Soal legenda pesut mahakam, masyarakat di bantaran sungai juga mengenal versi lain yang menunjukkan masuknya pengaruh Islam dalam tradisi lisan.
Peneliti Sejarah Kalimantan Timur, Muhammad Sarip, mengungkapkan versi berbeda dari legenda pesut mahakam ia peroleh dalam perjumpaannya dengan seorang tokoh adat di pedalaman Kutai Kartanegara pada 2016. Saat itu, ia secara khusus menanyakan asal-usul legenda pesut mahakam.
"Tokoh adat tersebut menceritakan versi lain. Jika dalam cerita yang umum dikenal kutukan terjadi karena (putra putri) tidak sabar menyantap makanan panas, versi ini menyebut kutukan datang karena sebelum makan tidak mengucap basmalah," ujar Sarip.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sarip, perbedaan itu menunjukkan adanya proses adaptasi kepercayaan dalam tradisi lisan masyarakat. Versi pertama yang banyak dikenal cenderung merefleksikan sistem religi pra-Islam, sementara versi kedua telah memasukkan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari narasi.
"Ini mengindikasikan bahwa tutur lisan mengenai pesut mahakam turut mengalami adaptasi seiring perubahan religiositas masyarakatnya," jelasnya.
Keyakinan bahwa pesut mahakam merupakan jelmaan manusia juga diperkuat persepsi visual masyarakat terhadap bentuk fisik mamalia tersebut. Kepala pesut yang cenderung membulat dianggap memiliki kemiripan dengan anatomi kepala manusia.
Bentuk itu, bagi sebagian masyarakat, menjadi penanda bahwa pesut mahakam berada dalam fase transisi wujud dari manusia ke hewan. Pandangan tersebut kemudian menguatkan keyakinan bahwa pesut bukan sekadar satwa air tawar, melainkan makhluk yang memiliki ikatan historis dan spiritual dengan manusia.
Satwa liar yang populasinya sangat terancam itu menjadi simbol khas Provinsi Kalimantan Timur. Penyematan nama mahakam setelah nama pesut disebabkan habitatnya yang hanya satu-satunya di Indonesia, yakni di Sungai Mahakam.
"Masyarakat Samarinda tempo dulu menjadi saksi keistimewaan ini dari tepian Mahakam. Fenomena seru ini adalah hiburan natural bagi penduduk terutama anak-anak. Apalagi pesut mahakam bukan hewan buas," kata Sarip.
Menurut pengakuan seorang warga kepada Sarip, penduduk Samarinda menikmati pemandangan unik di sungai yang membentengi kota Samarinda hingga era 1970 -an. Itu sebelum masa keramaian lalu lintas kapal bermesin untuk perdagangan kayu bulat dan barang hasil hutan lainnya.
"Selanjutnya, kawanan pesut mahakam menyingkir ke pedalaman hulu Mahakam yang tidak terlalu gemuruh suara mesin kapal bermotor, meski area jelajahnya terbatas," ungkapnya.
Masyarakat Samarinda, Tenggarong dan lainnya di pesisir Sungai Mahakam menganggap pesut mahakam tak hanya sekedar satwa, tetapi juga sebagai hewan keramat sehingga tidak boleh ditangkap, diburu, dibunuh, maupun dikonsumsi yang menjadi identitas budaya.
Legenda-legenda tersebut terus diwariskan secara turun-temurun dan hidup berdampingan dengan pengetahuan ilmiah tentang pesut mahakam sebagai spesies endemik Kaltim.
Simak Video "Eksplorasi Jalanan Malam di Kawasan Tepian Berau, Kalimantan Timur "
[Gambas:Video 20detik]
(sun/bai)
