Bayi berusia 9 bulan berinisial ASA di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), mengalami pembengkakan pada tangannya hingga berlubang usai diinfus di RSIA Paramount Makassar. Kasus dugaan malapraktik ini telah dilaporkan ibu korban ke pihak kepolisian.
Sebelum melayangkan laporan polisi, ibu korban lebih dulu memberikan somasi kepada RSIA Paramount. Pihak rumah sakit diminta bertanggung jawab atas insiden yang dialami sang bayi.
"Meminta klarifikasi tentang kesalahan yang terjadi. Memberikan ganti rugi yang dialami baik material maupun non material dengan senilai Rp 500 Juta. Memperbaiki sistem dan prosedur agar kesalahan tidak berulang. Saya minta jawaban atas somasi ini dalam waktu 3 kali 24 jam sejak tanggal pengiriman," bunyi somasi orang tua korban kepada RSIA Paramount Makassar.
Dirangkum detikSulsel, Sabtu (21/2/2026), berikut 4 fakta tangan bayi bengkak hingga berlubang usai diinfus di RSIA Paramount Makassar:
1. Awal Mula Tangan Bayi Bengkak-Berlubang
Ibu korban, Nurjannah mengatakan anaknya mengalami demam tinggi dan muntah pada Senin (19/1). Dia kemudian membawa anaknya ke Klinik Nur Iksan di Jalan Katangka dan diberi rujukan ke RSIA Paramount.
"Setelah itu anak saya diberikan pengantar untuk ke Rumah Sakit Paramount untuk dirawat lebih lanjut karena panasnya itu sangat tinggi dan sudah diberikan obat dari klinik tapi demamnya tidak turun," ujar Nurjannah kepada detikSulsel, Jumat (20/2).
Dia langsung membawa anaknya ke RSIA Paramount usai diberi surat rujukan. Anaknya masuk ke Unit Gawat Darurat (UGD) hingga menjalani opname di ruang perawatan.
"Tiga hari di kamar perawatan terjadi pembengkakan di tangan kiri. Jadi dibuka jam sekitar siang jam 12 siang, ternyata demamnya muncul lagi jadi harus dilakukan pemasangan infus ulang di jam 02.00 malam. Di infus ulang di jam 2 malam itu sebanyak tiga kali tusukan percobaan," jelasnya.
Nurjannah yang menjaga anaknya menyaksikan perawat tidak berhasil memasang infus hingga 2 kali percobaan. Setelah dua kali gagal, perawat meninggalkan ruangan untuk memanggil petugas NICU.
"Jadi saya bertanya apa itu NICU? Perawat mengatakan khusus bagian bayi jadi saya bilang kenapa tidak dari awal panggil itu kalau kamu meragukan. Kalau seperti ini kan yang setengah mati anakku. Saya bilang begitu," katanya.
"Maksudnya, keluarga aku yang melihat kayak marah-marah juga. Singkat cerita, orang NICU yang berhasil memasukkan itu cairan sanmol dan antibiotik," tambah Nurjannah.
Infus yang akhirnya berhasil dipasang untuk pemberian obat sanmol dan antibiotik dengan tetesan cepat. Tidak berselang lama setelah cairan masuk, tangan bayinya kembali terlihat membengkak sehingga infus segera dilepas.
"Menurut dokter, diinfus di luar vena atau dari vena tembus ke dinding dalam kulit. Makanya cairan sanmol itu dan antibiotik yang menumpuk di bawah kulit. Tapi cuman sebentar terpasang, pas habis sanmol sama antibiotik langsung cepet juga dibuka," bebernya.
Dia menuturkan dokter kemudian memberikan salep pada tangan anaknya yang bengkak. Namun kondisi tangan anaknya tidak membaik, justru semakin memburuk.
"Di situ awal mulanya terjadi pembengkakan dan diberikan salep sama dokter tapi makin parah. Sampai terakhir mau pulang itu diganti salepnya lagi, masih tetap parah," katanya.
Simak Video "Video: Dugaan Malapraktik Usai Balita Meninggal Karena CT Scan"
(asm/asm)