9 Senjata Tradisional dari Kalimantan: Mandau hingga Sumpit

9 Senjata Tradisional dari Kalimantan: Mandau hingga Sumpit

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Jumat, 03 Jul 2026 10:01 WIB
Mandau senjata tradisional suku Dayak di Kalimantan.
Mandau senjata tradisional suku Dayak di Kalimantan. Foto: Istimewa
Balikpapan -

Pulau Kalimantan menyimpan berbagai warisan leluhur yang patut untuk terus dilestarikan. Salah satu bukti kekayaan budaya yang paling menonjol adalah deretan senjata tradisionalnya.

Lebih dari sekadar alat untuk bertahan hidup, berburu hewan liar, maupun sarana bertempur di masa lampau, senjata-senjata ini merupakan simbol keberanian, penanda status sosial, hingga karya seni bernilai tinggi. Bahkan sebagian yakin ada nilai spiritual dalam senjata tersebut.

Berikut adalah 9 senjata tradisional khas Kalimantan yang hingga kini masih sering kita jumpai:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Mandau

Mandau hasil karya M Saini, perajin asal Kotawaringin Timur, Kalteng.Foto: Mandau hasil karya M Saini, perajin asal Kotawaringin Timur, Kalteng. (dok pribadi)

Mandau adalah senjata tradisional suku Dayak yang telah digunakan sejak abad ke-17 hingga ke-18. Mandau terdiri dari gagang, sarung, dan bilah logam.

Dikutip dari buku Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Timur oleh Suwardi dan Hasjim Achmat, mandau terbagi menjadi dua jenis. Pertama 'mandau adat' yang bersifat sakral, pantang sembarangan dikeluarkan, sering digunakan untuk peperangan di masa lalu, dan memiliki ukiran sarat makna. Kedua adalah 'mandau ladang' yang berfungsi praktis untuk kegiatan sehari-hari.

Selain itu, suku Dayak juga meyakini adanya 'mandau terbang', yaitu senjata mandau yang dikendalikan melalui ilmu gaib untuk menyerang musuh.

2. Duhung (Dohong)

Duhung, senjata tradisional Kalimantan BaratDuhung, senjata tradisional Kalimantan Barat Foto: Istimewa (dok Shutterstock/Tegar Maulana)

Duhung adalah senjata berbentuk belati lurus bermata dua dengan ujung menyerupai mata tombak dari suku Dayak Ngaju. Senjata ini dipercaya sebagai senjata tertua peninggalan leluhur dari kayangan, usianya konon lebih tua dari mandau.

Dahulu digunakan untuk perang, berburu, dan memotong tali pusar. Kini fungsinya telah berubah menjadi benda pusaka dan alat penting dalam ritual adat (seperti upacara Tiwah), yang hanya boleh disimpan oleh tokoh-tokoh penting.

3. Tangkitn

Tangkitn adalah senjata peninggalan suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat yang bentuknya sederhana menyerupai parang. Dijelaskan dalam penelitian Junaidi Agon di situs UPI, ciri khas utamanya adalah tidak memiliki gagang kayu atau tanduk, melainkan hanya dialasi lilitan kain merah.

Di balik kain inilah pemiliknya menyimpan benda-benda gaib atau pegangan ilmu batin pelindung. Dahulu digunakan untuk berperang atau tradisi memenggal kepala lawan (ngayo), namun kini keberadaannya sudah sangat langka.

4. Sungga

Dikutip dari situs Indonesia Travel, sungga adalah senjata tradisional khas masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Bentuknya unik menyerupai tongkat pendek yang dilengkapi dengan bilah tajam di salah satu ujungnya.

Pada zaman dahulu digunakan sebagai alat pertahanan diri sekaligus untuk berburu binatang, serta dipercaya melambangkan kekuatan dan keberanian pemiliknya. Kini, Sungga banyak disimpan sebagai benda pusaka dan barang koleksi bersejarah.

5. Ambang

Dilansir dari situs Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, ambang adalah sebutan untuk mandau yang terbuat dari bahan besi biasa. Secara kasat mata bentuknya sangat mirip dengan mandau asli, sehingga orang awam sering sulit membedakannya.

Namun, ambang tidak memiliki hiasan ukiran bertatahkan emas, perak, atau tembaga di bilahnya, serta bilahnya tidak sekuat atau selentur mandau asli. Karena bahannya yang lebih standar, parang ambang saat ini lebih sering dijadikan cenderamata.

6. Talawang

Ilustrasi suku Dayak. (dok Pemkot Palangka Raya)Tameng khas suku Dayak. (dok Pemkot Palangka Raya)

Talawang adalah tameng atau perisai pertahanan dari kayu ulin pelengkap mandau saat suku Dayak berperang. Bentuknya persegi panjang dengan ujung atas dan bawah yang meruncing.

Sisi luarnya diukir dengan motif magis seperti Burung Tingang atau Kamang (roh leluhur) yang dipercaya dapat membangkitkan keberanian pemakainya. Saat ini, talawang lebih banyak digunakan sebagai pajangan estetis dan properti tari tradisional.

7. Keris Bujak Beliung

Keris Bujak Beliung adalah senjata tradisional dari Kalimantan Selatan yang bentuknya mirip dengan keris dari Jawa atau Sumatera, memiliki panjang sekitar 30 cm, namun dengan jumlah luk (lekukan) yang lebih sedikit. Ciri khas utamanya terletak pada ukiran dan motif yang sarat akan nilai sejarah serta filosofi.

Dilansir dari Facebook Pusat Persenjataan dan Sejarah Militer, keris ini terbuat dari campuran besi dan logam, pembuatannya tidak sembarangan karena materialnya diberi mantra atau petuah oleh sang empu.

Dahulu keris ini digunakan sebagai senjata pertarungan jarak dekat dan pertahanan diri, namun kini beralih fungsi menjadi benda pusaka pelengkap dalam berbagai upacara adat. Keris yang asli diyakini memiliki kekuatan magis dan spiritual.

8. Lonjo (Tombak)

Lonjo adalah senjata tombak tradisional milik suku Dayak Kalimantan Tengah. Bagian ujungnya terbuat dari besi tempa yang tajam, disambungkan dengan gagang panjang dari bambu atau kayu menggunakan anyaman rotan.

Dahulu dipakai untuk berperang, dan dipercaya memiliki energi magis. Konon semakin banyak nyawa yang melayang dari ujung lonjo, semakin besar energi spiritualnya. Kini umumnya dipakai untuk berburu satwa dan dipajang di rumah.

9. Sipet (Sumpit)

Lomba Sumpit khas Dayak meriahkan HUT ke-80 RI di Krayan Selatan.Lomba Sumpit khas Dayak meriahkan HUT ke-80 RI di Krayan Selatan. Foto: Dok. Istimewa

Sipet merupakan senjata jarak jauh suku Dayak yang sangat efektif, senyap, dan mematikan. Bentuknya seperti tabung silinder panjang dari kayu berongga halus. Pelurunya bernama damek yang ujungnya diolesi racun mematikan dari getah pohon ipuh/iren.

Racun ini ditiupkan dan bisa menumbangkan target atau musuh dalam hitungan detik dari jarak hingga 200 meter. Saat ini fungsinya bergeser dari alat perang menjadi bagian dari cabang olahraga tradisional bernama manyipet.

Seiring berjalannya waktu dan pesatnya modernisasi, fungsi utama dari senjata-senjata tradisional Kalimantan perlahan telah bergeser. Meskipun tidak lagi digunakan di medan pertempuran benda ini masih disimpan sebagai pusaka, pelengkap ritual adat, hingga mahakarya seni bernilai estetis tinggi.

Halaman 2 dari 3
(bai/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads