Hotspot Sumsel Catat Rekor Lagi, 4 Daerah Terdeteksi Tinggi

Sumatera Selatan

Hotspot Sumsel Catat Rekor Lagi, 4 Daerah Terdeteksi Tinggi

Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Kamis, 13 Agu 2026 20:00 WIB
Sebaran hotspot dari data Sipongi.
Sebaran hotspot dari data Sipongi. (Foto: Istimewa/BPBD Sumsel)
Palembang -

Jumlah hotspot atau titik panas harian di Sumatera Selatan, kembali mencatat angka tertinggi pada Rabu (13/8/2026). Dari data Sipongi, hotspot yang tercatat sebanyak 278 titik. Angka itu melebihi jumlah hotspot harian tertinggi sebelumnya yang hanya 251 titik

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan peningkatan hotspot terjadi karena wilayah Sumsel memasuki puncak musim kemarau.

"Tercatat hotspot kemarin (13/8) sebanyak 278 titik. Angka harian hotspot itu tertinggi sepanjang 2026," ujarnya, Kamis (13/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari total 278 titik, hotspot terdeteksi di 15 daerah. Wilayah paling banyak berada di lahan mineral 191 titik dan di gambut 87 titik. Empat daerah mencatatkan titik panas terbanyak, mencapai puluhan titik.

"Banyuasin tercatat 60 titik (mineral 32 titik dan gambut 28 titik), OKI 56 titik (mineral 40 titik dan gambut 16 titik), Muba 48 titik (mineral 31 titik dan gambut 17 titik), dan Muara Enim 40 titik (mineral 19 titik dan gambut 21 titik)," katanya.

ADVERTISEMENT

"Hanya Palembang dan Prabumulih yang tidak terpantau hotspot," sambungnya.

Sepanjang 1-12 Agustus, hotspot yang terpantau mencapai 1.783 titik. Hotspot paling banyak terpantau di OKI 433 titik, Muba 299 titik, dan Muara Enim 220 titik.

"Angka itu telah melebihi catatan hotspot bulanan pada Juli lalu yang terdeteksi sebanyak 1.721 titik," tambahnya.

Sementara sepanjang Januari-12 Agustus, jumlah hotspot yang terpantau sebanyak 5.353 titik. Wilayah paling banyak terdeteksi di Muba 851 titik, Muara Enim 821 titik, dan OKI 756 titik.

"Tingginya jumlah hotspot menjadi perhatian serius karena kondisi lahan yang semakin kering dapat membuat api lebih mudah muncul dan meluas apabila tidak segera ditangani," ungkapnya.

Sudirman menegaskan, keberadaan hotspot tidak serta-merta berarti telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan indikator awal yang perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan apakah terdapat api atau tidak.

"Hotspot belum tentu merupakan titik api. Karena itu, setiap titik yang terpantau harus dilakukan pengecekan dan verifikasi di lapangan," tukasnya.



(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads