Sumsel Catat Angka Hotspot Tertinggi, 241 Titik Terdeteksi di 12 Daerah

Sumatera Selatan

Sumsel Catat Angka Hotspot Tertinggi, 241 Titik Terdeteksi di 12 Daerah

Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Sabtu, 08 Agu 2026 21:00 WIB
Data sebaran hotspot di Sumsel.
Data sebaran hotspot di Sumsel. (Foto: IStimewa/BPBD Sumsel)
Palembang -

Jumlah titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan (Sumsel) melonjak drastis. Berdasarkan pemantauan 7 Agustus 2026, tercatat 241 titik hotspot tersebar di sejumlah wilayah Sumsel.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan ratusan titik panas tersebut terpantau baik di lahan mineral maupun lahan gambut.

"Dari hasil pemantauan pada 7 Agustus, tercatat sebanyak 241 titik hotspot terdeteksi di Sumsel. Angka itu tertinggi sepanjang 2026," ujar Sudirman, Sabtu (8/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudirman menyebut, dari jumlah tersebut sebanyak 166 titik di antaranya terpantau berada di lahan mineral. Sementara sisanya, 76 titik berada di lahan gambut. Daerah dengan jumlah hotspot terbanyak berada di Ogan Komering Ilir (OKI), yakni mencapai 79 titik.

"Untuk sebaran terbanyak ada di OKI, sebanyak 79 titik. Dari jumlah itu, 62 titik di antaranya berada di lahan gambut dan 17 titik di lahan mineral," katanya.

ADVERTISEMENT

Selain di OKI, hotspot juga terpantau di 11 wilayah lain. Yakni di Muara Enim 33 titik (2 titik di gambut), Muba 27 titik (5 di gambut), OKU Timur 22 titik, Banyuasin 16 titik (6 titik di gambut) dan Ogan Ilir 16 titik.

Kemudian di OKU 12 titik, Lahat 11 titik, Muratara 8 titik, PALI 7 titik (1 titik di gambut), Mura dan OKU Selatan masing-masing 5 titik.

Tingginya jumlah hotspot ini dikatakannya, menjadi perhatian karena Sumsel saat ini masih menghadapi kondisi puncak musim kemarau. Kondisi itu meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah muncul dan berpotensi meluas apabila tidak segera ditangani," jelasnya.

Sudirman menegaskan, keberadaan hotspot tidak serta-merta berarti telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan indikator awal yang perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan apakah terdapat api atau tidak.

"Hotspot belum tentu merupakan titik api. Karena itu, setiap titik yang terpantau harus dilakukan pengecekan dan verifikasi di lapangan," jelasnya.

"Terutama yang berada di lahan gambut, ini menjadi perhatian kita. Kita terus melakukan pemantauan dan penanganan apabila ditemukan adanya titik api," katanya.

Sudirman juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diminta tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan adanya asap atau titik api.

"Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan. Kalau melihat ada titik api, segera laporkan supaya bisa dilakukan penanganan secepat mungkin," ujarnya.



(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads