Menyampaikan cerama Ramadan menjadi salah satu agenda yang tidak pernah dilupakan. Ustaz atau ustazah memanfaatkan waktu setelah salat wajib serta Tarawih memberikan tausiyah kepada jamaah.
Berbagai judul mengenai kehidupan, keislaman, hingga keimanan menjadi materi yang menarik untuk disampaikan pada bulan Ramadan. Karena ini, tak jarang membutuhkan referensi baru agar suasana ceramah tidak membosankan.
Berikut 7 contoh ceramah Ramadan terbaru yang dikutip dari buku Kumpulan Kultum Ramadhan Mutiara Nasihat Seribu Bulan karya Abdur Rozaki. Yuk, pilih tema yang menurutmu menarik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Contoh Ceramah 1: Ingin Hasil Ramadan Berkualitas? Ibda Binafsika
Beragama itu mudah, semudah menjalankan apa yang telah Bera di syariatkan dalam Islam dengan baik, wajar dan ikhlas. Alat ukurnya adalah mengetahui dan memahami ajaran dan nilai agama Islam dengan baik, kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena alat ukurnya adalah memahami tuntunan atau perintah Allah Swt dan Rasul-Nya beserta larangan-Nya, sehingga di dalam melaksanakan ibadah sehari-hari seorang Muslim memiliki kejelasan orientasi "mengapa dan untuk apa saya beribadah?".
Sedangkan ikhlas, alat ukurnya adalah memastikan bahwa sesuatu yang baik dan wajar itu dilakukan dengan senang hati, sepenuh hati dan fokus di dalam berusaha mendapatkan ridha Allah Swt semata.
Semua tindakan ibadah yang dilakukan berdasarkan tuntunan tersebut, pada dasarnya memiliki nilai-nilai luhur yang dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan bersosial, berbudaya dan bermasyarakat.
Karena pada dasarnya, kebaikan sekecil apapun akan mendapat pahala kebaikan dari Allah Swt, dan begitu pula sebaliknya. Al-Qur'an surat ke 99, Az-Zalzalah ayat 7 dan 8 yang berbunyi:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula."
Ramadhan mengajarkan kepada umat manusia (khususnya orang yang beriman), tentang pentingnya membangun sikap jujur di dalam kehidupan. Terminologi "jujur" menjadi kata kunci di dalam menjalankan perintah puasa.
Berikutnya mari kita simak secuil cerita yang penting bagi kita, yakni peristiwa tentang orang yang ingin memeluk agama Islam. Orang tersebut menyatakan kepada Nabi SAW bahwa dia mempunyai kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkannya, yaitu mencuri.
Orang tersebut menyatakan bahwa di samping keinginannya yang begitu kuat untuk memeluk agama Islam, dia masih merasa kesulitan untuk menghindari kebiasaan mencuri tersebut.
Untuk memecahkan persoalan tersebut, Nabi SAW hanya meminta supaya orang itu berjanji untuk tidak berbohong (an laa takdzib). Janji untuk tidak berbohong tersebut tampaknya begitu merasuk di hati orang tersebut, sehingga sangat berpengaruh dalam kehidupan orang tersebut.
Tatkala hendak mencuri, dia senantiasa teringat janji yang dibuatnya dengan Nabi SAW. Seandainya dia masih mencuri, kemudian Nabi SAW bertanya ihwal hal tersebut, apa yang harus dijawabnya. Jika dijawab "tidak", berarti dia telah berbohong.
Akhirnya "kontrak sosial" atau yang disebut dengan "an laa takdzib" menjadi dasar moral bagi orang tersebut untuk berbuat baik, sehingga memudahkan prosesnya dalam memeluk agama Islam. Kata kunci "tidak berbohong" dari cerita di atas, pada hakikatnya berimplikasi ke berbagai sektor kehidupan kita.
Dikatakan demikian, karena sikap tersebut merupakan bentuk pengejawantahan riil dari kata "iman dan taqwa". Seseorang yang mampu menahan diri untuk tidak berbohong, berarti dia telah mampu mengendalikan diri dari keputusan tindakan yang merugikan dirinya dan orang lain, meskipun dia tidak mengerti bahwa tindakan tersebut merupakan implikasi dari iman dan taqwanya di hadapan Allah Swt.
Oleh karena itu, ada tiga hal penting yang perlu kita lakukan, agar dalam menjalani kehidupan (khususnya di bulan suci Ramadhan) dapat memberikan keberkahan dari efek kebaikan yang kita lakukan. Pertama, mulai dari diri sendiri, yaitu memastikan bahwa kebaikan yang telah terencana agar segera direalisasikan.
Sebab, tertundanya niat baik, biasanya akan cenderung membuat kebaikan gagal terealisasi. Kedua, mulai dari yang kecil dan sederhana, maksudnya tindakan-tindakan seperti menyingkirkan duri di jalan, atau menyegerakan sesuatu yang baik ketika terbesit di hati kita tentang kebaikan.
Ketiga, mulai dari sekarang, yakni menyegerakan diri ikut mengambil bagian menjadi orang pertama yang melakukan kebaikan. Inilah yang disebut Ibda Binafsika, mulailah dari diri sendiri.
Semoga di Ramadan tahun ini, kita bisa melakukan hal-hal baik di bulan Ramadhan, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan sederhana serta mulai dari sekarang. Semoga!
Ceramah Ramadan 2: Melatih Kedewasaan Melalui Berpuasa
Manusia merupakan makhluk yang bertumbuh dan berkembang, baik fisik maupun psikologis. Semakin bertambah umur manusia biasanya diiringi dengan perubahan bentuk tubuh. Proses perubahan jasmani ini terjadi hingga mencapai kematangan fisik yang bersifat kuantitatif.
Manusia mengalami perubahan jasmani atau bentuk tubuh berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Hal inilah yang dinamakan dengan pertumbuhan (secara fisik). Sedangkan perkembangan (secara psikologis) merupakan perubahan individu yang lebih ke arah rohaniah yang menjadi keunikan tersendiri untuk setiap individu.
Perkembangan antara manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda dan juga memiliki pola-pola tersendiri yang khas. Pola-pola ini hanya bisa diamati tanpa bisa diukur. Salah satu hal yang berkembang dalam hidup manusia yaitu perkembangan kedewasaan.
Kedewasaan adalah masalah universal karena berkaitan dengan bidang yang banyak bersentuhan dengan berbagai masalah kehidupan. Berbicara masalah kedewasaan, berarti berbicara mempelajari kehidupan diri sendiri dan tentang diri orang lain.
Tetapi tidak mudah menjawab apa arti makna dewasa? Apa konsep kedewasaan? Tetapi begitu mudah orang mengatakan terhadap berbagai persoalan "kegagalan atau ketidaknormalan" dengan ungkapan "dia tidak dewasa".
Sehingga muncul pemahaman bahwa kedewasaan merupakan "suatu hal yang mudah diucapkan tetapi sulit didefinisikan". Karena kedewasaan seseorang tidak selalu ditentukan oleh umur. Banyak contoh di sekitar kita yang secara umur sudah dapat dikatakan dewasa tetapi secara sikap masih seperti anak-anak.
Tetapi sikap dewasa itu sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Sehingga sikap dewasa perlu dilatih seiring bertambahnya umur. Salah satu upaya untuk melatih kedewasaan adalah dengan berpuasa, terutama puasa di bulan Ramadhan.
Mengapa demikian? mari kita pahami bersama-sama tentang makna berpuasa untuk melatih kedewasaan diri. Di dalam Islam, kedewasaan itu diukur dari satu parameter yaitu baligh. Apabila seseorang sudah baligh sudah dipastikan seseorang tersebut boleh diklasifikasikan sebagai seseorang yang telah dewasa.
Bentuk kedewasaan ini dinilai dari kematangan berfikir dan sikap menerima tanggung jawab. Berkaitan dengan puasa, seseorang yang sudah baligh yang mampu berfikir secara matang dan bertanggung jawab tentang perintah berpuasa di bulan Ramadhan, tentunya dia akan menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.
Ada juga seseorang yang sudah baligh tetapi tidak menjalankan puasa di bulan Ramadhan atau menjalankan puasa tetapi tidak memahami makna puasa, sehingga dia hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.
Puasa secara bahasa memiliki makna menahan atau al-imsak. Prosedur ibadah puasa itu menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan perihal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
Sikap "menahan" inilah yang dapat melatih manusia untuk meningkatkan kedewasaan diri. Kenapa? Pada dasarnya manusia "berfikir" memiliki hak untuk melakukan apapun baik positif maupun negatif termasuk yang membatalkan puasa.
Tetapi di bulan Ramadhan, seseorang yang sudah baligh harus "bersikap" menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Dia harus berfikir dan bertanggung jawab menjadi seorang manusia baligh yang memiliki kewajiban berpuasa. Berbeda dengan anak-anak yang masih bisa berfikir bebas untuk melakukan apapun.
Keseimbangan pemikiran dan sikap tanggung jawab dalam menjalankan puasa inilah yang dapat melatih kedewasaan.
Substansi menahan diri ini cakupannya sangat spesifik yang perlu diperhatikan oleh yang berpuasa.
Menahan diri itu dibutuhkan oleh setiap orang untuk melatih kedewasaan, tidak mengenal jenis kelamin, strata sosial, baik laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, komunitas modern atau primitif, perseorangan ataupun kelompok memerlukan sikap untuk menahan diri.
Salah satu permasalahan yang memerlukan sikap dewasa pada bulan Ramadhan di antaranya yaitu permasalahan menentukan awal dan akhir Ramadhan dan menentukan 1 Syawal. Kedewasaan dalam menyikapi permasalahan tersebut perlu dibudayakan.
