Debit Sungai Batanghari Menyusut Berpotensi Picu Krisis Air di Jambi

Jambi

Debit Sungai Batanghari Menyusut Berpotensi Picu Krisis Air di Jambi

Ferdi Almunanda - detikSumbagsel
Rabu, 05 Agu 2026 06:30 WIB
Foto udara permukiman dan hamparan pasir di pinggir Sungai Batanghari yang surut di Tanjung Pasir, Danau Teluk, Jambi, Sabtu (18/7/2026). Sungai terpanjang di Sumatera itu mulai menyusut dan memunculkan hamparan pasir hingga seluas lima hektare lebih di sejumlah titik meliputi Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, dan Batang Hari akibat kemarau yang terjadi sejak dua bulan terakhir. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/sgd
Foto: Penyusutan debit air Sungai Batanghari (ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN)
Jambi -

Musim kemarau yang diprediksi mencapai puncaknya hingga September 2026 mulai menunjukkan dampak serius di Jambi. Tak hanya meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), debit air Sungai Batanghari kini terus mengalami penyusutan dan dikhawatirkan memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah.

"Jika kondisi ini berlanjut, ancaman kekeringan, krisis air bersih hingga sulitnya pemadaman karhutla menjadi persoalan yang harus dihadapi masyarakat. Lalu yang saya khawatirkan juga ketika kemarau semakin panjang tentunya air akan semakin berkurang. Itu yang paling bahaya," kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah kepada wartawan, Selasa (4/8/2026).

Peringatan itu juga bukan tanpa alasan. BMKG menyebut Jambi kini berada pada puncak musim kemarau yang berlangsung sejak akhir Juli dan diperkirakan berlanjut hingga September.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penurunan curah hujan secara signifikan membuat pasokan air permukaan ke Sungai Batanghari beserta anak-anak sungainya terus berkurang sehingga debit sungai ikut menyusut dari hari ke hari. Bahkan, saat ini pula, kawasan sungai Batang Tembesi di Kabupaten Sarolangun Jambi juga telah mengalami penyusutan air yang sangat serius.

Bachyuni mengatakan, menyusutnya debit Sungai si Jambi ini tidak hanya berdampak terhadap aktivitas masyarakat yang menggantungkan kebutuhan air dari sungai. Kondisi tersebut juga dapat mengganggu operasi pemadaman ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi.

ADVERTISEMENT

"Semakin sedikit cadangan air, semakin sulit petugas memperoleh sumber air untuk memadamkan api, terutama di kawasan lahan gambut yang selama ini dikenal mudah terbakar namun sangat sulit dipadamkan ketika api sudah membesar," ujarnya

"Tinggi muka air tanah yang ikut menurun akibat surutnya sungai juga membuat lahan menjadi lebih kering dan mudah terbakar," lanjut dia.

Saat ini, kata Bachyuni, Pemerintah Provinsi Jambi juga telah meminta masyarakat mulai menghemat penggunaan air. Imbauan itu bahkan telah disampaikan oleh Gubernur Jambi mengingat ancaman kekeringan diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

"Pak Gubernur sudah mengingatkan masyarakat supaya menggunakan air secukupnya karena saat ini kita baru memasuki puncak musim kemarau," sebut Bachyuni.

Tidak hanya itu, berdasarkan data BMKG sebelumnya bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi berlangsung lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi berkurangnya curah hujan serta perkembangan fenomena El Nino yang diperkirakan menguat pada Agustus hingga Oktober 2026 sehingga potensi kekeringan dan karhutla meningkat di berbagai wilayah.

Di tengah kondisi itu, Bachyuni mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap remeh sumber api sekecil apa pun. Bara puntung rokok yang dibuang sembarangan di atas hamparan rumput kering bisa berubah menjadi kobaran api hanya dalam hitungan detik ketika tertiup angin.

Selain puntung rokok, BPBD juga mewanti-wanti masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar maupun membiarkan anak-anak bermain api di lahan kering. Menurut Bachyuni, sebagian besar kejadian karhutla yang terjadi hingga kini masih berada di lahan milik masyarakat, sedangkan di kawasan perusahaan belum ditemukan kasus kebakaran.

Karena itu, patroli darat terus diperkuat di sejumlah wilayah rawan. BPBD bersama Satgas Karhutla juga terus mengintensifkan pemantauan titik panas dan mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

"Jadi selama musim kemarau ini, saya rasa pencegahan jauh lebih penting agar kebakaran tidak terus meluas," tegas Bachyuni.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads