Awal Mula Bayi 9 Bulan Masuk RS Paramount hingga Tangan Berlubang-Bengkak

Makassar

Awal Mula Bayi 9 Bulan Masuk RS Paramount hingga Tangan Berlubang-Bengkak

Sahrul Alim - detikSulsel
Jumat, 20 Feb 2026 14:59 WIB
Bayi 9 bulan dirawat di RSIA Paramount Makassar mengalami pembengkakan tangan setelah diinfus. Ibu korban menduga malapraktik dan mengajukan somasi.
Foto: Viral tangan bayi bengkak hingga berlubang usai diinfus di RSIA Paramount Makassar. (dok. istimewa)
Makassar -

Bayi berusia 9 bulan berinisial ASA menjalani perawatan di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Paramount Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), karena demam tinggi disertai muntah. Bayi itu diduga menjadi korban malapraktik lantaran tangannya bengkak hingga berlubang usai diinfus selama dirawat.

Ibu korban, Nurjannah mengatakan anaknya mengalami demam tinggi dan muntah pada Senin (19/1/2026). Dia kemudian membawa anaknya ke Klinik Nur Iksan di Jalan Katangka dan diberi rujukan ke RSIA Paramount.

"Setelah itu anak saya diberikan pengantar untuk ke Rumah Sakit Paramount untuk dirawat lebih lanjut karena panasnya itu sangat tinggi dan sudah diberikan obat dari klinik tapi demamnya tidak turun," ujar Nurjannah kepada detikSulsel, Jumat (20/2).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia langsung membawa anaknya ke RSIA Paramount usai diberi surat rujukan. Anaknya masuk ke Unit Gawat Darurat (UGD) hingga menjalani opname di ruang perawatan.

"Tiga hari di kamar perawatan terjadi pembengkakan di tangan kiri. Jadi dibuka jam sekitar siang jam 12 siang, ternyata demamnya muncul lagi jadi harus dilakukan pemasangan infus ulang di jam 02.00 malam. Di infus ulang di jam 2 malam itu sebanyak tiga kali tusukan percobaan," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Nurjannah yang menjaga anaknya menyaksikan perawat tidak berhasil memasang infus hingga 2 kali percobaan. Setelah dua kali gagal, perawat meninggalkan ruangan untuk memanggil petugas NICU.

"Jadi saya bertanya apa itu NICU? Perawat mengatakan khusus bagian bayi jadi saya bilang kenapa tidak dari awal panggil itu kalau kamu meragukan. Kalau seperti ini kan yang setengah mati anakku. Saya bilang begitu," katanya.

"Maksudnya, keluarga aku yang melihat kayak marah-marah juga. Singkat cerita, orang NICU yang berhasil memasukkan itu cairan sanmol dan antibiotik," tambah Nurjannah.

Infus yang akhirnya berhasil dipasang untuk pemberian obat sanmol dan antibiotik dengan tetesan cepat. Tidak berselang lama setelah cairan masuk, tangan bayinya kembali terlihat membengkak sehingga infus segera dilepas.

"Menurut dokter, diinfus di luar vena atau dari vena tembus ke dinding dalam kulit. Makanya cairan sanmol itu dan antibiotik yang menumpuk di bawah kulit. Tapi cuman sebentar terpasang, pas habis sanmol sama antibiotik langsung cepet juga dibuka," bebernya.

Dia menuturkan dokter kemudian memberikan salep pada tangan anaknya yang bengkak. Namun kondisi tangan anaknya tidak membaik, justru semakin memburuk.

"Di situ awal mulanya terjadi pembengkakan dan diberikan salep sama dokter tapi makin parah. Sampai terakhir mau pulang itu diganti salepnya lagi, masih tetap parah," katanya.

Nurjannah mengaku anaknya dirawat selama 7 hari di rumah sakit tersebut. Setelah demam dan muntah anaknya sembuh, muncul masalah baru karena tangan anaknya bengkak.

"Kami di situ kecewa karena 7 hari anak kami dirawat rumah sakit, hari ke 4 demam dan muntah sudah sembuh, datang lagi penyakit yang baru yang lebih fatal," katanya.

Nurjannah lalu meminta agar anaknya diobservasi satu hari tambahan karena khawatir dengan kondisinya. Permintaan itu dikabulkan pihak rumah sakit hingga anaknya dirawat satu hari lagi.

"Jadi kami diberikan ini observasi, nah begitu besoknya mau mi pulang sempat ji bapaknya ini marah di ruang perawat dan dia bercerita dengan dokter yang tusuk tangannya. Dan kami menyampaikan memang komplain bahwasannya besok lusa ada kenapa-napanya saya tuntut ko itu dengan rumah sakit," jelasnya.

Nurjannah mengaku telah mengirimkan laporan dan foto kondisi tangan anaknya ke pihak manajemen sebelum meninggalkan rumah sakit. Respons baru diterima setelah ia kembali ke rumahnya di Gowa.

"Tapi orang manajemen lama baru merespons nanti pada saat saya ada di rumah (di Gowa). Jadi saya di rumah dia chat untuk 'ibu bisa datang kembali untuk pemeriksaan lebih lanjut," katanya.

Dia memilih datang ke rumah sakit memeriksakan kondisi tangan anaknya pada hari jadwal kontrol. Nurjannah memilih anaknya diperiksa oleh dokter yang berbeda.

"Jadi dokter ganti obatnya dengan dokter yang sebelumnya ini. Mengganti obatnya dengan obat lain dan salepnya salep racik," katanya.

Namun hingga 5 hari setelah kontrol dan pemberian salep, kondisi pembengkakan lengan anaknya tak kunjung membaik. Kondisi itu juga dilaporkan ke pihak manajemen setiap hari.

"Singkat cerita, saya setelah dari kontrol lima hari saya di rumah pembengkakannya anakku itu makin parah. Tapi setiap hari fotonya, foto aktivitasnya hari-hari saya report ke salah satu orang manajemen," bebernya.

Pihak manajemen rumah sakit kembali meminta pasien datang dan menyampaikan bahwa cairan di tangan bayi kemungkinan harus dikeluarkan melalui tindakan operasi. Anaknya kemudian kembali dirawat di rumah sakit pada 5 Februari 2026.

"Saya kembali dan anakku sementara untuk persiapan operasi, saya di Paramount itu sudah lima hari tapi anakku belum dioperasi. Iya dirawat, diinfus. Persiapan operasi tapi ternyata lima hari kami di situ tangan anak kami belum dikerja," ungkapnya.

Pihak rumah sakit, kata Nurjannah, beralasan pembengkakan harus diturunkan terlebih dahulu. Apalagi, lanjutnya, pihak rumah sakit menunggu alat medis khusus bayi untuk operasi.

"Katanya diturunkan dulu bengkaknya baru bisa dikerja, dan katanya penundaan karena ada alat yang belum siap atau ready untuk dipakaikan ke bayi," katanya.

Singkat cerita, kata Nurjannah, tangan anaknya akhirnya dioperasi oleh dokter bedah umum. Cairan nanah yang dikeluarkan tidak terlalu banyak usai pembengkakan mengecil.

"Ini yang dikeluarkan (cairan) sudah tidak terlalu banyak karena sebagian itu sudah menjadi daging. Maksudnya sudah menjadi daging di kulit. Jadi saya sempat bilang 'dok, kalau sudah menjadi daging itu kesalahan dari pihak rumah sakit karena terlalu lama menindaki tangan anak saya'. Sementara saya di sini sudah lima hari," katanya.

Pascaoperasi, luka di tangan anaknya tidak dijahit atau berlubang. Menurut Nurjannah, dokter sengaja tidak menjahit luka karena terdapat sisa jaringan yang berpotensi keluar dan dikhawatirkan menimbulkan perdarahan jika ditutup sepenuhnya.

"Makanya dia tidak dijahit seperti foto yang beredar itu. Nah, sementara kan dipertanyakan proses operasi itu yang tidak dijahit berarti masih ada tindak lanjut. Sementara operasi yang dijahit itu berarti operasi yang sudah tuntas," menurut Nurjannah.

"Jadi saya bilang, 'dok, kalau begitu bisa dipertanyakan dong untuk ke depan operasi ulang begitu'. Tapi dokter bilang nanti kita lihat seiring perkembangan," sambungnya.

Nurjannah mengaku semakin kecewa karena anaknya kembali mengalami demam naik turun selama tujuh hari pascaoperasi. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya infeksi, namun pihak keluarga tidak mendapat penjelasan rinci terkait jenis dan penyebab infeksi tersebut.

"Maka dari situ saya menuntut pihak rumah sakit dan sebelum anak saya ditindaki lawyer saya sudah memberikan somasi untuk pertanggungjawaban kepada terhadap anak kami," katanya.

Atas rangkaian kejadian itu, Nurjannah melalui kuasa hukumnya melayangkan somasi kepada pihak RSIA Paramount. Dia menilai terdapat dugaan kelalaian medis dan ketidakkonsistenan penjelasan antara dokter dan manajemen rumah sakit.

"Iya makanya saya somasi itu pun somasinya 3 kali 24 jam tidak dibalas. Nanti pada saat saya mau keluar rumah sakit baru dibalas, nanti pada saat hari ke 7 di rumah sakit," imbuhnya.

Penjelasan RS Paramount

Sebelumnya, pihak RSIA Paramount Makassar telah menjelaskan kronologi tangan bayi tersebut mengalami pembengkakan hingga berlubang usai diinfus. Pihak rumah sakit menyebut kondisi itu terjadi karena bayi mengalami phlebitis alias peradangan pada pembuluh darah vena.

Humas RSIA Paramount Makassar Vian menjelaskan pasien masuk di UGD dan dipasangi infus di tangan kiri pada 19 Januari dengan keluhan panas tinggi disertai muntah. Infus kemudian dibuka pada 21 Januari malam karena terjadi phlebitis.

"Terus di tanggal 20 sampai 21 Januari obat masuk, tidak ada keluhan. Tanggal 21 Januari malam dilepas karena phlebitis (peradangan pada pembuluh darah vena)," kata Vian kepada detikSulsel, Kamis (19/2).

Vian menduga phlebitis di tangan bayi karena pergerakan pasien tidak terkontrol. Apalagi vena bayi susah ditemukan saat pemasangan infus.

"Kan anak-anak, bisa jadi pergerakannya tidak terkontrol dan venanya kecil, pada saat itu pemasangan infus memang agak sulit (ditemukan) venanya. Dan bengkak mi di jam 03.00," jelasnya.

Sementara bekas infus berlubang, kata Vian, terjadi usai pasien keluar dari rumah sakit saat tangan bayi masih bengkak pada 25 Januari. Saat itu, tangan bayi yang masih bengkak dianjurkan untuk dikompres selama rawat jalan.

"Terus nanti di tanggal 9 dokter memutuskan debridemen, diinsisi, nah inilah foto yang viral yang habis diinsisi (kondisi berlubang). Luka awal, itu baru selesai operasi di hari pertama," katanya.

Sekitar dua hari kemudian, lanjut Vian, bengkak sudah turun meski luka masih basah. Pada 11 Januari itu juga orang tua pasien melayangkan somasi.

"Somasinya itu ada tiga poin, klarifikasi, kompensasi, perbaikan SPO. Nilainya itu Rp 500 juta. Batas waktu 3 hari," pungkasnya.

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video: IDAI Ingatkan Pentingnya Vaksinasi Meski Si Kecil Sudah Diberi ASI"
[Gambas:Video 20detik]
(hsr/sar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads