Mengenal Sapundu dan Sederet Larangannya

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Minggu, 12 Jul 2026 07:00 WIB
Patung sapundu di Desa Tumbang Malahoi/Foto: Dokumentasi Febrina dkk. dalam penelitian Fungsi Sapundu pada Ritual Tiwah di Desa Tumbang Malahoi (The Function of Sapundu in the Tiwah Ritual in Tumbang Malahoi Village)
Palangka Raya -

Selain kekayaan alam, Kalimantan juga memiliki ragam seni ukir dengan fungsi yang berbeda-beda. Salah satunya adalah sapundu yang digunakan dalam upacara Tiwah untuk mengantarkan roh menuju Sang Pencipta.

Tampak dari luar, sapundu terlihat seperti patung biasa. Ukirannya berbentuk manusia, sengaja dipahat dari kayu ulin atau kayu keras lain yang tahan terhadap perubahan cuaca. Patung ini punya fungsi khusus bagi masyarakat Dayak Ngaju yang tidak boleh digunakan sembarangan.

Ada aturan tidak tertulis yang melarang siapapun untuk menghina, merusak, atau memperlakukan sapundu secara sembarangan. Larangan tersebut bukan hanya didasari rasa hormat terhadap budaya, tetapi juga karena sapundu dipercaya menjadi bagian penting dalam prosesi sakral yang menghubungkan manusia dengan leluhurnya.

Mengenal Sapundu dan Bentuknya

Sapundu merupakan patung kayu tradisional yang dibuat oleh masyarakat Dayak Ngaju. Bentuk sapundu biasanya menyerupai sosok manusia, bisa laki-laki maupun perempuan. Beberapa Sapundu dibuat sangat detail mulai dari ekspresi wajah, pakaian, maupun perhiasan yang digunakan.

Berbeda dengan patung lainnya, sapundu memiliki fungsi religius sehingga pembuatannya tidak boleh dilakukan sembarangan. Dahulu sapundu hanya boleh dibuat oleh orang yang paham akan adat dan simbol-simbol spiritual masyarakat Dayak.

Setiap sapundu memiliki bentuk yang berbeda karena dibuat untuk mewakili seseorang atau keluarga tertentu. Ada sapundu yang menggambarkan seorang laki-laki memegang mandau dan tameng, ada pula yang memperlihatkan perempuan lengkap dengan kalung manik-manik, gelang, dan pakaian adat Dayak.

Ukiran pada sapundu juga sering dihiasi motif khas Dayak seperti sulur tumbuhan, burung enggang, naga, hingga motif geometris yang masing-masing memiliki makna filosofis. Tidak sedikit sapundu yang menampilkan ekspresi wajah tegas sebagai simbol keberanian dan kehormatan.

Berkaitan Erat dengan Ritual Tiwah dan Kesakralan Sapundu

Fungsi sapundu tidak dapat dipisahkan dari upacara Tiwah, yaitu ritual kematian dalam kepercayaan Kaharingan. Tiwah merupakan prosesi mengantarkan roh orang yang telah meninggal menuju Lewu Tatau atau alam keabadian menurut kepercayaan Dayak Ngaju.

Dalam upacara tersebut, sapundu berfungsi sebagai tiang tempat mengikat hewan kurban seperti kerbau atau sapi sebelum disembelih sebagai persembahan ritual. Hewan kurban dipercaya menjadi bekal sekaligus penghormatan terakhir bagi arwah yang sedang diantarkan menuju alam leluhur.

Setelah upacara selesai, sapundu biasanya tetap dibiarkan berdiri di sekitar sandung, yaitu rumah kecil tempat penyimpanan tulang-belulang leluhur setelah prosesi Tiwah selesai dilaksanakan. Itulah sebabnya di sejumlah desa adat Dayak Ngaju masih dapat ditemukan deretan sapundu yang berdiri di sekitar kompleks sandung sebagai penanda bahwa lokasi tersebut merupakan kawasan yang dihormati.

Walaupun sakral, bukan berarti masyarakat Dayak menyembah patung tersebut. Dalam kepercayaan Kaharingan, sapundu hanyalah media dalam pelaksanaan ritual adat. Namun begitu, karena pernah digunakan dalam prosesi keagamaan dan berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur, sapundu diperlakukan dengan penuh hormat.

Oleh karena itu, sapundu tidak boleh dipindahkan, dirusak, dipanjat, ataupun dijadikan bahan candaan. Di beberapa daerah, masyarakat juga menghindari menyentuh sapundu tanpa izin, terlebih jika masih berada di kawasan pemakaman adat.

Hingga sekarang, sapundu masih bisa detikers jumpai di berbagai wilayah Kalimantan Tengah, terutama di kawasan yang masih kuat mempertahankan tradisi Kaharingan, seperti Kabupaten Gunung Mas, Kapuas, Pulang Pisau, Katingan, Barito Selatan, Barito Timur, hingga sekitar Kota Palangka Raya.

Selain berada di desa adat, beberapa sapundu juga disimpan di museum sebagai koleksi budaya untuk tujuan edukasi, salah satunya tersimpan di Museum Balanga, Kalimantan Tengah.



Simak Video "Memasak Kuliner Tradisional Khas Palangkaraya Bersama Keturunan Dayak"

(sun/bai)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork