Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Palembang mengalami peningkatan selama Juni 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, jumlah kasus ISPA naik dari 10.825 kasus pada Mei menjadi 12.257 kasus pada Juni, atau bertambah 1.432 kasus.
Meski terjadi kenaikan, Dinkes Kota Palembang menilai peningkatan tersebut masih dalam batas yang wajar dan belum tergolong signifikan. Kondisi ini disebut sebagai pola yang memang kerap terjadi saat memasuki musim kemarau.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Palembang Putri Damayanti, mengatakan peningkatan kasus ISPA setiap musim kemarau merupakan fenomena yang hampir terjadi setiap tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau melihat datanya memang ada peningkatan dari Mei ke Juni, tetapi peningkatan ini belum signifikan. Memang biasanya seperti itu saat musim kemarau," katanya kepada detikSumbagsel, Senin (20/7/2026).
Putri mengungkapkan salah satu penyebab utama meningkatnya kasus ISPA saat musim kemarau adalah tingginya paparan debu dan polusi udara. Berbeda dengan musim hujan yang secara alami membantu membersihkan partikel debu di udara, pada musim kemarau debu lebih mudah beterbangan dan bertahan lebih lama.
"Pada musim kemarau, debu dan polusi di udara lebih banyak karena tidak dibersihkan oleh hujan. Kondisi ini membuat saluran pernapasan lebih mudah teriritasi dan meningkatkan risiko terjadinya ISPA," ungkapnya.
Selain itu, perubahan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam juga menjadi faktor yang memengaruhi meningkatnya kasus penyakit saluran pernapasan tersebut.
Putri menjelaskan suhu yang sangat terik pada siang hari kemudian berubah menjadi lebih dingin pada malam hari dapat memengaruhi daya tahan tubuh seseorang.
"Perubahan suhu yang kontras antara siang dan malam dapat menurunkan imunitas tubuh untuk sementara sehingga tubuh menjadi lebih rentan terserang infeksi virus maupun bakteri penyebab ISPA," jelasnya.
Tak hanya itu, kelembapan udara yang rendah selama musim kemarau juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kasus. Udara yang cenderung kering dapat menyebabkan lapisan lendir atau mukosa di dalam hidung dan tenggorokan ikut mengering.
Padahal, mukosa tersebut memiliki peran penting sebagai benteng pertahanan pertama tubuh dalam menyaring berbagai kuman yang masuk melalui saluran pernapasan.
"Udara saat musim kemarau cenderung lebih kering. Akibatnya mukosa di hidung dan tenggorokan juga menjadi kering. Padahal lendir itu berfungsi menyaring virus dan bakteri. Ketika lapisan itu mengering, kuman lebih mudah masuk ke dalam tubuh," katanya.
Dinkes Kota Palembang mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh selama musim kemarau dengan mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak minum air putih, menggunakan masker saat beraktivitas di lingkungan berdebu.
"Jika kondisi pernapasan bermasalah segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala ISPA seperti batuk, pilek, demam, atau sesak napas agar dapat segera ditangani," tutupnya.
