Asap dupa perlahan naik ke langit siang. Lantunan doa mengalun pelan, menyatu dengan wajah-wajah haru keluarga yang berkumpul di halaman rumah sederhana di Jalan G. Obos VIII, Bakung IV, Palangka Raya, Sabtu (11/7/2026) siang.
Di tempat itu, bukan sekadar sebuah upacara adat berlangsung. Keluarga Besar Upun Gawi sedang menunaikan janji kepada para leluhur melalui Ritual Tiwah, prosesi paling sakral dalam ajaran Hindu Kaharingan yang diyakini sebagai penghormatan terakhir bagi mereka yang telah berpulang.
Bagi masyarakat Dayak Ngaju, kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Roh orang yang meninggal diyakini masih menempuh perjalanan menuju Lewu Tatau, alam keabadian. Melalui Tiwah, keluarga mengantarkan arwah menuju tempat peristirahatan terakhir dengan penuh penghormatan, doa, dan pengorbanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun ini, Ritual Tiwah dilaksanakan untuk 20 orang almarhum dari Keluarga Besar Upun Gawi. Rangkaian prosesi memasuki tahapan puncak yang dikenal sebagai tabuh, ditandai dengan penyembelihan lima ekor kerbau pada Jumat (10/7). Prosesi tabuh berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 12 dan 13 Juli 2026.
Namun, Tiwah bukan hanya tentang ritual keagamaan. Di balik setiap doa, setiap tabuhan gong, dan setiap langkah prosesi, tersimpan nilai yang lebih besar: menjaga ikatan keluarga, memperkuat gotong royong, serta merawat identitas budaya yang telah hidup selama ratusan tahun.
Kerabat datang dari berbagai penjuru Kalimantan. Mereka bekerja bersama sejak jauh hari, membangun sarana ritual, menyiapkan perlengkapan adat, hingga memastikan seluruh rangkaian berjalan sesuai tuntunan leluhur. Semangat handep atau kebersamaan menjadi denyut kehidupan selama prosesi berlangsung.
Perwakilan Keluarga Besar Upun Gawi, Arton Dohong mengatakan Tiwah merupakan bentuk bakti kepada orang tua sekaligus amanah yang harus dijaga agar tidak terputus oleh perubahan zaman.
"Bagi kami, Tiwah bukan sekadar adat. Ini adalah bentuk penghormatan kepada orang tua dan leluhur agar perjalanan mereka menuju Lewu Tatau berlangsung dengan baik. Kami juga ingin anak cucu tetap mengenal dan mencintai budaya yang diwariskan para pendahulu," ujarnya, Sabtu (11/7/2026).
Suasana sakral itu turut dihadiri Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran. Kehadiran orang nomor satu di Bumi Tambun Bungai tersebut menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya masyarakat adat Dayak.
Di hadapan tokoh adat, tokoh agama, Majelis Agama Hindu Kaharingan, serta ratusan keluarga yang hadir, Agustiar menegaskan bahwa Ritual Tiwah bukan hanya tradisi keagamaan, melainkan warisan budaya yang menyimpan nilai spiritual, sosial, dan filosofi kehidupan.
"Tiwah adalah identitas masyarakat Dayak dan bagian dari kekayaan budaya Kalimantan Tengah yang harus terus kita jaga bersama. Di dalamnya ada nilai penghormatan kepada leluhur, gotong royong, persaudaraan, dan kearifan lokal yang menjadi kekuatan masyarakat kita," kata Agustiar.
Menurutnya, di tengah derasnya modernisasi, generasi muda harus tetap dikenalkan dengan tradisi leluhur agar tidak kehilangan akar budaya. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, lanjutnya, berkomitmen mendukung berbagai kegiatan adat dan keagamaan sebagai bagian dari upaya menjaga identitas daerah.
"Tiwah menjadi bukti bahwa kemajuan zaman tidak harus menghapus tradisi. Di halaman rumah sederhana keluarga Upun Gawi, doa-doa dipanjatkan, gong terus ditabuh, dan kebersamaan terjalin tanpa sekat," ujarnya.
Turut hadir dalam prosesi tersebut Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Iwan Kurniawan, Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden, unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, serta para tamu undangan.
Menjelang senja, ketika suara gong masih terdengar bersahut-sahutan, Ritual Tiwah seolah mengingatkan bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dijalankan. Di balik setiap prosesi, masyarakat Dayak menitipkan pesan lintas generasi: menghormati leluhur berarti menjaga jati diri.
Sebab, selama doa masih dipanjatkan, nilai handep tetap hidup, dan anak cucu masih memahami makna Tiwah, maka warisan budaya Dayak akan terus bertahan, menjadi penuntun masa kini sekaligus bekal menuju masa depan.
Ritual Tiwah adalah upacara adat sekaligus ritual keagamaan masyarakat Dayak, terutama penganut Agama Hindu Kaharingan dan suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Tiwah merupakan salah satu ritual paling sakral yang bertujuan mengantarkan roh orang yang telah meninggal menuju alam arwah yang dalam kepercayaan Kaharingan disebut Lewu Liau atau kampung keabadian.
Berbeda dengan pemakaman biasa, Tiwah umumnya tidak dilakukan segera setelah seseorang meninggal dunia. Jenazah lebih dahulu dimakamkan, kemudian setelah keluarga siap secara adat, spiritual, dan ekonomi, barulah dilaksanakan Tiwah. Upacara ini dapat berlangsung selama beberapa hari hingga lebih dari satu minggu.
Melihat Ritual Tiwah di Palangka Raya/ Foto: Istimewa |
Tujuan ritual Tiwah antara lain:
- Mengantarkan arwah leluhur menuju Lewu Liau agar memperoleh kedamaian.
- Menghormati dan membalas jasa orang tua atau anggota keluarga yang telah meninggal dunia.
- Mempererat hubungan kekeluargaan serta semangat gotong royong antarwarga.
- Menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan Sang Pencipta menurut ajaran Kaharingan.
Secara umum, prosesi Tiwah meliputi:
- Musyawarah keluarga untuk menentukan waktu pelaksanaan.
- Pembangunan sarana adat seperti balai dan tiang-tiang ritual.
- Penyambutan tamu adat serta pelaksanaan tarian dan musik tradisional.
- Persembahan dan doa yang dipimpin oleh pemuka agama Kaharingan.
- Pengambilan tulang-belulang dari makam pada pelaksanaan Tiwah tradisional.
- Pembersihan tulang-belulang dan penempatannya ke dalam sandung, yaitu rumah kecil khusus sebagai tempat penyimpanan tulang leluhur.
- Penutupan ritual dengan doa serta syukuran bersama.
Beberapa simbol penting dalam ritual Tiwah meliputi:
- Sandung, yaitu rumah kecil tempat menyimpan tulang-belulang leluhur setelah pelaksanaan Tiwah.
- Sapundu, yaitu tiang kayu berukir yang menjadi salah satu simbol penting dalam upacara.
- Gong, gendang, tarian, dan mantra adat yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian prosesi ritual.

