Krayan merupakan salah satu kawasan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang menyimpan keindahan alam luar biasa. Berada di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia, daerah ini menawarkan panorama pegunungan, hamparan hutan hijau, hingga sumber air panas alami yang masih terjaga keasriannya.
Pesona alam Krayan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencinta petualangan. Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan, Krayan menawarkan keindahan sekaligus memperkenalkan kekayaan bentang alam Kalimantan yang masih alami.
3 Rekomendasi Wisata Alam di Krayan
Di Krayan ada banyak pilihan wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Namun setidaknya ada tiga destinasi yang kerap jadi incaran wisatawan. Mulai dari bukit, air terjun, hingga desa wisata, ketiganya bisa kamu temukan di Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara. Berikut rekomendasinya, dirangkum tim detikKalimantan:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Bukit Yuvai Semaring
Di Krayan ada bukit yang berhubungan erat dengan legenda orang Dayak Lundayah. Dari atasnya, bisa terlihat Krayan Induk dari ketinggian dan sunrise yang indah.
Bukit Yuvai Semaring lokasinya tidaklah jauh dari bandara Krayan yang juga memiliki nama yang sama, yaitu Bandara Yuvai Semaring. Bukit yang memiiliki ketinggian sekitar 1.100 mdpl itu terlihat jelas dari bandara.
Dari puncak Yuvai Semaring, wisatawan bisa melihat pemandangan indah. Kalau cuaca bagus, pengunjung bisa menikmati sunrise saat naik ke puncak subuh hari. Sunset atau matahari terbenam bisa dilihat sore hari sekitar pukul 5 sore waktu setempat.
Di jalur awal pengunjung akan menaiki anak tangga yang dibuat warga setinggi 300 meter. Setelah itu, barulah melewati jalanan setapak hingga ke puncak.
Udara begitu segar terasa, hingga kabut mulai menipis dan dari kejauhan akan terlihat puncak-puncak pegunungan hijau melingkari Krayan. Dari atas bukit yang terletak di Kecamatan Krayan Induk, wisatawan bisa melihat dengan jelas seluruh Krayan yang terdiri dari lima kecamatan.
Dalam arsip liputan detikcom, Budayawan Suku Dayak Lundayeh, Ellias Yesaya mengungkap bukit ini erat kaitannya dengan legenda orang Dayak di abad ke-15.
Nama Yuvai Semaring adalah orang suku Dayak Lundayeh yang selalu dituturkan dalam kisah rakyat secara turun temurun. Ia dianggap sebagai manusia yang mencapai tingkat kesaktiannya, menjadi manusia setengah dewa dalam kepercayaan animisme.
Ellias mengatakan bahwa Yuvai Semaring adalah sosok pahlawan besar secara harfiah maupun kiasan. Pengaruhnya sangat luas, bahkan rekam jejaknya merambah hingga ke Brunei Darussalam.
Sekedar diketahui, Suku Dayak Lundayeh merupakan suku asli yang menghuni wilayah Krayan, Kalimantan Utara.
2. Bukit Buduk Udan
Buduk Udan. (Laman Kemenpar/instagram BTN Kayan Mentarang) |
Dirangkum dari laman Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan media sosial Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang, Buduk Udan ada di Tang Paye, Desa Pa'Kidang, Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Buduk Udan merupakan sebuah tempat wisata di wilayah dataran tinggi Krayan yang baru mulai dipublikasikan pada bulan Februari tahun 2021.
Buduk Udan berada di luar kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) dengan jarak Β±1km. Buduk Udan diibaratkan negeri di atas awan, berada pada ketinggian 1.475 mdpl.
Buduk Udan merupakan salah satu bukit tertinggi di Krayan Baratdan jadi daya tarik di Desa Pa'Kidang. Saat berkunjung ke sini, mata kita akan dimanjakan dengan tumbuhan-tumbuhan karnivora, bunga-bunga dan pepohonan yang ragam macamnya.
Kita perlu berjalan dari Lokasi Tang Paye sejauh Β±5km menyusuri jalan setapak hutan yang telah dibuat masyarakat untuk mencapai Buduk Udan.
Buduk Udan. (Laman Kemenpar/instagram BTN Kayan Mentarang) |
Dari Tang Paye, pendakian sejauh 5 kilometer menuju Bukit Buduk Udan membutuhkan waktu sekitar satu jam. Pengunjung disarankan membawa logistik dan perlengkapan berkemah untuk menikmati petualangan ini secara maksimal.
Sepanjang perjalanan mendaki menuju puncak, pengunjung dimanjakan dengan pemandangan dari ketinggian serta melihat keberadaan bunga langka yakni Rafflesia Pricei.
Desa kecil ini dikelilingi persawahan dengan pemandangan yang indah dan eksotis. Mayoritas penghuninya orang asli Dayak Lundayeh.
Dalam bahasa dayak, Buduk Udan diartikan sebagai Bukit Hujan, sebab masyarakat setempat percaya bahwa jika di puncak bukit ini turun hujan maka tidak akan lama lagi hujan juga akan turun ke desa di Tang Paye.
Sejak 2023, Desa Pa'Kidang masuk dalam daftar 100 Desa Wisata Terbaik di Indonesia versi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Buduk Udan menjadi daya tarik utama baik bagi wisatawan lokal, luar daerah, hingga pengunjung dari negara tetangga, Malaysia.
Konsep wisata berbasis komunitas menjadi keunggulan desa, dengan menawarkan pengunjung pengalaman menginap di homestay, berinteraksi dengan masyarakat Dayak Lundayeh, dan menikmati kuliner rumahan khas daerah.
3. Air Terjun Paramayo
Banyak air terjun cantik di pedalaman Kalimantan Utara, salah satunya Air Terjun Paramayo. Air terjun ini berada di Desa Pa'Betung, Kecamatan Krayan Induk. Jika dihitung jaraknya dari Bandara Yuvai Semaring, sekitar 35 menit berkendara dengan mobil.
Menuju ke lokasi air terjun, traveler akan melewati jalanan dengan pemandangan gunung-gunung yang mengelilingi wilayah ini. Langit biru dan awan yang putih bersih menghiasi langit Krayan.
Setelah melewati wilayah pemukiman, pengunjung akan bertemu jalanan yang agak terjal di tengah hutan. Turut tersaji pemandangan hijau dan udara segar yang tak akan dijumpai di ibukota Jakarta.
Perjalanan dilanjut dengan berjalan kaki sekitar 15 menit. Samar-samar akan terdengar riuh aliran air yang mengalir di antara celah-celah batu. Air terjun ini mengalir indah di antara rimbunnya hutan.
Air Terjun Paramayo memiliki ketinggian sekitar 20 meter dengan 4 tingkatan. Di dekat air terjun terdapat rumah kecil yang dulunya digunakan untuk menyimpan alat hidrolik.
Dari atas puncak air terjun traveler bisa melihat aliran air yang jatuh di tiap tingkatannya. Juga hamparan pepohonan hijau begitu sedap dipandang mata.
Dulunya, air terjun ini rencana digunakan oleh PLN sebagai tenaga hidrolik untuk mengaliri listrik di Krayan. Namun karena jarak yang cukup jauh dan susahnya menebus kawasan hutan, membuat proyek ini dihentikan.


