Nuzulul Quran merupakan malam turunnya wahyu pertama kepada Muhammad SAW. Momen tersebut diperingati setiap tanggal 17 Ramadan.
Nuzulul Quran bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan titik balik peradaban manusia saat cahaya kebenaran mulai menyinari kegelapan zaman jahiliyah melalui perantara Malaikat Jibril di Gua Hira.
Peringatan ini menjadi kesempatan emas bagi umat Muslim untuk merenungi kembali mukjizat terbesar Islam sebagai pedoman hidup yang abadi. Dengan memahami sejarah dan hikmah di baliknya, kita diajak untuk memperkuat interaksi dengan Al-Quran, baik melalui tilawah maupun pengamalan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut ini detikSumbagsel rangkum penjelasan mengenai sejarah Nuzulul Quran yang diperingati pada malam 17 Ramadan, lengkap dengan makna dan hikmah yang terkandung didalamnya. Yuk simak!
Sejarah Nuzulul Quran Malam 17 Ramadan
Melansir jurnal berjudul Nuzulul Quran : Sejarah dan Makna Turunnya Al-Quran dalam Perspektif Islam oleh Mutmainna dkk dan laman Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Nuzulul Qur'an adalah peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW pada tanggal 17 Ramadan. Peristiwa ini terjadi ketika Nabi berusia 40 tahun dan sedang berkhalwat di Gua Hira, yang terletak di Jabal Nur, dekat Kota Mekah.
Pada malam tersebut, Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu pertama sebagai tanda dimulainya masa kerasulan beliau.
Wahyu pertama yang diturunkan adalah lima ayat awal dari Surah Al-'Alaq dalam Al-Qur'an. Malaikat Jibril memerintahkan Nabi dengan kata "Iqra" (bacalah) sebanyak tiga kali.
Nabi Muhammad SAW yang tidak dapat membaca, lantas menjawab bahwa dirinya tidak bisa membaca. Setelah itu, Jibril membacakan ayat-ayat pertama yang menjadi awal turunnya Al-Qur'an. Yang artinya:
1. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan!
2. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah! Tuhanmulah yang maha mulia.
4. Yang mengajar manusia dengan pena
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Simak Video "DPD PDIP Jatim Gelar Peringatan Nuzulul Quran, Said Abdullah Santuni Anak Yatim dan Dhuafa"
(mjy/mjy)