburuk. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker ketika harus keluar rumah.

"Batasi keluar rumah untuk hal yang tidak perlu. Pakai masker dan usahakan asap dari luar rumah jangan masuk ke dalam rumah," jelasnya.

Dia juga mengingatkan masyarakat tidak menambah sumber asap di dalam rumah. Aktivitas seperti merokok, membakar obat nyamuk, menyalakan lilin, hingga memasak menggunakan kayu bakar sebaiknya dihindari saat kondisi udara sedang buruk.

Selain itu, masyarakat dianjurkan menjaga asupan makan dan minum. Jika mulai muncul gejala gangguan pernapasan yang mengganggu, masyarakat diminta segera berkonsultasi dengan dokter.

"Kontrol ke dokter bila timbul gejala pernapasan yang mulai mengganggu," pungkasnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads