Mengenal Tradisi Baayun Maulid Masyarakat Banjar, Mengapa Anak Harus Diayun?

Kalimantan Selatan

Mengenal Tradisi Baayun Maulid Masyarakat Banjar, Mengapa Anak Harus Diayun?

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 20 Agu 2026 10:00 WIB
Prosesi Baayun Maulid/Maulud
Prosesi Baayun Maulid/Maulud. Foto: Dok. Media Center Provinsi Kalimantan Selatan
Banjarmasin -

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dirayakan dengan Baayun Maulid oleh masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Seorang anak ditempatkan di dalam ayunan dan diayun oleh orang tua atau keluarga sambil diiringi pembacaan Al-Quran, salawat, dan doa.

Mulanya sebelum menjadi tradisi Maulid Nabi, orang Banjar sudah terbiasa mengayunkan anak yang dikenal dengan Baayun Anak. Tradisi ini dilakukan sebagai bagian dari upacara kelahiran dengan tujuan memberi keberkahan, nama, mendoakan keselamatan, dan mengungkapkan rasa syukur atas kelahirannya.

Tradisi ini berkembang saat Islam masuk di Kalimantan. Para ulama melakukan proses akulturasi dari tradisi yang telah ada di tengah masyarakat Banjar. Baayun Anak masih dipertahankan, namun ditambahkan unsur-unsur keislaman di dalamnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dijelaskan dalam Akulturasi Dan Kearifan Lokal Dalam Tradisi Baayun Maulid Pada Masyarakat Banjar oleh Jamalie, seiring berkembangnya waktu, pelaksanaan Baayun Anak dipusatkan di masjid dan disandingkan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Anak tetap diayun, tapi prosesi itu kini diiringi pembacaan Al-Quran, salawat, serta doa. Dari proses inilah kemudian berkembang tradisi yang dikenal sebagai Baayun Maulid.

Fungsi Ayunan dan Maknanya

Baayun MaulidBaayun Maulid. Foto: Dok. Media Center Provinsi Kalimantan Selatan

Lalu, mengapa anak harus berada di dalam ayunan? Jika melihat kembali sejarahnya, mengayun adalah bagian dari upacara untuk memberikan nama, memanjatkan doa keselamatan, memohon keberkahan, sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran seorang anak.

Saat Baayun Maulid, anak diayun ketika rangkaian pembacaan maulid dan sholawat berlangsung. Orang tua menitipkan harapan supaya anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan dapat meneladani Nabi Muhammad SAW.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menjelaskan bahwa Baayun Maulid merupakan bentuk rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Salah satu harapannya adalah agar anak-anak Banjar ketika dewasa dapat mengikuti keteladanan Nabi Muhammad SAW dan berbakti kepada kedua orang tua. Karenanya, gerakan mengayun juga bisa dikatakan sebagai simbol harapan keluarga terhadap anak.

Ayunan dari Tapih Bahalai

Ayunan yang digunakan dalam Baayun Maulid punya bentuk khusus, bukan menggunakan ayunan bayi biasa. Melansir Media Center Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, ayunan Baayun Maulid dibuat menggunakan tapih bahalai atau yaitu kain sarung perempuan yang berukuran panjang. Kedua ujung kain diikat dengan tali atau pengait.

Kain ayunan terdiri atas tiga lapisan. Lapisan paling atas menggunakan kain sarigading atau sasiranganyang merupakan kain khas masyarakat Banjar. Ayunan lalu dihias menggunakan berbagai tumbuhan dan makanan, contohnya janur dari pohon nipah atau enau, daun atau bagian pohon kelapa, buah pisang, kue cucur, kue cincin, ketupat, serta hiasan lainnya.

Selain ayunan, terdapat pula perlengkapan yang disebut piduduk yang terdiri atas beras, gula merah, dan garam untuk anak laki-laki, sedangkan untuk anak perempuan ada tambahan minyak goreng.

Ada doa dan harapan di balik kain tapih bahalai yang dihias sasirangan, janur, pisang, ketupat, dan berbagai perlengkapan lainnya. Ada pula sejarah yang tidak bisa dipisahkan antara budaya Banjar dan Islam yang berpadu dalam tradisi Baayun Maulid.

Halaman 2 dari 2
(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads