Mengenal Prosesi dan Makna Tradisi Baayun Maulid di Kalsel

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Minggu, 23 Agu 2026 20:45 WIB
Foto: Tradisi Baayun Maulid di Banjar Kalimantan Selatan. (dok Media Center Provinsi Kalsel)
Banjarmasin -

Baayun Maulid atau Baayun Maulud merupakan tradisi yang digelar untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW oleh masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan (Kalsel). Tradisi ini adalah perpaduan budaya luhur masyarakat Banjar dan nilai-nilai keislaman.

Artikel ini mengupas tuntas kekayaan tradisi tersebut, mulai dari tiga akar sejarahnya yang merupakan hasil akulturasi, tahapan pelaksanaannya yang sakral, hingga ragam perlengkapan ayunan yang sarat akan makna filosofis.

Apa Itu Tradisi Baayun Maulid?

Istilah 'Baayun Mulud' berasal dari gabungan kata 'baayun' yang berarti berayun atau bergelantungan, serta 'mulud' yang merujuk pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini merupakan peristiwa istimewa yang memadukan kebiasaan menidurkan bayi di buaian dengan pembacaan syair maulid dan selawat.

Masyarakat suku Banjar yang heterogen telah menjadikan Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka selama berabad-abad. Oleh karena itu, tradisi Baayun Maulid yang sudah ada sebelum masuknya Islam tetap dilestarikan karena telah diselaraskan dengan ajaran agama.

Pada awalnya, upacara ini diyakini oleh keluarga bangsawan Banjar dan golongan adat tertentu untuk menolak bala agar anak-anak tidak mudah sakit. Namun kini, banyak masyarakat luas yang turut berpartisipasi dalam acara di masjid ini sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT.

Asal-usul Baayun Maulid

Asal mula tradisi budaya ini dapat ditelusuri melalui tiga peristiwa penting yang mewarnai perjalanan sejarah peradaban Banua Halat. Berikut adalah tiga akar sejarah yang menjadi landasan utama pelaksanaan tradisi tersebut:

  • Upacara Aruh Ganal: Bermula dari upacara besar milik suku Dayak Kaharingan yang kini diisi dengan pembacaan syair maulid setelah masuknya Islam.
  • Penghormatan Datu Ujung: Menjadi penanda penting proses masuknya Islam melalui pelopor pendiri Masjid Al-Mukarramah yang disandingkan dengan peringatan 12 Rabiul Awal.
  • Akulturasi Kepercayaan Leluhur: Praktik animisme lawas yang diislamisasikan untuk mengajarkan nilai keagamaan dan menanamkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW sejak dini.




(bai/bai)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork