Warga binaan Lapas Khusus Narkotika (Lapastik) Kelas IIB Muara Sabak, berhasil mencetak sejarah dengan melakukan ekspor perdana 6,8 ton arang batok kelapa. Hasil produksi warga binaan ini tembus pasar ekspor hingga ke negara seperti Arab Saudi hingga China.
Arang batok kelapa itu merupakan hasil kegiatan kerja dan pembinaan kemandirian warga binaan di Lapastik Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi. Pengiriman perdana ekspor arang batok kelapa dilaksanakan pada Senin (23/8/2026).
"Kualitas arang kami ini kadar airnya di bawah 9 persen, termasuk standar yang dicari pembeli luar. Ada permintaan dari China, Arab Saudi, dan Asia Selatan," kata Kepala Lapastik Muara Sabak, Muhammad Askari Utomo, kepada detikSumbagsel, Selasa (25/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Askari menerangkan bahwa ide pembuatan arag batok kelapa ini karena adanya potensi sumber daya alam lokal di sana khususnya sektor perkebunan kelapa yang melimpah. Maka dari itu, batok kelapa dikembangkan menjadi produk turunan menjadi arang.
Arang batok kelapa ini diproduksi oleh sembilan warga binaan di Lapastik Muara Sabak. Seluruh bahan baku batok kelapa ini dikirim dari keluarga warga binaan. Selanjutnya, batok kelapa itu akan dibakar di lingkungan Lapas.
Produk yang dikirim berupa arang batok kelapa yang selanjutnya akan dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk kebutuhan industri, termasuk pengolahan karbon aktif dan produk briket.
"Bagi kami, ini penting karena menunjukkan bahwa kegiatan pembinaan dapat diarahkan pada aktivitas yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai pembelajaran bagi warga binaan," ujar Askari.
Dari kegiatan ini, Askari berharap warga binaan mendapatkan pengalaman dalam proses kerja dan produksi, sehingga memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal setelah bebas. Di sisi lain, dia ingin kegiatan pembinaan menghasilkan sesuatu yang nyata dan memiliki nilai tambah, bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu.
"Kami ingin membangun jembatan antara kehidupan di dalam Lapas dengan kehidupan setelah warga binaan kembali ke masyarakat," ujarnya.
Oleh karena itu, kata Askari, pihaknya sangat terbuka terhadap kerja sama dengan dunia usaha. Lapas memiliki sumber daya manusia yang perlu dibina, sementara dunia usaha memiliki kebutuhan terhadap tenaga, keterampilan, bahan baku, dan produk.
"Kalau keduanya dapat dipertemukan dengan tata kelola yang baik, maka manfaatnya bisa jauh lebih besar. Untuk target ke depan kami tidak ingin menjadikan pengiriman hari ini sebagai kegiatan seremonial semata," tegasnya.
Menurutnya, Lapastik Muara Sabak senantiasa melakukan evaluasi terhadap kualitas produk, kontinuitas produksi, efisiensi, serta pengembangan kerja sama dengan mitra. Dia juga ingin memastikan bahwa pengembangan kegiatan kerja tetap berada dalam koridor pembinaan Pemasyarakatan, dengan memperhatikan aspek keamanan, pengawasan, dan hak-hak warga binaan.
"Kami berharap kegiatan seperti ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, karena keberhasilan Pemasyarakatan bukan hanya tanggung jawab Lapas. Ketika Warga Binaan nantinya kembali ke masyarakat, masyarakat juga memiliki peran untuk memberikan ruang bagi mereka untuk bekerja, berusaha, dan memulai kehidupan yang lebih baik," pungkasnya.
