Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali memburuk. Berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, kualitas udara hingga Rabu (12/8/2026) pagi berada pada kategori tidak sehat.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Stasiun Musi 2 Palembang pada pukul 08.00 WIB mencapai 144,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Kondisi tersebut masuk kategori tidak sehat.
Kondisi udara tidak sehat tersebut mulai terpantau sejak Selasa (11/8) malam. Polusi udara kemudian bertahan hingga Rabu pagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memburuknya kualitas udara di Palembang perlu diwaspadai masyarakat. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh adanya asap yang terbawa masuk ke wilayah Palembang," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis, Rabu (12/8/2026).
Dia merincikan, kualitas udara pada pukul 01.00 WIB sudah mencapai 104,2 µg/m³. Angkanya fluktuatif hingga mencapai angka tertinggi 144,4 µg/m³ pada pukul 08.00 WIB.
"Memburuknya kualitas udara Palembang terjadi di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumsel," katanya.
Wandayantolis mengatakan kondisi kualitas udara dapat berubah mengikuti pergerakan dan penyebaran asap.
"Biasanya memang malam menjelang pagi akan meningkat, karena operasi pemadaman saat malam berkurang. Termasuk water bombing tidak dilakukan. Jadi malam ada potensi peningkatan sebaran asap," ungkapnya.
Menurutnya, partikulat PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk ke saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara sedang memburuk.
"Untuk masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, kami mengimbau menggunakan masker sebagai perlindungan dari paparan partikulat," katanya.
Dengan kondisi kualitas udara yang masih berada pada kategori tidak sehat, masyarakat Palembang diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.
"Warga juga disarankan mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika konsentrasi PM2.5 meningkat. Penggunaan masker saat berada di luar ruangan juga dianjurkan untuk mengurangi paparan partikulat," tukasnya.
(dai/dai)
