Jauh di Dataran Tinggi Borneo Krayan, Kabupaten Nunukan, Suku Dayak Lundayeh memiliki sajian karbohidrat unik yang diwariskan turun-temurun. Namanya luba' laya'.
Ellias Yesaya, Budayawan Suku Dayak Lundayeh sekaligus Koordinator bidang sosial budaya di Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo Krayan (Formadat), membagikan kisah dan keunikan di balik sajian tradisional ini. Jika diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa Indonesia, luba' laya' berarti nasi lembek.
"Jadi mirip lontong dia. Tapi teksturnya lebih lembut dari lontong. masak luba' laya' hanya beberapa saat saja, tapi sambil diaduk waktu masih mendidih," terang Elyas kepada detikKalimantan, Selasa (17/2/2026).
Membuat Luba' Laya' bukan sekadar menanak nasi biasa. Ada teknik khusus yang harus dilakukan untuk mendapatkan tekstur lembut yang sempurna. Proses ini dimulai dari pemilihan alat dan bahan.
"Masyarakat biasanya memasak menggunakan periuk aluminium tebal yang disebut Lecang dengan takaran air yang lebih banyak dari menanak nasi normal. Saat air mendidih, beras tidak didiamkan, melainkan terus diaduk. Di sinilah letak keunikannya. Pengadukan dilakukan menggunakan alat kayu khusus bernama Kautan," ungkapnya.
Beras yang mendidih diaduk, dibalik, dan ditekan-tekan menggunakan Kautan selama kurang lebih satu jam. Proses ini membuat bulir beras hancur menyerupai adonan tepung. Menjelang matang, api kayu bakar harus dikecilkan hingga menyisakan arang atau abu panas saja agar bagian bawah nasi tidak gosong.
"Nasi yang sudah lembek diangkat, diaduk rata kembali, lalu dibungkus kecil-kecil dengan porsi di bawah setengah kilogram. Meskipun bisa dimasak menggunakan kompor gas dengan api sangat kecil, memasak menggunakan kayu bakar memberikan aroma dan cita rasa yang jauh lebih sedap," terangnya.
Simak Video "Menjelajahi Hutan Mencari Buah Lempasu di Kalimantan Utara"
(des/des)