Patung Sapundu dan Fungsinya dalam Ritual Kematian Tiwah Masyarakat Dayak

Patung Sapundu dan Fungsinya dalam Ritual Kematian Tiwah Masyarakat Dayak

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Sabtu, 14 Feb 2026 12:59 WIB
Patung sapundu di Museum Balanga, Kalimantan Tengah.
Patung sapundu di Museum Balanga, Kalimantan Tengah. Foto: Dokumentasi Pemerintah Kota Palangka Raya
Samarinda -

Berbicara tentang kesenian masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, bukan hanya hampatung karuhei atau penyang yang punya fungsi sakral dalam ritual adat Dayak. Ada satu patung yang memiliki peran sangat penting dalam ritual adat, patung sapundu namanya.

Dalam tradisi masyarakat Dayak yang masih menganut kepercayaan Kaharingan, patung sapundu digunakan dalam upacara tiwah, yaitu ritual kematian untuk mengantarkan roh orang yang telah meninggal menuju alam baka. Karena digunakan langsung dalam prosesi adat Tiwah, patung sapundu punya kedudukan yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Dayak.

Fungsi Patung Sapundu dalam Upacara Tiwah

Berdasarkan berbagai kajian dari penelitian berjudul Fungsi Sapundu pada Ritual Tiwah di Desa Tumbang Malahoi (The Function of Sapundu in the Tiwah Ritual in Tumbang Malahoi Village), patung sapundu memiliki fungsi utama sebagai tiang pengikat hewan yang dikorbankan dalam prosesi tiwah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hewan ini bisa kerbau, sapi, atau babi, yang diikatkan pada sapundu sebelum disembelih sebagai bagian dari persembahan kepada roh leluhur. Di sinilah sapundu berperan sebagai simbol penghubung antara dunia manusia dan dunia roh.

Setelah upacara tiwah selesai, patung sapundu biasanya tidak dibuang. Patung tersebut akan diletakkan di depan rumah keluarga atau di depan bangunan sandung, dengan cara ditanam pada bagian bawahnya sehingga tampak berdiri tegak.

Penempatan sapundu di halaman rumah ini menjadi penanda bahwa keluarga tersebut telah melaksanakan tiwah bagi anggota keluarganya.


Patung sapundu di Desa Tumbang Malahoi.Patung sapundu di Desa Tumbang Malahoi. Foto: Dokumentasi Febrina dkk. dalam penelitian Fungsi Sapundu pada Ritual Tiwah di Desa Tumbang Malahoi (The Function of Sapundu in the Tiwah Ritual in Tumbang Malahoi Village)

Bahan Baku, Ukuran, dan Ciri Sapundu

Dari segi ukuran, patung sapundu tergolong besar, berbeda dengan hampatung karuhei dan penyang yang ukurannya kecil. Umumnya, tinggi patung ini mencapai lebih dari dua meter. Jika ditemukan sapundu yang lebih pendek, biasanya bagian bawahnya telah terpotong.

Beberapa koleksi patung sapundu bisa detikers temukan di Museum Negeri Provinsi Kalimantan Tengah Balanga. Di museum ini, tersimpan baik patung sapundu yang sudah tidak utuh maupun yang masih lengkap, bahkan sebagian di antaranya diperkirakan telah berusia ratusan tahun.

Di Mueum Balanga juga terdapat patung sapundu berbahan kayu ulin berwarna hitam natural dengan motif tokoh masyarakat yang mengenakan baju, celana panjang, dan penutup kepala, dengan kaki kirinya telah mengalami kerusakan. Ada pula patung bermotif perempuan yang pernah diberi cat putih, tetapi sebagian besar warnanya telah memudar, serta patung bermotif laki-laki yang bagian kepalanya hilang dan tubuhnya pecah, yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun.

Karena dibuat untuk kepentingan ritual dan dalam waktu yang terbatas, pengerjaan sapundu cenderung lebih sederhana dibandingkan patung Dayak lainnya. Fokus utamanya adalah pada fungsi, bukan pada detail yang rumit.

Aturan Motif dan Simbolisme

Mengutip dari Sekilas Koleksi Hampatung di Museum Negeri Provinsi Kalimantan Tengah Balanga yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Provinsi Kalimantan Tengah, pembuatan patung sapundu tidak dilakukan secara sembarangan.

Terdapat aturan khusus yang harus dipatuhi oleh para pemahat, terutama yang berkaitan dengan motif dan jenis kelamin hewan kurban. Aturan-aturan tersebut antara lain:

  • Jika patung sapundu bermotifkan laki-laki, maka hewan kurbannya adalah betina
  • Jika patung bermotifkan perempuan, maka hewan kurbannya adalah jantan
  • Jika bermotifkan binatang, seperti anjing atau harimau, hal ini melambangkan bahwa tokoh yang ditiwahkan semasa hidupnya sangat berpengaruh, terkenal, dan dermawan

Sebelum proses pemahatan dimulai, pihak keluarga biasanya sudah memberitahukan jenis hewan kurban yang akan digunakan. Informasi ini menjadi sumber acuan bagi pemahat dalam menentukan motif patung.

Representasi Sosok pada Patung Sapundu

Hal menarik dari patung sapundu adalah cara penggambaran sosok manusia di dalamnya. Tokoh-tokoh yang dipahat hampir selalu ditampilkan dalam sikap sopan, tanpa menonjolkan unsur senonoh. Banyak di antaranya digambarkan mengenakan pakaian adat lengkap.

Di beberapa daerah, bahkan ditemukan sapundu yang menggambarkan tokoh dengan seragam kolonial Belanda, seperti yang pernah ditemukan di wilayah Bangkal, Kabupaten Kotawaringin Timur. Hal ini menunjukkan bahwa sapundu juga merekam jejak sejarah masyarakat setempat pada masanya.

Penggambaran busana tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal, sekaligus menghargai status sosialnya semasa hidup.

Berdasarkan berbagai kajian dan penelitian, termasuk penelitian tentang fungsi sapundu di Desa Tumbang Malahoi, bisa disimpulkan bahwa patung ini merupakan simbol penghormatan tertinggi kepada orang yang telah wafat. Bukan hanya sebagai bentuk kesenian, tapi juga punya fungsi penting dalam tradisi Dayak di Kalimantan Tengah.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Mencoba Memberi Makan Beruang di Taman Wisata Palangkaraya dan Pengalaman Seru "
[Gambas:Video 20detik]
(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads