Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat di berbagai daerah Indonesia.
Di Kalimantan, peringatan Maulid Nabi kerap berlangsung meriah dengan kegiatan keagamaan, berkumpul bersama keluarga dan masyarakat, hingga menyajikan beragam hidangan khas yang menggugah selera.
Sajian Kuliner Khas Maulid Nabi di Kalimantan
Setiap daerah di Kalimantan memiliki kekayaan kuliner yang beragam. Sajian yang dihidangkan saat perayaan Maulid Nabi pun dapat berbeda-beda, mengikuti tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat. Hidangan tersebut biasanya disiapkan untuk dinikmati bersama setelah rangkaian kegiatan keagamaan selesai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, makanan dalam tradisi Maulid Nabi bukan sekadar pelengkap acara. Di balik sajian yang tersaji, terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Masyarakat bersama-sama menyiapkan makanan untuk kemudian dibagikan atau disantap bersama.
1. Nasi Kuning Ayam Habang
Resep Nasi Kuning Banjar dan Haruan Habang Foto: detikfood/odilia |
Nasi kuning merupakan salah satu hidangan khas Indonesia yang memiliki beragam varian di setiap daerah. Di Kalimantan, khususnya di Banjarmasin, terdapat varian nasi kuning yang unik dan menjadi makanan khas daerah tersebut, yaitu Nasi Kuning Bumbu Habang.
Yang membedakan nasi kuning khas Kalimantan dengan varian lainnya adalah penggunaan bumbu habang sebagai pelengkap utamanya. Dalam bahasa Banjar, "habang" berarti merah, merujuk pada warna merah khas dari bumbu ini yang berasal dari cabai merah kering.
Biasanya, nasi kuning ini disajikan dengan lauk seperti ayam, telur, atau ikan gabus yang dimasak dengan bumbu habang. Pelengkap lainnya bisa berupa acar timun, kentang balado, serundeng, dan mie kuning.
Di Tabalong, ada tradisi makan batalam setiap Maulid Nabi tiba. Batalam adalah momen makan bersama dengan hidangan yang ditata rapi dan menarik, lalu disantap bersama-sama setelah rangkaian acara Maulid selesai.
Salah satu hidangan dalam makan batalam adalah nasi kuning yang dibentuk menyerupai tumpeng kecil, dilengkapi dengan lauk pauk seperti ayam masak habang, telur rebus, dan berbagai macam sayuran.
Dikutip dari laman Pemdes Bangkiling Raya, nasi kuning yang menjadi dasar hidangan melambangkan kemakmuran dan keberkahan. Lauk pauk yang beragam merepresentasikan keberagaman dalam masyarakat, namun tetap bersatu dalam harmoni.
2. Apam Barabai
Apam Barabai. (MMC Kota Palangka Raya / instagram @cemilankapuas_emy) |
Apam Barabai ialah kue tradisional yang kerap jadi oleh-oleh khas Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Apam Barabai merupakan kue basah berbentuk bulat dan tipis, dengan warna merah kecokelatan atau putih, dengan tekstur lembut.
Apam barabai kerap disajikan dalam acara selamatan, pernikahan, hingga peringatan keagamaan seperti Maulid Nabi. Selain itu, Apam Barabai juga menjadi bagian dari tradisi baayun anak, yaitu upacara adat ayunan bayi yang masih dilestarikan di Kalimantan Selatan.
Apam Barabai dibuat dengan bahan utama tepung beras, tape singkong, gula merah atau gula putih. Apam Barabai memiliki bentuk bulat dan tipis dengan warna cokelat muda atau putih, bergantung pada jenis gula yang digunakan dalam adonannya.
3. Wadai Kararaban
Wadai kararaban khas Banjar. Foto: Dok. Istimewa |
Setiap bulan Rabiul Awal tiba, masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan punya cara tersendiri untuk menyemarakkan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya dengan zikir, doa, dan pembacaan syair-syair maulid, tapi juga dengan menyajikan beragam hidangan khas yang sudah turun-temurun diwariskan.
Salah satu kudapan yang tidak pernah absen adalah wadai kararaban. Wadai dalam bahasa Banjar berarti kue, sedangkan kararaban adalah salah satu jenisnya yang unik karena taburan rempahnya.
Kue ini jadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan kepada Rasulullah. Setiap potongan wadai kararaban mencerminkan kekayaan kuliner sekaligus kearifan lokal masyarakat Banjar yang memaknai Maulid Nabi sebagai momentum penuh berkah.
Kue-kue tradisional Banjar memiliki filosofi yang erat dengan kehidupan sosial dan keagamaan. Dalam perayaan Maulid Nabi, masyarakat Banjar biasanya mengadakan acara besar-besaran yang disebut baayun maulid atau perayaan maulid bersama dengan berbagai rangkaian ritual. Di sinilah wadai kararaban hadir sebagai suguhan utama.
Konon, taburan rempah seperti adas dan kayu manis pada wadai kararaban melambangkan keharuman akhlak Rasulullah yang selalu dikenang sepanjang zaman. Aroma harum yang tercium dari wadai ini dianggap sebagai pengingat agar umat meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad SAW yang penuh kasih sayang, kelembutan, dan keteguhan iman.
4. Pacri Nenas
Pacri nenas. Foto: tangkapan layar akun Cookpad Ibu Asih @Asih_25620027 |
Namanya pacri nenas, atau beberapa orang juga mengenalnya dengan fajri nanas. Nanas yang segar dipotong dan dimasak bersama kuah gulai yang gurih. Pacri nenas yang unik kemudian menjadi makanan khas dari Kota Pontianak dan sekitarnya.
Dirangkum dari media sosial Balai Wilayah Sungai Kalimantan I Pontianak dan buku Etnomatematika Nusantara oleh Zaenuri Mastur, pacri nenas termasuk jenis sayur yang biasanya disajikan sebagai menu pelengkap dalam tradisi makan saprahan, yaitu tata cara makan bersama khas masyarakat Melayu Pontianak.
Pacri nenas biasanya dihidangkan saat acara-acara resmi seperti maulid nabi Muhammad SAW, acara 7 bulanan, acara aqiqah atau resepsi pesta pernikahan. Pacri nenas telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya pada tahun 2018, dengan kategori budaya Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.
Nah, itulah tadi daftar sajian kuliner khas Maulid Nabi di Kalimantan. Apakah kamu sudah menyantapnya?




