Kabut Asap Muncul di Jambi, Al Haris Minta Daerah dan Perusahaan Siaga Karhutla

Jambi

Kabut Asap Muncul di Jambi, Al Haris Minta Daerah dan Perusahaan Siaga Karhutla

Ferdi Almunanda - detikSumbagsel
Kamis, 06 Agu 2026 18:00 WIB
Asap akibat karhutla mulai muncul di Jambi dan ganggu aktivitas warga.
Foto: Asap akibat karhutla mulai muncul di Jambi dan ganggu aktivitas warga. (Ferdi Almunanda)
Jambi -

Gubernur Jambi Al Haris meminta seluruh pemerintah daerah, perusahaan pemegang konsesi, hingga masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul mulai munculnya kabut asap tipis di Kota Jambi. Kondisi itu dinilai menjadi sinyal awal meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring puncak musim kemarau yang kini mulai dirasakan di hampir seluruh wilayah Jambi.

Al Haris mengatakan, kemunculan kabut asap tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Menurutnya, seluruh pihak harus bergerak lebih cepat melakukan pencegahan agar bencana kabut asap seperti yang pernah melanda Jambi pada 2015 dan 2019 tidak kembali terulang.

"Kabut asap yang mulai terlihat ini harus menjadi peringatan bagi kita semua. Meski kita tahu asap yang dirasakan bukan sepenuhnya dari karhutla yang terjadi di Jambi, bisa kemungkinan dari luar daerah Jambi akibat terbawa angin. Tetapi mengenai hal ini, jangan sampai pula Jambi kembali mengalami bencana asap seperti beberapa tahun lalu," kata Al Haris kepada detikSumbagsel, Kamis (6/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Al Haris menegaskan bahwa saat ini, tim Satgas sudah bekerja ekstra di lapangan. Bahkan dalam posko yang sudah aktif, semua Satgas sudah berperan aktif dalam mengatasi karhutla, baik itu memadamkan api serta sosialisasi ke masyarakat.

"Pencegahan harus menjadi prioritas karena ketika api sudah membesar, penanganannya akan jauh lebih sulit," ujar Al Haris.

ADVERTISEMENT

Menurut Al Haris, musim kemarau tahun ini mulai menunjukkan dampaknya. Selain kabut asap mulai terlihat di sejumlah kawasan Kota Jambi, debit air Sungai Batanghari juga terus mengalami penurunan akibat minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat lahan, terutama kawasan gambut, semakin kering dan rentan terbakar.

"Kita juga melihat debit Sungai Batanghari mulai surut. Ini menjadi indikator bahwa musim kemarau semakin kuat. Dampaknya bukan hanya terhadap ketersediaan air, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Semua pihak harus meningkatkan kewaspadaan," ujarnya.

Pantauan di sejumlah titik di Kota Jambi pada Rabu (6/8/2026) menunjukkan kabut asap tipis mulai menyelimuti langit kota. Meski belum pekat dan belum mengganggu aktivitas secara signifikan, lapisan asap sudah tampak secara visual, terutama pada pagi hari ini.

Papan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi masih menunjukkan kualitas udara berada pada kategori baik. Meski demikian, sejumlah warga mulai merasakan aroma asap kebakaran.

Salah seorang warga, Rani, mengaku mulai menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

"Sudah beberapa hari ini memang tidak hujan. Pagi dan sore kabut asap mulai kelihatan. Memang belum tebal, tapi sudah cukup jelas terlihat. Bau asap juga mulai terasa walaupun belum terlalu menyengat. Kalau keluar rumah sekarang saya pakai masker," ujar Rani.

Sementara itu, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi mencatat luas lahan yang terbakar hingga akhir Juli 2026 telah mencapai sekitar 222 hektare. Kebakaran tersebar di sejumlah daerah, di antaranya Kabupaten Muaro Jambi, Batanghari, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Tebo, hingga Merangin.

Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, BPBD bersama Satgas Karhutla telah mengoperasikan 81 posko siaga serta menyiagakan pesawat Cessna untuk patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengatakan ancaman karhutla masih tinggi karena puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir September bahkan dapat berlanjut sampai Oktober.

"Hingga saat ini luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 222 hektare. Akhir Juli ini Jambi memasuki fase puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir September, bahkan bisa sampai Oktober," kata Bachyuni.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads