Sempat viral di media sosial, seekor mamalia air yang disebut-sebut sebagai pesut mahakam ditangkap dan diajak berjoget oleh seorang wanita. Rupanya mamalia itu adalah lumba-lumba tanpa sirip punggung atau finless porpoise.
Keduanya memang sama-sama termasuk kelompok Cetacea (paus dan lumba-lumba), sama-sama berukuran relatif kecil, dan sama-sama hidup di perairan Asia. Namun secara jenis, habitat, status konservasi, hingga tingkat keterancaman, keduanya jauh berbeda.
Lantas apa bedanya pesut mahakam dan finless porpoise? Yuk, simak informasi berikut ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan Pesut Mahakam dan Finless Porpoise
Setidaknya ada 6 perbedaan mendasar yang bisa kita lihat antara pesut mahakam dan finless porpoise, seperti yang dijelaskan oleh Rare Aquatic Species Indonesia (RASI):
1. Spesies dan Nama Ilmiah
Perbedaan paling mendasar terletak pada hubungan kekerabatan antar keduanya yang dapat dilihat dari nama spesies masing-masing.
- Pesut mahakam memiliki nama ilmiah Orcaella brevirostris.
- Finless porpoise memiliki nama ilmiah Neophocaena phocaenoides.
Keduanya berasal dari genus yang berbeda, dilihat dari kata pertama "Orcaella" dan "Neophocaena". Hal ini juga menjadi petunjuk bahwa jalur evolusi, karakter genetik, dan adaptasi ekologinya pun tidak sama.
2. Habitat
Habitat adalah perbedaan paling krusial dan paling sering disalahpahami oleh beberapa orang.
Pesut Mahakam:
- Hidup di air tawar, khususnya Sungai Mahakam dan anak-anak sungainya di Kalimantan Timur.
- Populasinya sangat terbatas dan tidak berpindah ke laut
- Sangat bergantung pada kualitas ekosistem sungai
Finless porpoise:
- Hidup di laut dangkal dan perairan pesisir, termasuk muara sungai
- Tersebar luas di perairan Asia Selatan dan Asia Timur
- Tidak hidup menetap di sungai air tawar seperti pesut mahakam
Dengan kata lain, jika mamalia tersebut ditemukan jauh di dalam Sungai Mahakam, hampir pasti itu adalah pesut, bukan porpoise.
3. Ciri Morfologi
Sekilas memang mirip, tetapi jika diperhatikan lebih detail, perbedaannya cukup jelas dan dapat dilihat dengan mata telanjang.
Pesut Mahakam:

- Kepala bulat dengan dahi menonjol, tanpa moncong panjang
- Memiliki sirip punggung kecil dan tumpul atau berupa tonjolan rendah
- Tubuh lebih besar, panjang bisa mencapai 2-2,75 meter
- Gerakannya cenderung lambat dan tenang
Finless porpoise:
Morfologi finless porpoise. (dok Toba Aquarium) Foto: Morfologi finless porpoise. (dok Toba Aquarium) |
- Tidak memiliki sirip punggung sama sekali.
- Memiliki tonjolan kasar memanjang di punggung (dorsal ridge).
- Ukuran tubuh lebih kecil, sekitar 1,5-1,9 meter.
- Kepala lebih kecil dan moncong sangat pendek.
Perbedaan sirip punggung inilah yang menjadi kunci utama untuk membedakan keduanya di habitat liar.
4. Persebaran Geografis
Di Indonesia, pesut mahakam hanya ada di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Populasinya terisolasi dan tidak terhubung dengan populasi lain, sehingga menjadi ikon daerah Kalimantan Timur.
Sementara itu, finless porpoise tersebar luas di Asia Selatan dan Asia Timur. Hewan ini juga ditemukan di perairan pesisir Indonesia, Malaysia, India, Bangladesh, hingga Tiongkok dan tidak bersifat endemik satu wilayah sempit.
Persebaran yang sangat terbatas inilah yang membuat pesut Mahakam jauh lebih rentan dan terancam.
5. Status Konservasi
Perbedaan status konservasi menunjukkan tingkat ancaman yang sangat kontras antara keduanya.
Pesut mahakam berstatus critically endangered (Kritis) menurut IUCN. Populasinya diperkirakan hanya sekitar 60 ekor di alam liar. Sedangkan finless porpoise berstatus vulnerable (rentan). Populasinya menurun, tetapi masih jauh lebih besar dibanding pesut mahakam.
6. Ancaman Utama
Pesut Mahakam:
- Terjerat jaring ikan (terutama rengge)
- Pencemaran sungai dan sedimentasi
- Lalu lintas kapal dan degradasi habitat sungai
Finless porpoise:
- Bycatch perikanan laut
- Aktivitas manusia di pesisir
- Pencemaran laut dan kebisingan kapal
Keduanya terancam oleh aktivitas manusia, tetapi pesut mahakam menghadapi tekanan lebih berat karena habitatnya sangat sempit.
Mengapa Pesut Mahakam bisa Hidup di Air Tawar?
Pernahkah detikers bertanya-tanya mengapa pesut mahakam bisa hidup di air tawar, tidak seperti lumba-lumba lainnya yang hidup di air asin?
Jawabannya terletak pada adaptasi evolusi dan fisiologis yang berkembang selama ribuan tahun, serta pre-adaptasi genetik Cetacea tertentu.
Pesut (termasuk Orcaella brevirostris) berasal dari nenek moyang Cetacea laut yang kemudian memasuki dan beradaptasi di lingkungan estuari (pertemuan sungai dan laut).
Pada akhir zaman es terakhir ribuan tahun lalu, perubahan garis pantai dan pola sedimen menyebabkan sebagian populasi lumba-lumba laut "terperangkap" di sungai besar seperti Mahakam.
Karena tidak bisa kembali ke laut, mereka pun beradaptasi secara bertahap dengan kondisi baru ini, lambat laun menjadi spesies yang benar-benar hidup di air tawar seperti yang kita kenal sekarang.
Makhluk laut umumnya terbiasa hidup di lingkungan yang kaya garam. Ketika berada di air tawar yang sangat rendah salinitasnya, otak dan ginjal harus bekerja secara berbeda untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh.
Untuk bertahan di air tawar, pesut membutuhkan kemampuan menangani osmoregulasi yang berbeda dari lumba-lumba laut. Hal ini juga dijelaskan dalam publikasi berjudul Habitat use and behaviour of the Irrawaddy dolphin, Orcaella brevirostris and the Indo-Pacific finless porpoise, Neophocaena phocaenoides off the west coast of Penang Island, Malaysia.
Pada habitat air tawar, pesut dan lumba-lumba sungai lainnya menghasilkan urine yang sangat encer untuk mengeluarkan kelebihan air yang terus masuk ke tubuh mereka secara osmosis.
Kondisi ini berbanding terbalik dari fisiologi lumba-lumba laut yang cenderung menghasilkan urine pekat untuk mengeluarkan garam berlebih.
Studi bioinformatika terbaru berjudul Analisis Bioinformatika NADH2 sebagai Penanda Seleksi Adaptif Pesut Perairan Tawar dan Pesisir oleh Budi dkk. juga menunjukkan bahwa adaptasi pesut mahakam terhadap lingkungan air tawar tidak hanya sekadar kemampuan survival, tetapi juga terkait dengan adaptasi genetik di dalam genom mitokondria, khususnya pada gen seperti NADH subunit 2 (nad2) yang berkaitan dengan metabolisme energi.
Itulah mengapa pesut mahakam bisa hidup dengan bebas di air tawar, bukan air laut seperti finless porpoise.
Dari berbagai perbedaan di atas, sekarang detikers sudah tau dan bisa membedakan mana pesut mahakam dan mana yang merupakan finless porpoise. Semoga bermanfaat!

