10 Tradisi Maulid Nabi di Indonesia, dari Sekaten hingga Baayun Maulid

10 Tradisi Maulid Nabi di Indonesia, dari Sekaten hingga Baayun Maulid

Devi Setya - detikHikmah
Selasa, 18 Agu 2026 13:15 WIB
Suasana Garebeg Maulud di Keraton Jogja, Jumat (5/9/2025). Tahun ini istimewa dengan kemunculan gunungan bromo.
Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jakarta -

Peringatan kelahiran Rasulullah SAW tidak hanya diisi dengan pengajian dan pembacaan sholawat, tetapi juga berkembang menjadi beragam tradisi yang lekat dengan budaya masyarakat di berbagai daerah.

Setiap wilayah memiliki cara tersendiri dalam menyambut Maulid Nabi. Ada yang menggelar arak-arakan gunungan, memasak makanan bersama, membersihkan benda pusaka, menghias perahu, hingga mengayun bayi sambil membaca syair Maulid.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tradisi Maulid di Indonesia

Berikut sejumlah tradisi Maulid Nabi yang dikenal di berbagai daerah Indonesia.

1. Sekaten di Yogyakarta

Dilansir dari laman resmi Dinas Kebudayaan Provinsi Jogja, Sekaten merupakan salah satu tradisi Maulid Nabi yang paling dikenal di Indonesia. Tradisi ini berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta.

ADVERTISEMENT

Di Yogyakarta, Sekaten menjadi rangkaian peringatan Maulid Nabi yang melibatkan berbagai prosesi, termasuk pembunyian gamelan pusaka. Rangkaian tersebut kemudian mencapai puncaknya dalam perayaan Grebeg Maulud.

Salah satu penjelasan mengenai nama Sekaten mengaitkannya dengan kata syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat. Ada pula pendapat yang menghubungkannya dengan sekati, nama perangkat gamelan yang digunakan dalam rangkaian tradisi tersebut.

2. Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Solo

Grebeg Maulud populer di Yogyakarta dan Solo. Dilansir dari arsip detikcom, ciri khas Grebeg Maulud adalah keberadaan gunungan yang diarak dan kemudian menjadi bagian dari perayaan masyarakat. Di Yogyakarta, terdapat beberapa jenis gunungan yang diarak dalam prosesi Grebeg Maulud, sedangkan di Surakarta bentuk gunungan yang digunakan berbeda.

Setelah prosesi selesai, masyarakat biasanya berebut isi gunungan. Tradisi tersebut menjadi salah satu daya tarik budaya yang terus dilestarikan dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi.

3. Panjang Mulud di Banten

Beralih ke Banten, terdapat tradisi Panjang Mulud yang berkembang di sejumlah wilayah, seperti Serang, Cilegon, Pandeglang, dan Lebak.

Panjang Mulud biasanya diwujudkan dalam bentuk hiasan yang dibuat secara kreatif oleh masyarakat. Hiasan tersebut dapat mewakili keluarga, kelompok masyarakat, lingkungan RT, hingga pengurus masjid.

Setelah dibuat, Panjang dapat diisi dengan berbagai barang, uang, makanan, maupun perlengkapan yang bermanfaat. Selanjutnya, hasil karya tersebut diarak dalam sebuah pawai sebagai bagian dari perayaan Maulid Nabi.

4. Panjang Jimat di Cirebon

Masyarakat Cirebon memiliki tradisi Panjang Jimat yang menjadi salah satu rangkaian penting peringatan Maulid Nabi.

Tradisi ini dilaksanakan di sejumlah lingkungan keraton di Cirebon, termasuk Keraton Kanoman, Kasepuhan, dan Kacirebonan. Rangkaian acaranya berkaitan dengan penghormatan dan penghayatan terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam pelaksanaannya terdapat pembacaan riwayat Nabi, Barzanji, kalimat thayyibah, sholawat, serta doa bersama.

5. Nyiram Gong di Cirebon

Selain Panjang Jimat, Cirebon juga memiliki tradisi Nyiram Gong.

Tradisi ini berupa proses membersihkan gamelan Sekaten di lingkungan Keraton Kanoman. Prosesi tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian kegiatan menyambut Maulid Nabi.

6. Baayun Maulid di Kalimantan Selatan

Tradisi Maulid Nabi di Kalimantan Selatan memiliki bentuk yang cukup unik, yakni Baayun Maulid.

Tradisi yang berkembang di masyarakat Banjar ini dilakukan dengan mengayun bayi atau anak sambil membaca syair Maulid. Kegiatan biasanya dilakukan di masjid atau tempat ibadah.

Tradisi tersebut menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus doa agar anak-anak tumbuh dengan akhlak yang baik dan dapat meneladani Nabi Muhammad SAW.

7. Bungo Lado di Padang Pariaman

Di Padang Pariaman, Sumatera Barat, terdapat tradisi Bungo Lado.

Nama Bungo Lado berasal dari bahasa Minang, dengan bungo berarti bunga dan lado berarti cabai. Namun, dalam tradisi Maulid Nabi, masyarakat membuat bentuk pohon yang dihiasi uang.

Selain Bungo Lado, masyarakat juga menyiapkan makanan secara bersama-sama.

8. Maudu Lompoa di Sulawesi Selatan

Masyarakat di Cikoang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, memiliki tradisi Maudu Lompoa.

Tradisi ini dikenal sebagai salah satu perayaan Maulid Nabi yang khas. Salah satu bagian yang paling mencolok adalah julung-julung, yakni perahu atau kapal kayu yang dihias dengan kain warna-warni dan diisi berbagai hasil bumi.

9. Membaca Al-Barzanji

Di sejumlah daerah, peringatan Maulid Nabi tidak hanya diwujudkan dalam bentuk tradisi budaya, tetapi juga kegiatan keagamaan seperti pembacaan Al-Barzanji.

Al-Barzanji berisi kisah dan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW. Pembacaannya biasanya dilakukan secara bersama-sama, disertai sholawat dan doa.

Tradisi semacam ini dapat ditemukan di berbagai daerah dengan bentuk dan tata pelaksanaan yang berbeda. Di Jepara, misalnya, pembacaan kitab Al-Barzanji menjadi salah satu tradisi yang dilakukan dalam rangka memperingati Maulid Nabi.

10. Masak Kuah Beulangong di Aceh

Di Aceh, salah satu kegiatan yang berkaitan dengan perayaan Maulid Nabi adalah memasak kuah beulangong.

Masakan khas Aceh tersebut dimasak secara bersama-sama menggunakan kuali berukuran besar. Proses memasak dikerjakan bergotong royong dan berkumpul masyarakat.

Setelah selesai, makanan dapat dinikmati bersama oleh masyarakat sebagai bagian dari suasana perayaan Maulid Nabi.



(dvs/kri)
Maulid Nabi

Maulid Nabi

135 konten
Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi satu hari besar Islam yang jatuh pada September 2024. Peristiwa penting dalam sejarah Islam ini dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads