Ada sebuah kota kuno di Eropa yang terkenal karena kisah pilunya, yakni Pompeii. Kota ini hancur bukan karena diserbu tentara musuh, melainkan disapu abu vulkanik dari gunung berapi.
Kota Pompeii merupakan situs bangunan kuno pada zaman Romawi Kuno. Letaknya ada di dekat kota Napoli yang sekarang berada di wilayah Campania, Italia.
Dahulu Pompeii dihuni sekitar 20.000 jiwa dan termasuk salah satu kota cukup besar di zamannya. Tak cuma rumah penduduk, kota ini memiliki sejumlah bangunan seperti amfiteater, kuil, pemandian umum, toko roti, hingga basilika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terletak di tepi laut, Pompeii disebut menjadi salah satu kota indah di Italia. Kota ini juga menawarkan pemandangan Gunung Vesuvius yang mempesona.
Namun, tidak disangka kalau gunung berapi tersebut justru menjadi petaka bagi ribuan warga Pompeii.
Kota Pompeii yang Lenyap dalam Sekejap
Pada tahun 79 Masehi, Gunung Vesuvius meletus dan memuntahkan abu vulkanik super panas, batu apung, serta gas beracun. Letusan tersebut jadi salah satu yang paling terkenal dan mematikan dalam sejarah.
Nahas, jarak antara Gunung Vesuvius dan Pompeii hanya sekitar 40 kilometer. Alhasil, abu vulkanik menyapu seluruh permukiman dan bangunan di kota tersebut dalam sekejap.
Di zaman itu, belum ada teknologi atau metode yang dapat memprediksi kapan gunung api meletus. Akibatnya banyak warga tidak sempat menyelamatkan diri kala Gunung Vesuvius memuntahkan lahar dan abu vulkanik.
Bencana alam tersebut mengakibatkan banyak korban jiwa. Mereka yang tidak selamat berakhir tewas akibat terkubur oleh abu vulkanik yang bersuhu tinggi.
Kota Pompeii yang indah berubah menjadi 'kuburan masal' dalam waktu singkat. Tak hanya mengubur warga yang tak sempat menyelamatkan diri, tapi juga melenyapkan seluruh bangunan.
Selama ribuan tahun, Pompeii terkubur oleh abu vulkanik beserta barang-barang seperti perhiasan emas, peralatan makan, tempat tidur, hingga lukisan. Tak ada yang mengetahui kota tersebut sampai akhirnya ditemukan secara tidak sengaja pada 1599 oleh Domenico Fontana yang tengah menggali saluran air untuk Sungai Sarno.
Dilansir Britannica, penggalian secara resmi dilakukan pada 1748 di bawah pemerintahan Raja Charles III dari Spanyol. Kemudian pada 1860, metode penggalian dilakukan lebih rapi dan terarah setelah arkeolog Italia, Giuseppe Fiorelli mengambil alih kepemimpinan proyek pada 1863.
Hingga kini, para arkeolog masih menggali kota Pompeii yang tertimbun abu vulkanik selama ribuan tahun. Sisa-sisa bangunan yang sudah hancur menjadi saksi bisu betapa mengerikannya bencana alam letusan gunung berapi yang berlangsung dalam waktu singkat.