Sebab hal ini hanya ranah khilafiyah dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Semuanya sudah memiliki dasar yang jelas, tidak perlu mencari siapa yang paling benar ataupun sebaliknya. Karena sebetulnya yang salah adalah yang tidak menjalankan puasa.
Orang yang mengaku beriman, tetapi tidak berpuasa (tanpa sebab udzur), berarti perlu dipertanyakan keimanannya dan dia belum sepenuhnya dewasa. Dan boleh jadi, keislamannya baru sampai kelas syahadat. Seperti halnya anak-anak yang masih bisa berfikir bebas untuk melakukan apapun.
Ramadhan merupakan bulan yang paling ampuh dan tepat, selain untuk menyucikan diri (tazkiyah an-nafs) juga untuk melatih kedewasaan diri dalam berpikir maupun bertindak.
Karena dengan berpuasa kita dituntut untuk menjaga diri dari sifat-sifat hewani dan mengumbar nafsu yang tidak dapat melatih kedewasaan diri. Sifat-sifat tersebut dapat dikendalikan dan diminimalisir dengan sikap yang dewasa.
Ceramah Ramadan 3: Mulut, Perut, dan Kemaluan
Sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 183 puasa sebagai sarana latihan yang diharapkan menghasilkan peserta atau pelaku yang berpredikat muttaqin (orang-orang yang bertaqwa).
Ini sebagai isyarat bahwa diwajibkannya puasa bukan untuk puasa itu sendiri. Puasa adalah media pembelajaran yang disediakan Allah bagi manusia yang bukan saja sebagai makhluk individu tetapi juga sebagai makhluk sosial.
Dalam kedudukannya itu, maka manusia yang bertaqwa adalah mereka yang bukan saja baik secara individu tetapi juga baik secara sosial. Karenanya puasa memiliki dua dimensi yang integratif, seperti dua sisi mata uang, yaitu dimensi individual vertikal dan dimensi sosial horizontal.
Tidak terpenuhinya dua dimensi puasa itu secara bersamaan, menjadikan pelakunya kehilangan relevansi dan puasanya menjadi meaningless (tidak bermakna). Taqwa menjadi standar moral tertinggi dalam Islam dan atas dasar taqwa itu pula seseorang dinilai baik, karena taqwa sebagaimana dijelaskan HR.
Thabarani merupakan simpul segala kebaikan (jaami'u kulli khair). Hal ini dapat dimengerti, karena dengan taqwa, seseorang akan berlaku adil terhadap diri dan orang lain, tidak diskriminatif baik atas dasar agama, ras, etnik, suku maupun gender, dapat selalu menghidupkan tali kasih antar sesama dan lain-lain.
Pantas kalau Allah menyatakan bahwa hamba yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertaqwa (QS. al-Hujurat [49]: 13). Melalui puasa yang benar diharapkan lahir sikap-sikap tersebut, sehingga berbagai bentuk kekerasan sosial seperti marginalisasi, stereotipe, subordinasi, dan ketidakadilan berkurang atau bahkan hilang.
Secara literal, taqwa adalah menjaga, memelihara dan melindungi diri dari segala hal yang akan menyakiti, merusak dan menghancurkan diri baik langsung atau tidak, dan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Makna taqwa seperti ini paralel dengan sabda Nabi yang menyatakan bahwa puasa adalah benteng (HR. Bukhari dan Muslim) yang akan melindungi pelakunya dari perilaku negatif. Di antara tubuh kita yang perlu dijaga, lebih-lebih pada saat puasa adalah mulut, perut dan kemaluan.
Mengapa ketiganya perlu dijaga dan dipelihara, karena ternyata ketiganya merupakan sumber penyakit individual dan sosial. Betapa banyak penyakit dan persoalan sosial yang muncul akibat ketiganya tidak terjaga.
Langkah-langkah menjaga, memelihara dan melindungi ketiganya adalah dengan menekan agar orientasi hidup kita tidak hanya pada pemenuhan kepentingan makan, menumpuk kekayaan dan menuruti kebutuhan seksual.
Bila kita yang puasa saja masih terjebak pada orientasi tersebut, maka hakikatnya kita mengalami fiksasi atau hambatan kepribadian. Akibat mengalami hambatan kepribadian, maka pemiliknya akan kehilangan kepekaan sosialnya, kurang peduli terhadap penderitaan sesama, tidak empatik dan lebih parah lagi cenderung sulit mengakui kesalahan yang telah dilakukannya.
Orang seperti ini, hakikatnya belum dewasa secara psikologis apalagi secara spiritual. Ia dalam bahasanya Sigmund Freud-masih terhitung sebagai anak kecil, meski mungkin sudah tua usia. Puasa mendidik pelakunya untuk menjadi manusia dewasa.
