Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah Kota Jambi. Asap itu diduga dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Jambi.
Meski belum pekat, lapisan asap mulai terlihat pada pagi hingga sore hari dan sudah mulai dirasakan masyarakat saat beraktivitas di luar rumah.
Sementara pantauan di papan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi hari ni menunjukkan kualitas udara masih berada pada kategori baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah parameter pencemar seperti PM10, PM2.5, SO2, CO hingga NO2 masih berada di zona hijau. Namun, munculnya kabut asap secara visual menjadi tanda bahwa dampak musim kemarau dan karhutla mulai dirasakan warga.
Warga Kota Jambi bernama Rani mengaku kabut asap mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir setelah hujan tak lagi turun.
"Sudah beberapa hari ini memang tidak hujan. Pagi dan sore kabut asap mulai kelihatan, memang belum tebal, tapi sudah cukup jelas terlihat," kata Rani kepada detikSumbagsel, Rabu (6/8/2026).
Ia mengatakan aroma asap kebakaran juga mulai tercium, meski belum terlalu menyengat. Kondisi itu membuatnya mulai membatasi aktivitas di luar rumah.
"Kalau keluar rumah sekarang sudah pakai masker. Bau asap sudah mulai terasa walaupun belum terlalu menyengat. Mudah-mudahan jangan sampai seperti beberapa tahun lalu," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengatakan potensi karhutla di Jambi masih tinggi seiring puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir September, bahkan dapat berlanjut sampai Oktober.
Hingga akhir Juli 2026, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai sekitar 222 hektare dan tersebar di sejumlah kabupaten.
"Hingga saat ini luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 222 hektare. Akhir Juli ini Jambi memasuki fase puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir September, bahkan bisa sampai Oktober," katanya.
Bachyuni mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan tidak membuang puntung rokok sembarangan saat musim kemarau. Menurutnya, sekecil apa pun api dapat dengan cepat membesar karena kondisi vegetasi yang kering.
"Penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Kami membutuhkan peran aktif masyarakat untuk mencegah munculnya titik api," ujarnya.
"Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Sekecil apa pun api, dalam kondisi kemarau yang sangat kering seperti sekarang bisa berkembang menjadi kebakaran besar. Pencegahan adalah langkah paling efektif untuk melindungi hutan, lahan, dan masyarakat dari bencana karhutla," sambungnya.
