Pesut Mahakam merupakan satwa endemik dan menjadi ikon Kalimantan Timur. Mamalia air tawar bernama ilmiah Orcaella brevirostris ini hidup di Sungai Mahakam dan aliran sungai kecil yang saling terhubung di sekitarnya.
Pesut Mahakam termasuk salah satu lumba-lumba air tawar paling langka di dunia. Berbeda dengan lumba-lumba laut yang hidup di perairan asin, pesut Mahakam menghabiskan seluruh siklus hidupnya di perairan tawar Sungai Mahakam.
Hewan ini memiliki ciri khas berupa kepala membulat tanpa moncong panjang dengan tubuh berwarna abu-abu. Sirip punggungnya kecil, serta panjang tubuh yang bisa mencapai sekitar 2 hingga 2,5 meter.
Sejarah Pesut Mahakam
Sejak ratusan tahun lalu, pesut telah hidup berdampingan dengan masyarakat di sepanjang Sungai Mahakam. Kehadirannya sering dianggap sebagai indikator kebersihan sungai karena pesut hanya mampu hidup pada perairan yang memiliki ketersediaan ikan dan kualitas lingkungan yang baik.
Sayangnya, populasi Pesut Mahakam terus mengalami penurunan. Ancaman terbesarnya berasal dari aktivitas manusia, seperti terjerat jaring insang, tertabrak kapal dan tongkang, pencemaran sungai, hingga berkurangnya habitat akibat perubahan bentang alam.
Karena populasinya yang terus menurun, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan Pesut Mahakam sebagai satwa berstatus Critically Endangered atau berada pada tingkat ancaman yang sangat tinggi menuju kepunahan di alam liar. Saat ini, setidaknya tercatat hanya ada 65 ekor pesut Mahakam yang masih bertahan.
Di samping statusnya sebagai satwa langka, pesut Mahakam juga dikenal oleh masyarakat Kalimantan Timur sebagai jelmaan dari dua anak malang. Cerita rakyat itu mengisahkan asal-usul kemunculan pesut di Sungai Mahakam atau yang lebih dikenal sebagai Legenda Pesut Mahakam.
Legenda Pesut Mahakam
Dari buku Rangkuman 100 Cerita Rakyat Indonesia, diceritakan dahulu kala di sebuah dusun di kawasan Rantau Mahakam, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang terdiri atas seorang ayah, ibu, serta dua orang anak, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Kehidupan mereka awalnya berjalan bahagia hingga suatu hari sang ibu meninggal dunia karena sakit.
Sejak kepergian istrinya, sang ayah kesulitan mengurus rumah tangga sehingga kehidupan keluarga itu menjadi tidak teratur. Beberapa waktu kemudian, di kampung mereka diadakan sebuah pesta adat yang dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan tarian.
Saat menyaksikan pertunjukan tersebut, sang ayah terpikat oleh kecantikan salah seorang penari. Setelah pertunjukan selesai, ia menghampiri perempuan itu untuk berkenalan. Keduanya kemudian saling menyukai dan memutuskan menikah.
Pada awalnya kehidupan keluarga kembali terasa utuh. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Setelah beberapa bulan menikah, ibu tiri mulai menunjukkan sifat aslinya. Ia sering memerintah kedua anak tirinya mengerjakan pekerjaan berat yang berada di luar kemampuan mereka. Kasih sayang yang seharusnya diterima kedua anak itu pun hilang.
Suatu hari, ibu tiri menyuruh kedua anak tersebut mencari kayu bakar di hutan. Mereka menuruti perintah itu sejak pagi. Karena tidak diberi bekal makanan, keduanya akhirnya kelelahan dan jatuh pingsan akibat kelaparan.
Beruntung, seorang kakek tua yang sedang melintas menemukan dan menolong mereka. Setelah sadar, sang kakek menunjukkan sebuah tempat yang dipenuhi buah-buahan agar mereka dapat mengisi perut terlebih dahulu. Seusai makan, kedua anak itu kembali mencari kayu bakar sebelum pulang ke rumah.
Menjelma Menjadi Pesut Mahakam
Sesampainya di rumah, kedua anak itu tersadar jika ayah dan ibu tirinya telah pergi meninggalkan mereka. Tanpa mengetahui ke mana tujuan keduanya, mereka memutuskan mencari sang ayah.
Perjalanan itu berlangsung selama beberapa hari. Pada hari ketiga, mereka menemukan sebuah pondok kecil di tengah perjalanan. Mereka menduga pondok tersebut adalah tempat singgah ayah dan ibu tirinya.
Karena sangat lapar dan tidak menemukan siapa pun di dalam pondok, keduanya masuk ke dapur. Di sana terdapat sepanci bubur yang masih hangat. Mereka pun memakannya untuk mengganjal perut.
Tidak lama setelah memakan bubur tersebut, tubuh kedua anak itu tiba-tiba terasa sangat panas. Mereka panik lalu berlari menuju sungai dan langsung menceburkan diri ke dalam air.
Keajaiban pun terjadi. Tubuh mereka perlahan berubah menjadi dua ekor ikan besar yang memiliki kepala menyerupai manusia. Dalam cerita rakyat yang dipercaya masyarakat Kutai, kedua jelmaan itulah yang kemudian disebut sebagai asal-usul Pesut Mahakam.
Tak lama kemudian sang ayah kembali ke pondok. Saat melihat barang-barang milik anak-anaknya tertinggal, ia segera menyusuri jejak mereka hingga ke tepi sungai. Di sana ia melihat dua ekor pesut berenang di permukaan air. Hatinya yakin bahwa kedua pesut itu adalah anak-anaknya sendiri.
Sang ayah sangat menyesali keputusannya menikah lagi tanpa mampu melindungi kedua anaknya dari perlakuan ibu tiri. Penyesalan itu datang ketika semuanya telah terlambat. Kedua anaknya telah berubah menjadi pesut dan tidak pernah kembali menjadi manusia.
Selain menjelaskan asal-usul Pesut Mahakam menurut kepercayaan masyarakat setempat, kisah ini juga mengandung pesan moral tentang pentingnya kasih sayang orang tua, kepedulian terhadap anak, serta penyesalan yang sering kali baru datang setelah kehilangan.
Simak Video "Bersantai Mengapung di Laut Derawan, Kalimantan Timur"
(aau/aau)