Kita perlu bertanya pada diri kita masing-masing, sudahkan puasa kita membuat kita menjadi dewasa? Secara teoritis, semakin dewasa seseorang, maka orientasi hidupnya beranjak dari yang konkrit ke yang abstrak, dari mulut, perut dan kemaluan ke penghambaan, pengabdian dan pengetahuan.
Ceramah Ramadan 3: Pola Makan
...makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan (QS. al-A'raf [7]:31)
Bagi orang yang berpunya, puasa mungkin hanya satu bulan. Namun tidak demikian bagi orang miskin-papa. Mereka relatif puasa lebih panjang, sepanjang tahun karena kesulitan mencari makan.
Mereka menjadi kelompok masyarakat yang tidak sempat memikirkan bagaimana menyimpan makanan dalam kulkas, apalagi memikirkan pendidikan. Menyisihkan makanan, apalagi dalam kulkas, makan makanan bergizi, dan pendidikan bagi mereka adalah barang istimewa.
Karena itu, bagi mereka bagaimana menyambung hidup dan terus survive dengan mengais rizki di tempat-tempat pembuangan sampah seperti di Bantar Gebang meski dengan penuh resiko adalah sebuah keniscayaan.
Mereka mengumpulkan barang-barang buangan yang sering dianggap oleh mereka yang punya tidak bermanfaat. Semuanya demi untuk makan dan terus hidup, meski dengan berbagai keterbatasan.
Menurut para ulama, ustadz, kyai, dan ahli, puasa terutama puasa Ramadhan mendidik orang yang punya kelebihan yang puasa agar memiliki etika sosial berupa sikap empati terhadap mereka yang miskin.
Dengan pengalaman langsung, orang yang berpuasa diajak mengalami hal serupa seperti yang banyak dialami oleh orang-orang miskin, yakni lapar dan haus, karena tidak atau kurang makan. Namun, dalam realitasnya apakah demikian, perlu masing-masing kita yang puasa dan kebetulan memiliki kelebihan untuk koreksi diri.
Menarik untuk mencermati fenomena pasar dan ekonomi menjelang dan saat masa puasa berlangsung. Menjelang dan masa puasa Ramadhan biasanya ditandai oleh fenomena naiknya harga-harga barang, akibat semakin meningkatnya permintaan masyarakat.
Ironis tapi menarik untuk dicermati, media massa menginformasikan bahwa pada bulan Ramadhan ini beredar daging sapi campur daging celeng, daging sapi yang digelonggong dan daging-daging ilegal lainnya serta daging kadaluarsa.
Bagi pelaku ekonomi, permintaan yang meningkat tersebut sebuah kesempatan untuk menarik keuntungan yang besar dan bagi pemerintah dianggap sebagai indikator bahwa daya beli sebagian masyarakat meningkat.
Namun, dalam konteks puasa, semua itu patut menjadi renungan dan kritik diri. Bagaimana puasa akan menjadi media edukasi sosial, kalau meningkatnya permintaan dan daya beli itu justru semakin menunjukkan kesenjangan sosial?
Maka menjadi ironis bila pada masa puasa ini justru pada satu sisi banyak orang miskin berkeliaran, menampakkan 'wajahnya' yang paling konkrit mengemis untuk menyambung hidup, sementara pada sisi lain banyak yang puasa tapi justru menumpuk dan menambah menu makanan.
Puasa, tapi malah berlebihan dan boros, sehingga wajar kalau pada bulan puasa justru kebutuhan meningkat dan harga barang naik serta banyak beredar daging ilegal.
Pada satu sisi, ada sebagian masyarakat yang dapat menambah menu dan penyimpanan makanan di kulkas, tapi pada sisi lain masih banyak bermunculan orang-orang miskin yang tidak dapat dibaca, kecuali sebagai kritik sosial atas kita yang memiliki perilaku menambah menu dan menyimpan makanan.
Puasa sejatinya sebagai media pembelajaran agar kita semakin peduli dengan tidak berlebihan menambah menu atau menyimpan dan menyisihkan makanan itu dalam kulkas. Kalaupun sampai menyimpannya, maka tidak di kulkas, tapi pada perut orang-orang miskin.
Ayat yang dikutip di atas mengingatkan kita tentang bagaimana pola makan yang benar, bukan saja di bulan puasa tapi juga di luar puasa. Pola tersebut adalah tidak berlebihan.
Ayat yang lain misalnya QS. al-Baqarah [2]: 168, menambah dengan yang dikonsumsi adalah halal dan toyyib (sangat baik). Pola ini diajarkan, bukan saja agar kita makan dengan baik tapi juga agar kita terhindar dari berbagai macam penyakit akibat makanan dan mau berbagi makanan. Semoga dalam momentum Ramadhan kali ini kita dapat merenungkannya dengan baik (introspeksi diri)!
Ceramah Ramadan 4: Belajar Jujur dari Momentum Puasa
Di antara hikmah ibadah puasa Ramadhan adalah melatih Siapakah yang yang mengaku berpuasa itu benar-benar melakukan puasa? Siapa yang tahu kalau sesungguhnya dia hanya berpura-pura, atau paginya berpuasa tetapi siang hari sudah membatalkan diri-namun tetap mengaku berpuasa? Di sinilah Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi:
"Setiap amal manusia (anak Adam) adalah milik dirinya sendiri, kecuali puasa; maka amal itu untuk Aku (Allah), dan Aku langsung yang akan memberinya pahala." (HR. Bukhari)
Puasa merupakan ibadah yang khusus dan istimewa. Berbeda dengan jenis ibadah yang lainnya. Bila seseorang mengerjakannya maka akan dengan mudah diketahui pihak lain.
Misalnya sholat, maka kita akan terlihat orang lain ketika datang ke masjid, berwudu, bagaimana kita melakukan gerakan dan membaca doa, dan sebagainya. Demikian juga membayar zakat, ada orang lain yang mengetahui perbuatan kita-setidaknya orang yang kita beri zakat tersebut.
Apalagi menunaikan ibadah umrah dan haji. Satu orang yang naik haji, maka orang satu kampung, dan bahkan satu desa akan dipamiti dan dimintai doa restunya. Berbeda dengan puasa (Ramadan) hanya diri kita dan Allah yang tahu, apakah kita benar berpuasa atau tidak.
Puasa adalah janji antara diri kita dengan Allah. Bayangkan, ketika di siang hari yang sangat panas, sementara kita di rumah seorang diri. Di situ ada minuman segar, banyak makanan yang serba mengundang selera. Kita yakin, Allah melihat apa saja yang kita perbuat. Di sinilah kejujuran itu di uji.
Nilai kejujuran itulah yang semestinya untuk terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari. Alangkah indahnya bila sifat jujur dimiliki oleh setiap muslim dan seluruh umat Islam di negeri ini. Rasulullah SAW menunjukkan arti pentingnya kejujuran:
"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang shidiq (jujur).
Dan jauhilah perilaku dusta, sebab dusta itu akan membawa kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan membawa ke neraka. Orang yang selalu berdusta dan mencari kedustaan akan ditulis oleh Allah sebagai pendusta". (HR. Bukhari).
Mengapa demikian? Negeri ini sangat membutuhkan kehadiran orang-orang yang jujur. Maka muncullah slogan yang dicanangkan KPK: Jujur itu Hebat! Hal ini menunjukkan perilaku jujur di tengah masyarakat kita ini begitu mahal dan langka.
Buktinya, dari waktu ke waktu kita masih saja mendengar adanya berita korupsi yang merasuk ke seluruh sendi kehidupan masyarakat. Permainan suap jabatan, money politic dalam pemilu atau pilkada. Dan sederet perilaku ketidakjujuran lainnya.
Tetapi bagaimana mau mengikisnya, sementara nilai ketidakjujuran juga sudah mulai dihembuskan sejak dini, melalui dunia pendidikan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan sesaat. Banyaknya perilaku menyontek, pembocoran soal ujian dan jawaban, joki ujian dan sebagainya.
Sampai kapankah mata rantai kebohongan semacam ini akan bisa diputus.
Momentum puasa Ramadhan inilah semestinya digunakan untuk membuktikan diri, bahwa ibadah puasa yang kita tunaikan benar-benar mampu mengubah diri kita menjadi orang yang bertakwa, yang salah satu sendinya memiliki sifat jujur.
Seorang anak jujur kepada orang tuanya. Suami istri jujur dalam rumah tangganya. Siswa jujur kepada guru. Pegawai jujur pada atasan. Pejabat jujur kepada rakyatnya, dan seterusnya. Maka, pastilah berbagai krisis negeri ini akan bisa segera diatasi. Mari kita mulai bersama!
Ceramah Ramadan 5: Makna Kekuatan Doa di Bulan Puasa
Dalam hidup ini, setiap orang pasti dihadapkan dengan mengatasi, tetapi tak jarang pula merasa kesulitan, kewalahan atau bahkan gagal menghadapinya. Nah, di saat seperti itulah muncul kesadaran bahwa diri kita ini makhluk yang memiliki keterbatasan dan kelemahan.
Di saat itulah, semestinya kita kemudian ingat kepada zat yang Maha Kuasa dan Mengatur segala sesuatu urusan dalam kehidupan ini-Dia adalah Allah SWT. Tapi sebagai hamba yang sering khilaf dan lupa, kondisi ini sudah menjadi mafhum dari Sang Khaliq, agar setiap kita menghadapi persoalan dan ujian hidup senantiasa mengadu dan meminta kepada-Nya.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat al-Baqarah (2: 186):
A وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
Ayat ini sudah cukup jelas, bahwa Allah sebenarnya begitu dekat kepada kita. Dan Dia telah menyatakan akan mengabulkan setiap permohonan hamba-Nya.
Persoalannya, apakah kita mau meminta? Apakah kita yakin dengan permintaan kita? Apakah kita juga sudah menempatkan diri sebagai hamba-Nya yang setia dan menunaikan perintah-perintah-Nya? Orang yang beriman tentu saja akan menjadikan doa sebagai salah satu jalan (wasilah) dalam meraih setiap keinginannya. Sebab dengan do'a, kita menjadi bagian dari setiap insan yang senantiasa beriman atas kekuasaan Allah.
Dalam satu hadits, Rasulullah SAW bersabda dalam Hadits Riwayat Abu Ya'la:
"Doa adalah senjata bagi orang mukmin, dan menjadi tiang kekuatan agama, dan sebagai cahaya langit dan bumi."
Orang yang berdoa, maka hatinya akan tentram.
Jiwanya akan merasa lapang dan terang. Sebab, dia merasa telah bersandar kepada Sang Pemilik dan Penguasa Alam Semesta, yang mengatur kehidupan ini, sehingga orang yang berdo'a akan terhindar dari stress, gelisah, dan perasaan takut atau khawatir. Dengan kata lain, orang yang berdo'a akan terjaga kesehatan mentalnya.
Dalam hadits yang lain Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh at-Thabrani:
"Tiada seorang yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa, kecuali akan dikabulkan-Nya; dia akan memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu: (1) dipercepat terkabulnya di dunia, (2) disimpannya untuk diberikan di akhirat, dan (3) diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa."
Orang yang beriman akan senantiasa meyakini, bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupannya adalah yang terbaik untuknya, karena semua diyakini merupakan kehendak dari Allah Swt.
Adapun bagi orang yang tidak berdo'a, maka berarti dirinya telah merasa cukup tanpa adanya peran serta Sang Maha Kuasa. Orang tipe ini sangat mudah terkena goncangan batin, stress atau bahkan putus asa. Sebab, segala urusan hidupnya hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri.
Di bulan ramadhan ini adalah bulan yang terbaik untuk memperbanyak do'a. Sebab, suasana batin kita sangat kondusif, yaitu sedang dekat dengan Allah. Terlebih, ada pernyataan dari Nabi SAW, bahwa do'a orang yang berpuasa termasuk yang mustajab. Seperti yang diriwayatkan at-Tirmidzi:
"Ada tiga orang yang tidak tertolak doanya: (1) orang yang berpuasa hingga berbuka, (2) seorang penguasa yang adil, dan (3) do'a orang yang teraniaya. Do'a mereka diangkat Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit, dan Allah berfirman: "Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera."
Dengan datangnya bulan yang penuh berkah ini, marilah kita gemar berdo'a, niscaya semua akan dikabulkan Allah Swt-"Insya Allah". Setidaknya menjadi pertanda keimanan kita sehingga jiwa ini tetap sehat dan hati tentram dalam menjalani kehidupan di dunia.
Ceramah Ramadan 6: Kemuliaan Nuzulul Quran
Dari dua belas (12) bulan yang ada dalam kalender agama Islam, Ramadhan merupakan bulan yang paling istimewa. Karena keistimewaannya, Ramadhan mendapat julukan sebagai sayyidus syuhur-raja atau pemimpin seluruh bulan.
Atas julukan ini, ada beberapa keistimewaan bulan Ramadhan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lain, antara lain: Pertama, karena Ramadhan dipilih sebagai bulan diturunkannya ayat pertama al-Qur'an (QS. al-Baqarah: 185).
Oleh karena itu, salah satu ibadah yang dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan adalah memperbanyak membaca al-Qur'an. Kedua, dalam bulan Ramadhan, ada suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan yang disebut malam lailatul qadar.
Nilai ibadah yang dilaksanakan di malam ini, lebih baik daripada nilai ibadah seribu bulan. Ketiga, ramadhan merupakan bulan istimewa, karena kebaikan-kebaikan yang dikerjakan bulan Ramadhan nilainya berlipat ganda.
Pada kesempatan ini penting bagi kita mengingat kembali peristiwa yang sangat bersejarah bagi umat Islam, yaitu malam pertama diturunkannya al-Qur'an oleh Allah Swt melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
Pada saat itu, tepat pada malam Jum'at bertepatan dengan hari ke tujuh belas Ramadhan, dan akhirnya kita kenal dengan malam Nuzulul Qur'an. Bila kita mengkaji kembali tentang peristiwa ini, pelajaran yang dapat dipetik adalah agar ketaqwaan kita semakin kuat dan keyakinan kita semakin mantap terhadap kitab suci al-Qur'an yang isinya memberi petunjuk bagi umat manusia serta pembela di antara perkara yang haq dan bathil.
Sebagaimana Firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. al-Baqarah [2]: 185).
Adapun ayat al-Qur'an yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surah al-'Alaq ayat 1 sampai 5. Al-Qur'an diturunkan ke bumi tidak sekaligus tetapi berangsur angsur, sedikit demi sedikit, bertahap, sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi Rasulullah SAW, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Israa, ayat 106:
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَلْنَاهُ تَنزِيلًا
"Dan al-Qur'an itu telah kami turunkan dengan berangsur angsur agar kamu membacakannya perlahan lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian". (QS. al-Isra [17]:106)
Dengan bertahap ini, maka al-Qur'an lebih mudah diterima dan mudah dihafal. Dan waktu itu, faktanya, banyak dari para sahabat Nabi yang hafal al-Qur'an. Namun di fase berikutnya, terjadi pertempuran antara orang Islam dengan kaum kafir dan musyrik yang menentang serta menghalangi dakwah Nabi hingga akhirnya banyak para sahabat Nabi yang gugur di medan perang sebagai syuhada', tak terkecuali para sahabat penghafal al-Qur'an.
Oleh karena itu, muncul sebuah gagasan untuk membukukan al-Qur'an sebagai suatu kitab, hingga pada gilirannya dapat dinikmati sampai sekarang ini, dan Allah senantiasa menjaga keaslianya.
Setelah mengetahui secara sekilas tentang proses turunya al-Qur'an, maka hendaknya kita mensyukuri kenikmatan luar biasa yang dilimpahkan oleh Allah kepada umat manusia melalui Rasulullah SAW yang berupa al Qur'an yang berisi petunjuk-petunjuk yang benar.
Dari itulah, kita sebagai umat Nabi Muhammad, patut kiranya hunjuk syukur yang senantiasa tercurahkan kepada Allah Swt, karena hingga kini masih menikmati keimanan dan keislaman kita.
Wujud terima kasih dan rasa syukur atas turunya al-Qur'an ini harus direalisasikan dalam kehidupan umat Islam sehari hari, yaitu dengan perlakuan yang sebaik-baiknya dan sungguh-sungguh, baik dalam membaca, memahami makna,mengamalkan isinya, mengajarkan dan mendakwahkan isi kandungan al-Qur'an, dengan harapan kelak di hari kiamat mendapat syafa'atnya.
Sebagaimana hadits Nabi yang artinya:
"Bacalah Al Qur'an, karena ia pada hari kiamat nanti akan datang untuk memberikan syafaat (pertolongan) kepada para pembacanya" (HR. Muslim).
Begitu besarnya fadhilah membaca al-Qur'an bagi para pembacanya. Terlebih lagi pada bulan ramadhan, bulan yang dipilih oleh Allah menjadi bulan diturunkannya ayat pertama al Quran, ibadah yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak membaca al-Qur'an, di samping memperbanyak melakukan kebaikan yang lainnya.
Dalam hadist yang lain Rasulullah menjelaskan: "Seorang mukmin yang membaca al-Qur'an dan mengamalkan isinya ibarat buah jeruk manis, rasanya enak dan baunya harum. Sedangkan, orang mukmin yang tidak membaca al-Qur'an tetapi mengamalkan isinya, ibarat buah kurma, rasanya enak dan manis tetapi tidak ada baunya.
Adapun perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur'an maka ibarat minyak wangi, baunya harum tapi rasanya pahit. Sedangkan, orang munafik yang tidak membaca al-Qur'an ibarat buah kamarogan, rasanya pahit dan baunya busuk" (Hadits Shahih riwayat al Bukhari, Muslim, Al Tirmidzi, Abu Dawud, Al Nasai, Ibnu Majah, Al Darimi dan Ahmad).
Allah sangat memuliakan orang-orang yang membaca Al-Qur'an dan Allah mengakuinya sebagai Ahlullah (keluarga Allah) di dunia, dan Allah memberi kedudukan yang sangat mulia kepada para penghafal al-Qur'an, sebagaimana hadis riwayat Abu Hurairah RA:
"Barangsiapa berharap bisa bertemu dengan Allah maka hendaknya menghormati keluarga Allah" Seseorang bertanya Ya Rasul Allah, apakah Allah Azza wa Jalla mempunyai keluarga?
Beliau menjawab Keluarga Allah di dunia adalah mereka yang membaca Al Qur'an ketahuilah, barangsiapa menghormati merek, maka dia dihormati Allah dan diberi surga. Dan barangsiapa menghina mereka, maka dia dihinakan Allah dan dimasukan ke dalam neraka.
Hai Abi Hurairah, tidak ada seorangpun di sisi Allah yang lebih mulia daripada penghafal Al qur'an. Dan ketahuilah, sesungguhnya penghafal Al Qur'an di sisi Allah adalah lebih mulia daripada siapapun, selain para Nabi" (HR. Bukhari).
Dengan begitu, semangat Ramadhan dengan sekian kemuliaan di dalamnya, rasa-rasanya kita harus senantiasa berkhidmat atas diturunkannya al-Qur'an ini. Momentum Ramadhan, sebagai bulan turunnya al-Qur'an (Nuzulul Qur'an) pertama kali ke bumi, patut bersyukur, membaca, dan mengamalkan isi kandungannya.
Ceramah Ramadan 7: Refleksi Diri, Raih Kemenangan Hakiki
Ramadan menjadi bulan yang dinanti oleh umat muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Indonesia merupakan negara yang secara mayoritas berpenduduk Muslim, tak ayal bila bulan suci menjadi penantian panjang bagi masyarakat negeri ini.
Penantian panjang dalam menyambut bulan suci bukan sekedar omong kosong belaka, karena berbagai tradisi muncul di negeri ini tatkala menyambut bulan Ramadhan. Tradisi ini memunculkan keragaman unik di tengah masyarakat. Keunikan tradisi terus bertransformasi menuju perubahan sosial yang tetap dijaga baik dan sejalan dengan agama. Mulai dari tradisi belah ketupat, mudik lebaran, dan sebagainya.
Namun dengan sekian perkembangan yang semakin maju, apakah keragaman tradisi ini mampu mendekatkan diri kepada Allah. Jika tidak, patut kiranya kita melakukan refleksi diri. Contohnya, tradisi unik di negeri ini adalah menyoal tentang mudik lebaran.
Dari tradisi mudik ini, apakah kita mampu mendekatkan diri dengan Sang Pencipta? Jika belum, segera kita evaluasi diri jangan sampai terlena. Karena itu, menyongsong mudik lebaran, perlu kita mempersiapkan diri baik secara materi, mental, maupun buah tangan untuk disedekahkan kepada sanak keluarga tatkala berada di kampung halaman.
Melalui momentum mudik lebaran ini seyogyanya kita lebih dekat dengan Allah Swt. Jika kita berkaca pada tradisi mudik lebaran yang selalu hadir dari tahun ke tahun, banyak masyarakat yang memiliki sikap hedonis dan pragmatis.
Pertama, sikap hedonis bisa dilihat dari maraknya masyarakat pada saat menjelang berakhirnya Ramadhan ramai memburu diskon di Mall, supermarket, toko pakaian, dan lainnya. Mereka seakan terlena dengan kondisi ini. Kedua, sikap pragmatis dapat kita lihat pada saat masyarakat menjalankan ibadah di bulan suci.
Di mana mereka menjalankan ritual ibadah hanya sesaat ketika di bulan Ramadhan. Tapi coba tengok, apakah masyarakat masih menjalankan ibadah di luar bulan suci secara simultan-melaksanakan sholat, sedekah, infaq, dan ibadah lainnya.
Inilah realitas yang sedang kita hadapi. Artinya, keimanan kita masih belum terjaga dengan maksimal di luar bulan suci. Seharusnya, usai bulan suci Ramadhan, kita tetap dekat dengan Allah Swt, menjalankan ritual ibadah dengan khusuk'.
Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 186 berikut ini:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عني فإني قريب أجيب دعوة الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. al-Baqarah [2]: 186).
Dalam ayat di atas jelas, sesungguhnya Allah itu dekat dengan semua insan. Apabila kita ingin menjaga kualitas keimanan maka sempurnakanlah ibadah, baik dalam perbuatan, tindakan, ucapan, maupun penglihatan.
Oleh karenanya, sebagai seorang Muslim harus senantiasa menjaga keimanan dimanapun berada, baik ketika sedang bekerja maupun tatkala menjalankan praktik ibadah mahdah (ibadah wajib umat Islam-sholat, zakat, puasa, haji, sedekah, infaq, dan lainnya).
Untuk itu, di luar bulan suci, jika kita ingin mendapat maghfiroh (ampunan) dan kemuliaan di hadapan Allah, harus senantiasa mendekatkan diri dalam setiap hembusan nafas dan langkah kaki kita. Dengan demikian, arti bulan suci Ramadhan harusnya dijadikan momentum yang lebih mendekatkan diri kita kepada Sang Khaliq.
Sebab, melalui bulan suci setiap amal perbuatan yang kita lakukan akan berlipat ganda. Ladang amalan ini sangat nyata disekitar kita, bagaimana cara berpuasa dengan baik, tadarus al-Qur'an, shalat sunnah, shodaqoh, dan lainnya.
Janganlah momentum Ramadhan ini dijadikan sebuah tindakan yang riya' di hadapan orang lain, tetapi harus menjadi sebuah momen intropeksi diri dari tindakan-tindakan tersebut. Maka dari itu, momentum bulan suci harus dijadikan refleksi secara mendalam agar kita tergolong umat yang kembali suci (fitri) di saat menyambut lebaran tiba. Semoga!
Demikian 7 materi ceramah Ramadan berbagai judul menarik dan penuh makna. Semoga bermanfaat, ya.
Simak Video "Menyambut Idul Fitri dengan Jiwa Fitri dan Digital Ethics"
[Gambas:Video 20detik] (mep/mep)
