Seorang mantan pemain BBM ilegal mengungkap dugaan modus pengalihan solar subsidi ke jalur industri yang disebut telah berlangsung terorganisir. Pengakuan itu muncul di tengah penyelidikan Polda Kalbar terhadap video viral dugaan pemindahan BBM dari mobil tangki merah putih ke mobil tangki biru di kawasan Jalan Transkalimantan.
"Mobil tangki industri biru berlabel PT Putera Petro Borneo itu milik putra pengusaha tempat hiburan malam terkenal di Pontianak," ujar mantan pemain BBM ilegal yang meminta identitasnya dirahasiakan itu, Selasa (26/5/2026).
Sumber tersebut mengaku mengetahui aktivitas distribusi BBM yang diduga dilakukan perusahaan terkait. Menurutnya, pemindahan BBM subsidi diduga biasanya berlangsung di wilayah Kedokok, Desa Subah.
"Mereka bongkar di Kedokok, Desa Subah, dekat air mancur Kimleng. Setelah dipindah ke tangki biru industri, biasanya disimpan dulu di gudang di Kubu Raya. Subuh baru diantar ke perusahaan-perusahaan dengan harga industri," katanya.
Ia menyebut praktik itu diduga dilakukan secara terorganisir menggunakan armada tangki berkapasitas besar. Solar subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat dan sektor tertentu diduga dialihkan untuk dijual ke perusahaan tambang dan perkebunan sawit dengan harga industri. Menurutnya, keuntungan dari praktik tersebut sangat besar.
"Kalau dijual ke perusahaan tambang dan kebun sawit bisa sampai Rp 24 ribu per liter. Margin keuntungannya sekitar Rp 17 ribu per liter. Kalau satu tangki 16 ribu liter dialihkan, nilainya bisa ratusan juta rupiah," ungkapnya.
Ia juga mengungkap dugaan modus lain untuk mengelabui pengawasan, yakni dengan mengganti segel mobil tangki setelah BBM dipindahkan.
"Kalau tangki biru sudah masuk gudang, segel langsung dibuka lalu diganti segel perusahaan mereka sendiri. Kadang di perjalanan juga pakai segel mirip Pertamina," ujarnya.
(des/des)