Harga tanah di kawasan primer seperti Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta bisa mencapai ratusan juta rupiah per meter persegi. Kawasan tersebut menjadi salah satu lokasi dengan harga tanah termahal di Jakarta.
Head of Research & Consultancy PT Leads Property Service Indonesia Martin Hutapea mengatakan harga tanah di Jakarta sangat bervariasi, mulai dari sekitar Rp 3 juta hingga Rp 300 juta per meter persegi. Menurutnya, harga tersebut terbentuk mengikuti dinamika pasar.
"Harga tanah di Jakarta sangat lebar kisarannya dan secara umum bisa berkisar Rp 3 juta-an hingga Rp 300 juta-an per meter persegi," kata Martin kepada detikProperti, Minggu (6/9/2026).
Menurut Martin, harga tanah paling mahal berada di kawasan SCBD yang bisa mencapai sekitar Rp 300 juta per meter persegi. Tingginya harga tersebut membuat transaksi jual-beli tanah maupun properti di kawasan itu relatif jarang terjadi.
Sementara itu, tanah dengan harga paling murah tersebar di sejumlah wilayah Jakarta dan tidak terkonsentrasi pada satu kawasan tertentu. Salah satunya berada di sekitar perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi. Wilayah Marunda, Cilincing, juga menjadi salah satu kawasan dengan harga tanah yang relatif murah.
Martin menyebut harga tanah di kawasan tersebut berada di kisaran Rp 3 juta per meter persegi. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan terdapat lahan milik individu maupun tanah mentah yang ditawarkan dengan harga lebih rendah.
Tanah di kawasan tersebut umumnya dimanfaatkan untuk hunian individu, pergudangan, maupun toko berskala kecil. Harga tanah relatif rendah karena profil kawasan berada di segmen menengah ke bawah dan belum terdapat perkembangan komersial yang signifikan untuk mendorong kenaikan nilai lahan.
Kenapa Harga Tanah di SCBD Mahal?
Martin menjelaskan tingginya harga tanah di SCBD tidak terlepas dari aktivitas komersial yang berkembang di kawasan tersebut. Berbagai kegiatan ekonomi yang berlangsung membuat nilai lahan terus meningkat dalam jangka panjang.
SCBD menjadi lokasi berbagai aktivitas, mulai dari perkantoran, kunjungan tamu hotel, rekreasi di pusat perbelanjaan hingga aktivitas konsumsi individu dan rumah tangga dalam skala besar.
"(Harga tanah di Jakarta mahal) karena kegiatan ekonomi dan segmen yang terbentuk lebih tinggi ketimbang kota-kota lain," ujarnya.
Kawasan SCBD juga dipenuhi bangunan dengan fungsi mixed-use, mulai dari perkantoran, retail, hotel hingga apartemen. Perkembangan tersebut kemudian membentuk komunitas bisnis dan hunian dalam skala besar.
Menurut Martin, harga tanah pada dasarnya terbentuk dari interaksi permintaan dan penawaran. Ketika suatu lahan sudah dimiliki seseorang, pemilik biasanya memiliki ekspektasi tertentu terhadap nilai lahan tersebut.
"Jadi ada suatu harapan atau ekspektasi dari pemilik lahan akan nilai lahan tersebut," katanya.
(dhw/das)