Sumatera Selatan

Hotspot Sumsel Mei 2026 Tembus 708 Titik, Tertinggi Sejak 2015

Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Rabu, 03 Jun 2026 11:01 WIB
Sebaran hotspot di Sumsel dari data Sipongi. (Foto: BPBD Sumsel/Istimewa)
Palembang -

Jumlah hotspot atau titik panas di Sumatera Selatan, sepanjang Mei 2026 tercatat mencapai 708 titik. Angka tersebut menjadi yang tertinggi untuk periode bulan Mei dalam 11 tahun terakhir atau sejak 2015 berdasarkan data Sipongi.

Sebelumnya, rekor hotspot tertinggi pada Mei terjadi pada 2025 dengan 523 titik dan 2020 sebanyak 291 titik. Namun, jumlah tersebut kini terlampaui setelah lonjakan signifikan titik panas yang terjadi pada Mei tahun ini. Khususnya pada 31 Mei yang terdeteksi sebanyak 166 titik.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan peningkatan jumlah hotspot tersebut menjadi perhatian serius karena terjadi saat sebagian besar wilayah Sumsel mulai memasuki musim kemarau.

"Sepanjang Mei 2026 terpantau sebanyak 708 hotspot. Jumlah ini menjadi yang tertinggi untuk bulan Mei sejak 2015 dan melampaui catatan tahun lalu yang mencapai 523 titik," ujar Sudirman kepada detikSumbagsel, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, lonjakan hotspot dipengaruhi oleh berkurangnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara di sejumlah daerah. Hal itu sesuai prediksi BMKG yang menyebut jika curah hujan di Sumsel pada kategori rendah.

Kondisi tersebut menyebabkan vegetasi dan lapisan permukaan tanah menjadi lebih kering sehingga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Memasuki musim kemarau, potensi munculnya hotspot memang meningkat. Karena itu seluruh daerah, terutama yang selama ini rawan karhutla, harus meningkatkan kewaspadaan," katanya.

Berdasarkan pemantauan BPBD Sumsel, hotspot sepanjang Mei 2026 paling banyak ditemukan di sejumlah wilayah yang selama ini menjadi daerah rawan karhutla. Namun, deteksi hotspot tertinggi berada di Lahat 164 titik dam Muara Enim 145 titik.

Sudirman menjelaskan hotspot yang terdeteksi satelit tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran. Namun, keberadaan titik panas menjadi indikator awal yang perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan ada atau tidaknya aktivitas pembakaran maupun karhutla.

"Hotspot ini merupakan indikator awal. Karena itu setiap titik yang terpantau harus segera dilakukan pengecekan agar bisa diketahui apakah benar terjadi kebakaran atau tidak. Saat ini kita memiliki 2 patroli udara yang rutin memantau wilayah Sumsel," ungkapnya.



Simak Video "Video Menteri LH Minta Pemda Tetapkan Siaga Darurat di Wilayah Rawan Karhutla"

(csb/csb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork